Penampilan Aisyah Thisia Halijam, istri Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, dalam peragaan busana di Jakarta International Convention Center (JICC), kembali menjadi perbincangan di media sosial sejak awal Oktober 2026. Kritik muncul karena video tersebut beredar ketika karhutla masih melanda Kalimantan Tengah dan masyarakat menghadapi dampak asap.
Thisia tampil dalam rangkaian Kriyanusa 2026, pameran kerajinan Nusantara yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada 26-30 September di Jakarta.
Unggahan Media Sosial Memantik Kritik
Jejak perbincangan yang dapat ditelusuri mengarah pada unggahan akun Instagram @kaltengfeeds pada 9 Oktober. Unggahan tersebut menghubungkan penampilan Thisia dengan kondisi masyarakat yang menghadapi lonjakan gangguan kesehatan dan kebakaran lahan.
“Di tengah lonjakan kasus ISPA yang menembus angka 100 ribu jiwa serta dampak karhutla yang meluas hingga belasan ribu hektare, perhatian publik Kalteng tertuju pada respons para pejabat dan keluarganya…,” demikian potongan isi unggahan @kaltengfeeds.
Kritik yang muncul menyoroti jarak antara aktivitas di panggung peragaan busana dan keadaan masyarakat yang menghadapi dampak asap. Persoalannya bukan semata-mata hak seseorang mengikuti kegiatan publik, melainkan ekspektasi terhadap kepekaan dan komunikasi figur yang berada dekat dengan pusat kekuasaan daerah.
Bahkan, ada sejumlah komentar warganet dengan nada keras. Salah satunya menyebut, “Stres, malah ngadain acara kayak gini di tengah warganya banyak yang menderita ya allah.” Komentar lain menilai pemerintah kehilangan rasa empati dan kemanusiaan.
Komentar tersebut memperlihatkan adanya kritik terhadap kepantasan penampilan itu.
Karhutla Masih Menjadi Persoalan di Kalteng
Sorotan itu muncul ketika penanganan karhutla masih berlangsung. Dalam siaran pers 10 Oktober 2026, Kementerian Kehutanan mencatat 122 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan pemantauan satelit hingga 9 Oktober pukul 21.00 WIB. Angka tersebut meningkat dari 86 titik sehari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Angka itu tidak dapat disamakan langsung dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan terbakar, dan tetap perlu diverifikasi di lapangan.
Dalam konteks tersebut, publik tidak hanya memperhatikan kegiatan pejabat dan keluarganya, tetapi juga bagaimana pemerintah menyampaikan respons, menunjukkan kepedulian, dan memastikan penanganan bencana berjalan.
Bagi figur publik, kegiatan yang sah secara pribadi maupun profesional tetap dapat dinilai masyarakat berdasarkan konteks sosial saat kegiatan itu berlangsung. Kritik di media sosial merupakan bagian dari penilaian publik, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang tidak memiliki empati atau mengabaikan penanganan bencana.
Hingga saat ini, Selasa 13 Oktober 2026, belum ditemukan tanggapan langsung yang dapat diverifikasi dari Thisia atau Agustiar Sabran mengenai kritik atas penampilan di Kriyanusa 2026.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana aktivitas figur publik dapat dibaca berbeda ketika masyarakat sedang menghadapi krisis. Polemik ini bukan semata-mata soal siapa yang tampil di panggung, melainkan tentang jarak antara perayaan dan kenyataan yang dihadapi masyarakat.
Ketika warga berjuang di tengah karhutla dan kabut asap, empati menjadi ukuran yang tak kalah penting dari pencitraan. Bagi publik, kepemimpinan dan orang-orang di sekitarnya tidak hanya dinilai dari apa yang ditampilkan, tetapi juga dari kepekaan terhadap apa yang sedang dirasakan rakyat.
Sumber video: Instagram @kaltengfeeds

![[VIDEO] Fashion Show Istri Gubernur saat Karhutla, Warganet Kritik soal Empati](https://lingkarkalteng.com/wp-content/uploads/2026/10/Penampilan-Aisyah-Thisia-Halijam-istri-Gubernur-Kalimantan-Tengah-Agustiar-Sabran-dalam-peragaan-busana-di-Jakarta-International-Convention-Center-1600x900.jpg)




