Kekeringan di Kalimantan Tengah memasuki persoalan yang lebih serius daripada sekadar berkurangnya hujan.
Memasuki 5 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menempatkan 12 dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I Oktober. Kabupaten Barito Timur dan Gunung Mas berada pada status Waspada; Barito Selatan dan Kota Palangka Raya berstatus Siaga; sedangkan Kapuas, Katingan, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Lamandau, Pulang Pisau, Seruyan dan Sukamara berada pada status Awas.
Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menyalurkan 5.753.650 liter air bersih hingga 1 Oktober 2026 kepada masyarakat yang mengalami keterbatasan pasokan air.
Dua data itu memperlihatkan satu hal penting: persoalan yang dihadapi Kalteng bukan lagi hanya berapa lama hujan tidak turun, melainkan berapa lama cadangan air mampu bertahan ketika hujan terus berkurang.
Kemarau Datang Lebih Awal, Lalu Memanjang
Kondisi tersebut sebenarnya sudah diproyeksikan sejak awal tahun.
Kepala BMKG Provinsi Kalimantan Tengah, Sugiyono menjelaskan pada awal musim kemarau 2026 bahwa musim kering diperkirakan datang 2–5 dasarian lebih awal dibandingkan kondisi klimatologis normal dan berlangsung 2–4 dasarian lebih panjang. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juli-Agustus, dengan durasi sekitar tiga hingga empat bulan.
Artinya, tanah, sungai, embung, rawa dan sumber air masyarakat mendapat waktu yang lebih panjang untuk kehilangan air sebelum hujan kembali stabil.
“Kemarau tahun ini datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang, sehingga cadangan air di permukaan maupun sumber air masyarakat menghadapi tekanan yang lebih besar,” terangnya.
Penjelasan itu sekarang memperoleh dukungan dari pengamatan aktual. Analisis Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut, Palangka Raya mencatat wilayah Kalimantan Tengah pada Dasarian III September 2026 secara umum mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter. Hujan kategori menengah hanya muncul di sebagian kecil wilayah, antara lain Kapuas bagian utara, Barito Utara bagian barat, Murung Raya dan sebagian Seruyan.
Pemantauan hari tanpa hujan juga menunjukkan rentang kondisi yang sangat lebar, dari hanya beberapa hari hingga terdapat lokasi yang masuk kategori kekeringan ekstrem, lebih dari 60 hari tanpa hujan.
Jadi, tidak semua desa mengalami kekeringan dengan cara yang sama. Ada wilayah yang masih mendapat hujan sesekali, sementara wilayah lain telah memasuki periode tanpa hujan yang jauh lebih panjang.
El Niño Membuat Hujan Makin Sulit Datang
Faktor cuaca regional kemudian memperkuat keadaan tersebut.
Dalam analisis terbaru yang diterbitkan BMKG pada 5 Oktober 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +3,44, sedangkan indeks ENSO tiga bulanan periode Juli-September mencapai +2,70. BMKG menyatakan kondisi itu menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Indeks IOD dasarian juga tercatat positif, yakni +0,99.
Sederhananya, pola atmosfer-laut sedang tidak mendukung turunnya hujan secara merata di wilayah Indonesia, termasuk Kalteng.
BMKG memprakirakan pada Dasarian I Oktober sebagian besar Kalteng masih berpeluang mengalami hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian. Kondisi hujan rendah juga masih diperkirakan terjadi di sebagian besar Kalteng pada Dasarian II, sementara pada Dasarian III wilayah Kalteng bagian selatan masih termasuk daerah yang berpotensi mengalami hujan rendah.
Untuk masyarakat, mekanismenya sederhana: lebih sedikit hujan berarti lebih sedikit air yang masuk kembali ke tanah dan badan air.
Sugiyono sejak awal juga merekomendasikan agar pengelolaan sumber daya air diperkuat, termasuk revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi dan penyediaan sumber air untuk kebutuhan masyarakat.
“Masalah kekeringan tidak hanya dilihat dari hujan yang turun hari ini, tetapi juga dari kemampuan wilayah menyimpan air untuk menghadapi periode kering berikutnya,” jelas Sugiyono.
Ketika Cadangan Air Mulai Habis
Di lapangan, efeknya mulai terlihat dalam bentuk yang lebih mudah dipahami warga.
Di sejumlah wilayah Pulang Pisau, misalnya, sumber air masyarakat dilaporkan mendangkal, mengering, bahkan berubah menjadi payau dan asin sehingga tidak layak digunakan untuk memasak maupun dikonsumsi. Pemerintah daerah kemudian menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak.
Di Barito Utara, pemerintah kabupaten juga membahas optimalisasi distribusi air bersih karena debit air baku menurun akibat musim kemarau.
Ini menjelaskan mengapa kekeringan dapat terasa berbeda dari satu tempat ke tempat lain.
Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, air permukaan menyusut. Debit sungai dan sumber air baku ikut turun. Pada wilayah tertentu, sumur dan sumber air dangkal tidak lagi menghasilkan air dengan jumlah atau kualitas yang sama. Di wilayah pesisir dan rawa tertentu, penyusutan air tawar juga dapat membuat air menjadi payau atau asin.
Dengan kata lain, hujan adalah awal masalah, tetapi yang dirasakan warga adalah hilangnya cadangan air.
Gambut Membuat Masalah Semakin Rumit
Kalimantan Tengah juga memiliki persoalan khusus: sebagian wilayahnya berada pada ekosistem gambut.
Lahan gambut pada dasarnya menyimpan air. Tetapi ketika tata air terganggu dan muka air turun, gambut menjadi jauh lebih kering dan lebih mudah terbakar. Pemerintah sebelumnya telah mendokumentasikan pentingnya menjaga tinggi muka air gambut dan memperbaiki tata air melalui pembasahan kembali serta sekat kanal.
Bukti lapangan di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, memperlihatkan persoalan itu secara nyata. Ketika Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi pada 19 Agustus 2026, alat pengukur menunjukkan muka air gambut sekitar minus 0,99 meter, sementara kondisi ideal yang dirujuk dalam peninjauan tersebut berada di atas minus 0,4 meter.
Artinya, sebagian kawasan gambut tidak hanya menghadapi kekurangan hujan, tetapi juga kehilangan kemampuan menyimpan air pada kondisi optimal.
Di sinilah kekeringan kemudian bertemu dengan karhutla.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib menyebut kondisi lahan gambut dan vegetasi yang kering serta keterbatasan sumber air menjadi kendala penanganan kebakaran.
“Ketika sumber air semakin terbatas, penanganan kebakaran menjadi lebih berat. Karena itu pembasahan dan ketersediaan sumber air harus disiapkan sebelum kondisi menjadi lebih parah,” kata Ahmad Toyib.
Karhutla kemudian menciptakan masalah baru. Lahan terbakar membutuhkan pembasahan, tetapi ketika sumber air menyusut, operasi pemadaman justru semakin sulit.
Pemerintah telah mengerahkan personel, pompa, sumber air, water bombing dan operasi modifikasi cuaca. Namun OMC memiliki keterbatasan: operasi tersebut membutuhkan pertumbuhan awan yang mendukung. Pada September, OMC bahkan sempat tidak dapat dilakukan di Kalteng karena tidak terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai.
Karena itu, hujan buatan tidak bisa diposisikan sebagai satu-satunya jawaban.
Air Tangki Menyelamatkan Hari Ini, Bukan Menyelesaikan Masalah
Sampai 1 Oktober, pemerintah provinsi telah menyalurkan lebih dari 5,75 juta liter air bersih ke masyarakat. Distribusi dilakukan bertahap mengikuti kondisi dan kebutuhan lapangan.
Pada 3 Oktober, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran bahkan turun langsung menyalurkan bantuan air bersih bersama bantuan pangan, masker, vitamin dan layanan kesehatan di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Bantuan semacam ini sangat penting karena air adalah kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
“Distribusi air bersih harus mengikuti kebutuhan masyarakat di wilayah yang sumber airnya mengalami penurunan, sehingga bantuan benar-benar sampai kepada warga yang terdampak,” ujar Agustiar.
Namun distribusi air dengan tangki pada dasarnya adalah jembatan darurat. Persoalan berikutnya adalah bagaimana membuat wilayah mampu menyimpan air lebih lama setelah hujan datang.
Kementerian Pekerjaan Umum menyebut risiko kemarau panjang dapat menurunkan debit sungai, volume waduk dan cadangan air tanah. Karena itu, strategi mitigasi mencakup pengaturan tampungan air berdasarkan prioritas dan data, penguatan jaringan irigasi, penyesuaian pola tanam, percepatan sumber air alternatif dan optimalisasi bangunan air.
Untuk Kalteng, langkah itu perlu diterjemahkan secara lebih sederhana dan konkret. Air harus disimpan ketika tersedia, bukan baru dicari ketika sudah habis.
Itu berarti embung dan tampungan air harus berfungsi, jaringan air baku harus diperbaiki, sumur bor dibangun di lokasi yang tepat secara hidrogeologi, dan sumber air masyarakat harus dipetakan sebelum kemarau mencapai puncak.
Di wilayah gambut, penanganannya berbeda lagi. Air tidak cukup hanya dicari dari luar. Tata air harus diperbaiki agar gambut kembali mampu menahan air. Kementerian Kehutanan sendiri menempatkan pembangunan dan pengaktifan sumur bor sebagai bagian dari penguatan operasi karena sumber air permukaan semakin terbatas.
Ahmad Toyib juga pernah menegaskan bahwa pemadaman di gambut tidak cukup hanya mematikan api yang terlihat. Pembasahan dan pendinginan harus dilakukan untuk mencegah bara kembali menyala.
“Penanganan harus bergerak dari pemadaman ke pencegahan, termasuk memastikan sumber air, pembasahan lahan dan kesiapan sarana tersedia di lokasi rawan,” sebutnya.
Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Ada dua pekerjaan yang berjalan bersamaan.
Yang pertama adalah menyelamatkan kebutuhan hari ini. Memastikan wilayah yang kehilangan sumber air mendapat pasokan, menjaga ketersediaan air untuk sekolah dan fasilitas kesehatan, serta memetakan wilayah yang membutuhkan distribusi berulang.
Yang kedua lebih menentukan untuk bulan-bulan berikutnya. Yakni, menambah kemampuan Kalteng menyimpan air.
Pemerintah sudah memiliki sebagian instrumennya. Distribusi air, sumur bor, embung, OMC, operasi pembasahan dan perbaikan tata air. Yang dibutuhkan adalah memastikan semuanya tidak berjalan sendiri-sendiri.
Sebab kekeringan 2026 memperlihatkan satu pelajaran penting. Kalteng tidak tiba-tiba kehabisan air pada Oktober. Cadangan itu berkurang sedikit demi sedikit ketika musim kering datang lebih awal, hujan berada di bawah normal, El Niño menguat, hari tanpa hujan memanjang, dan sebagian wilayah tidak mampu mempertahankan air cukup lama.
Pada 5 Oktober 2026, BMKG masih memperingatkan kekeringan di 12 kabupaten/kota dan masih memprakirakan sebagian besar Kalteng mengalami hujan rendah pada awal hingga pertengahan Oktober.
Karena itu, pertanyaan publik kini bukan lagi kapan tangki air berikutnya datang. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, berapa lama cadangan air Kalteng dapat bertahan, di mana cadangan itu disimpan, dan apakah provinsi ini sudah menyiapkan cukup air sebelum hujan berikutnya benar-benar kembali?
Sumber: BMKG; Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah; BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Kehutanan; data dari lapangan.






