Ketika musim kemarau membuat lahan cepat kering dan risiko kebakaran masih tinggi, Tim Markas Besar TNI menawarkan cara yang berbeda di Kotawaringin Timur, jangan bakar sampah organik, ubah menjadi pupuk.
Gagasan itu disampaikan Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut Brigadir Jenderal TNI (Mar) Citro Subono dalam rapat koordinasi penanggulangan karhutla dan kekeringan di Sampit, Rabu (16/9/2026).
Menurut Citro, tumpukan daun dan bahan organik yang biasanya dibakar saat membersihkan lahan dapat diolah menggunakan EM4 dan molase untuk mempercepat proses pengomposan. Hasilnya kemudian dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk.
“Teknologi tersebut memanfaatkan tumpukan daun dan bahan organik lainnya dengan bantuan EM4 serta molase untuk mempercepat proses pengomposan,” kata Citro.
Pendekatan itu ditawarkan di tengah kondisi Kotim yang masih menghadapi ancaman karhutla. Pemkab memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 30 September 2026. Laporan pemerintah daerah menyebut terdapat 33 titik api dan sembilan di antaranya masih belum tertangani saat status diperpanjang.
BMKG Kotim juga memprakirakan puncak kemarau berlangsung pada September, sementara awal musim hujan diperkirakan baru masuk dasarian II Oktober. Artinya, periode rawan kebakaran belum sepenuhnya lewat.
Citro menilai penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah api muncul.
“Jadi, jangan hanya berpikir bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana supaya api itu tidak muncul.”
Tim Mabes TNI yang bertugas di Kalteng hingga 26 September juga mendorong edukasi pencegahan diperluas kepada generasi muda dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan. Penggunaan media digital dinilai dapat memperluas jangkauan kampanye tanpa bakar.
Di lapangan, pemerintah Kotim sebenarnya sudah menyiapkan sarana pemadaman, termasuk ekskavator di setiap kecamatan. Citro mendorong alat tersebut dimanfaatkan untuk membuat sekat bakar dan embung. Keterbatasan air disebut menjadi salah satu kendala karena sebagian parit dan sumber air mengering selama kemarau.
Namun gagasan pengolahan sampah organik menawarkan logika berbeda. Mengurangi peluang api sebelum membutuhkan armada pemadam.
Teknologi tersebut masih merupakan pendekatan yang perlu diterapkan dan diuji pada skala masyarakat. Tetapi idenya sederhana, bahan yang biasanya menjadi alasan untuk menyalakan api justru diubah menjadi sesuatu yang bisa kembali ke tanah.
“Pesan kami adalah jaga dan lestarikan alam. Kalimantan, terutama Kotim, memiliki sumber daya alam yang luar biasa,” ujar Citro.
Dalam musim kemarau yang belum berakhir, mungkin pencegahan karhutla memang tidak selalu harus dimulai dengan air. Kadang cukup dimulai dengan keputusan untuk tidak membakar daun.(SM/*)






