Berapa besar anggaran kesehatan? Uangnya digunakan untuk apa? Program apa yang diprioritaskan? Dan apakah pelaksanaannya benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat?
Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan melihat angka APBD. Karena itu, Lingkar Kalteng mulai membedah dokumen resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan secara bertahap.
Untuk tahap awal, ada tiga dokumen yang menjadi garis besar pembahasan; Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan Tahun 2025–2029, Renja Dinas Kesehatan Tahun 2025, dan Renja Dinas Kesehatan Tahun 2026. Ketiganya harus dibaca sebagai satu rangkaian.
Renstra merupakan peta jalan lima tahun. Renja merupakan rencana kerja tahunan. Dari sinilah masyarakat dapat melihat apa yang hendak dicapai pemerintah, program apa yang dipilih, serta bagaimana rencana tersebut diterjemahkan ke dalam kegiatan dan pendanaan.
Renstra Dinas Kesehatan sendiri menyebut dokumen tersebut sebagai dasar penyusunan Renja tahunan sekaligus acuan untuk pengendalian, pemantauan dan evaluasi pembangunan di lingkungan Dinas Kesehatan. Dengan demikian, isi Renstra nantinya dapat digunakan untuk menguji apakah pelaksanaan program sesuai dengan rencana yang telah dibuat.
Dokumen tersebut juga memetakan berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi Katingan, mulai dari masalah gizi dan stunting, pelayanan ibu dan anak, penyakit menular, penyakit tidak menular, hingga akses dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Pemerintah kemudian menetapkan sejumlah target yang dapat diukur. Salah satunya adalah penurunan prevalensi stunting, peningkatan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional, serta peningkatan penemuan dan pengobatan kasus TBC. Target-target tersebut menjadi penting karena memberikan ukuran yang dapat dibandingkan dengan hasil pelaksanaan di kemudian hari.
Artinya, masyarakat tidak hanya perlu mengetahui berapa uang yang dianggarkan, tetapi juga apa target yang harus dicapai dari uang tersebut.
Dari dokumen perencanaan ini, publik juga dapat melihat bahwa pekerjaan Dinas Kesehatan sangat luas. Bukan hanya pelayanan kepada pasien, tetapi juga pengelolaan fasilitas kesehatan, alat kesehatan, obat dan farmasi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, pengawasan pangan tertentu, pemberdayaan masyarakat, serta berbagai kegiatan penunjang pemerintahan.
Karena itu, angka anggaran total belum cukup menjelaskan ke mana uang kesehatan pergi. Pertanyaan berikutnya harus lebih spesifik.
Berapa untuk pelayanan kesehatan? Berapa untuk obat dan alat kesehatan? Berapa untuk pembangunan atau pemeliharaan fasilitas? Berapa untuk tenaga kesehatan? Berapa untuk belanja penunjang dan administrasi?
Dan yang paling penting; Apa hasil yang diperoleh masyarakat dari belanja tersebut?
Perbandingan 2025 dan 2026 menjadi penting karena kedua tahun tersebut berada dalam periode Renstra 2025–2029. Dari perbandingan tersebut kita dapat melihat program yang anggarannya meningkat, menurun, berubah, atau memperoleh prioritas baru.
Perubahan anggaran tidak otomatis berarti baik atau buruk. Namun setiap perubahan layak dipahami, terutama jika pada saat yang sama pemerintah menetapkan target pelayanan yang berbeda.
Artikel ini baru merupakan tahap awal. Selanjutnya, Lingkar Kalteng akan menelusuri dokumen tersebut satu per satu dan membandingkannya dengan dokumen anggaran serta pelaksanaan. Pembahasan akan bergerak dari program, kegiatan, subkegiatan, pagu, hingga mata anggaran, kemudian dilanjutkan dengan melihat apa yang benar-benar dilaksanakan dan berapa yang terealisasi.
Dengan demikian, pembaca tidak hanya mengetahui bahwa pemerintah memiliki anggaran kesehatan. Pembaca dapat melihat; uangnya berapa, untuk apa, bagaimana pelaksanaannya, berapa yang terealisasi, dan apa hasilnya bagi masyarakat.
Inilah tujuan rubrik Dokumen Publik; membaca dokumen pemerintah dengan bahasa yang mudah dipahami, kemudian membandingkan rencana dengan pelaksanaannya. Seri ini baru dimulai.
Dokumen yang digunakan:
1. Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Katingan Tahun 2025–2029↗






