Beranda›Palangka Raya
Palangka Raya

Arboretum Nyaru Menteng: Menyusuri Hutan dan Jejak Konservasi Orangutan

Menjelajahi Arboretum Nyaru Menteng di Palangka Raya, kawasan hutan tropis yang menawarkan wisata alam sekaligus cerita konservasi orangutan.

Kawasan Arboretum Nyaru Menteng menjadi salah satu ruang konservasi penting bagi pelestarian orangutan dan keanekaragaman hayati Kalimantan Tengah.

RINGKASAN

  • Arboretum Nyaru Menteng menghadirkan suasana hutan tropis Kalimantan dengan beragam flora dan fauna.
  • Kawasan ini memiliki peran penting dalam upaya konservasi dan reintroduksi orangutan.
  • Jalur hutan, dermaga dan pengamatan satwa membuat kunjungan terasa seperti menjelajahi alam secara langsung.
Kawasan Arboretum Nyaru Menteng menjadi salah satu ruang konservasi penting bagi pelestarian orangutan dan keanekaragaman hayati Kalimantan Tengah. (Zafira Naya Adhisti/lingkarkalteng.com/CC0)

Di Jalan Tjilik Riwut Km 28, Palangka Raya, Arboretum Nyaru Menteng menawarkan pengalaman yang berbeda: masuk ke hutan, menyusuri jalur setapak, mendengar suara satwa, sekaligus melihat bagaimana sebuah kawasan alam menjadi bagian dari upaya konservasi Kalimantan.

Suasana hutan tropis Kalimantan di Arboretum Nyaru Menteng. (dok. Tripadvisor)
Suasana hutan tropis Kalimantan di Arboretum Nyaru Menteng. (dok. Emak Riweuh)
Suasana hutan tropis Kalimantan di Arboretum Nyaru Menteng. (dok. Media Center Palangka Raya)
Suasana hutan tropis Kalimantan di Arboretum Nyaru Menteng. (dok. Media Center Palangka Raya)

Begitu masuk, suasananya segera berubah. Pepohonan menaungi jalur, udara terasa lebih teduh, sementara suara burung dan gemerisik daun menjadi teman sepanjang perjalanan. Nyaru Menteng bukan tempat yang mengandalkan banyak wahana. Daya tariknya justru ada pada pengalaman berjalan perlahan dan melihat alam dari dekat.

Kawasan ini memiliki sekitar 139 spesies pohon dari 43 famili. Di antaranya terdapat geronggang, meranti, cemara dan tampan, termasuk sejumlah tumbuhan yang khas kawasan Kalimantan.

Yang membuat perjalanan semakin menarik adalah kehidupan yang bergerak di antara pepohonan. Lebih dari 89 jenis burung tercatat di kawasan ini. Selain itu, pengunjung dapat menemukan satwa seperti bekantan, owa Kalimantan, monyet ekor panjang, rusa, biawak hingga berbagai reptil.

Jadi, jangan datang hanya untuk berjalan. Sesekali berhenti, dengarkan suara dari atas pohon dan perhatikan gerakan kecil di sekitar jalur. Justru kejutan-kejutan seperti itulah yang membuat perjalanan di arboretum terasa berbeda.

Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. (dok. Yayasan BOS)
Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. (dok. Yayasan BOS)
Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. (dok. Yayasan BOS)
Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. (dok. Yayasan BOS)
Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. (dok. Yayasan BOS)

Di balik suasana hutannya yang tenang, ada cerita konservasi yang jauh lebih besar. Arboretum Nyaru Menteng menjadi lokasi reintroduksi sekitar 200 orangutan dan terkait dengan kegiatan penyelamatan serta pemulihan satwa yang kehilangan habitatnya.

Pengunjung tidak sekadar datang melihat orangutan. Ada proses panjang di baliknya—mulai dari penyelamatan, perawatan, rehabilitasi hingga upaya mengembalikan satwa ke lingkungan yang sesuai.

Karena itu, pengalaman di Nyaru Menteng terasa lebih lengkap ketika wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga memahami alasan kawasan ini harus dijaga. Jalur trekking dan dermaga kayu memberi kesempatan untuk menikmati lingkungan secara lebih dekat, sementara keberadaan berbagai satwa membuat setiap kunjungan bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Letaknya sekitar 40 menit perjalanan dari Bundaran Besar Palangka Raya, di Kelurahan Tumbang Tahai, Kecamatan Bukit Batu. Data pariwisata pemerintah juga mencatat kawasan ini memiliki fasilitas dasar bagi pengunjung.

Yang paling menarik dari Nyaru Menteng mungkin justru kesederhanaannya. Anda datang untuk berjalan di hutan, tetapi pulang membawa cerita tentang pohon, satwa dan orangutan—serta sedikit pemahaman bahwa hutan bukan sekadar pemandangan, melainkan rumah bagi kehidupan yang saling bergantung.

Berita Terkait