Ada tempat wisata yang bisa dijelajahi dalam dua jam. Tanjung Puting bukan salah satunya.
Di taman nasional ini, perjalanan adalah bagian dari pengalaman. Dari Pangkalan Bun, wisatawan menuju Kumai, lalu berganti kendaraan dengan kelotok, perahu kayu yang menyusuri Sungai Sekonyer menuju hutan Tanjung Puting.
Tujuan utamanya memang orangutan. Tetapi sepanjang perjalanan, pengunjung berpeluang melihat bekantan, berbagai primata, buaya dan lebih dari 220 jenis burung. Dari sungai, hutan rawa Kalimantan terbentang seperti panggung yang bergerak perlahan.
Salah satu tujuan paling dikenal adalah Camp Leakey, pusat penelitian dan konservasi orangutan yang berdiri sejak 1971. Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui hutan untuk mencapai lokasi pengamatan.
Pilih dua cara menginap
Bagi pengunjung pertama kali, ada dua pilihan utama.
Pertama, tidur di kelotok. Ini pilihan yang paling khas Tanjung Puting. Perahu sekaligus menjadi kamar, ruang makan dan alat transportasi. Sejumlah operator menyediakan kamar privat, toilet, makanan, minuman, pemandu dan kru kapal. Beberapa houseboat juga menawarkan transfer Bandara Iskandar.
Kedua, menginap di lodge. Salah satu pilihan yang berada di kawasan taman nasional adalah Rimba Eco Lodge, di tepi Sungai Sekonyer, yang memang menjadi jalur menuju Camp Leakey.
Bagi wisatawan yang ingin hotel dengan fasilitas lebih lengkap, pilihan akomodasi tersedia di Pangkalan Bun. Arsela Hotel, misalnya, berjarak sekitar delapan menit dari Bandara Iskandar dan sekitar 20 menit menuju Pelabuhan Kumai.
Berapa lama?
Jangan memaksakan Tanjung Puting menjadi perjalanan pulang-pergi sehari.
Untuk menikmati sungai, hutan, trekking dan waktu pengamatan satwa dengan lebih leluasa, 2-3 hari lebih masuk akal. Pilihan beberapa malam di kelotok bahkan memungkinkan perjalanan dilakukan lebih santai tanpa harus kembali ke Kumai setiap sore.
Rute paling praktis
Bandara Iskandar → Pangkalan Bun → Kumai → kelotok → Sungai Sekonyer → Camp Leakey.
Karena kelotok menjadi bagian penting perjalanan, pemesanan sebaiknya dilakukan sebelum tiba, terutama pada periode liburan. Pastikan sejak awal menanyakan apa saja yang sudah termasuk: Tiket kawasan, kapal, pemandu, makan, transfer bandara, penginapan dan trekking. Paket operator berbeda-beda.
Yang perlu dibawa
Pakaian ringan dan cepat kering, sepatu atau sandal trekking, obat pribadi, obat nyamuk, tabir surya, jas hujan tipis, botol minum, kamera dan teropong.
Untuk fotografi satwa, lensa tele membantu. Tetapi jangan berharap setiap tikungan sungai menghadirkan orangutan. Mereka satwa liar, bukan petugas penyambut tamu.
Kapan datang?
Pagi dan sore adalah waktu yang paling menarik untuk aktivitas satwa. Namun kondisi perjalanan tetap bergantung pada cuaca, tinggi muka air, kondisi sungai, kebijakan pengelola dan situasi kawasan.
Karena itu, sebelum berangkat, cek informasi terbaru Balai Taman Nasional Tanjung Puting dan operator perjalanan yang dipilih.
Tanjung Puting bukan wisata untuk sekadar mencentang destinasi. Anda datang untuk melihat orangutan.
Tetapi, pengalaman yang membuat tempat ini berbeda justru dimulai sebelum orangutan muncul. Ketika jalan berakhir di Kumai, mesin kendaraan digantikan suara kelotok, lalu hutan perlahan mengambil alih seluruh pandangan.
Dan untuk beberapa jam berikutnya, sungai menjadi jalan raya, kelotok menjadi hotel, dan hutan menjadi tujuan.
INFO CEPAT
Lokasi: Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat.
Gerbang utama: Kumai.
Bandara: Bandara Iskandar, Pangkalan Bun.
Transportasi utama: Kelotok.
Durasi ideal: 2-3 hari.
Pilihan menginap: Kelotok, Rimba Eco Lodge, hotel di Pangkalan Bun/Kumai.
Atraksi utama: Orangutan, Camp Leakey, bekantan, hutan rawa, susur sungai.
Wajib dicek sebelum berangkat: kondisi kawasan, cuaca, akses sungai, kebijakan TNTP dan paket operator.








