Beranda›Barito Selatan
Barito Selatan

Vino kepada Presiden: Kalimantan Baik-Baik Saja, Aman-Aman Saja?

Arvino Nazril Rhasaad alias Vino, siswa kelas IV MI Darul Ulum di Bangkuang, Barito Selatan, menyampaikan keluhan kepada Presiden RI tentang kabut asap yang mengganggu kehidupan anak-anak. Ia meminta kondisi yang dirasakannya mendapat perhatian.

Vino kepada Presiden: Kalimantan Baik-Baik Saja, Aman-Aman Saja?

RINGKASAN

  • Vino meminta perhatian Presiden. Siswa MI Darul Ulum di Bangkuang itu menyampaikan keluhan mengenai kabut asap dan dampaknya terhadap anak-anak.
  • Data Barito Selatan menunjukkan tingkat pencemaran yang berbahaya. Konsentrasi PM10 tercatat 1.000 µg/m³ dan PM2.5 659 µg/m³ menurut laporan BPBD.
  • Data udara terkini, informasi kesehatan, pengaturan belajar, dan respons khusus atas keluhan Vino menjadi tindak lanjut penting.
Tangkapan layar dari cuplikan video unggahan Leli Herawati, memperlihatkan kondisi permukiman di tengah kabut asap di Bangkuang, Barito Selatan.

“Ini Kalimantan, bukan Jakarta. Ini desa, bukan kota.” Kalimat Arvino Nazril Rhasaad, siswa kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum di Kelurahan Bangkuang, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, menjadi inti keluhannya kepada Presiden Republik Indonesia di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Video yang diunggah ibunya, Leli Herawati, melalui Facebook pada Jumat, 9 Oktober 2026, memuat kesaksian Vino tentang kondisi udara di tempat tinggalnya, anak-anak yang disebut mengalami gangguan pernapasan, serta kegiatan sekolah yang menurut pengakuannya terganggu. Rekaman itu kemudian mendapat perhatian dan dukungan warganet.

Dalam video tersebut, Vino menyampaikan langsung kondisi yang dialaminya kepada Presiden.

“Lihatlah Bapak Presiden yang terhormat. Lihatlah kondisi di tempat kami, tempat aku lahir sedang berkabut asap. Banyak anak-anak yang sakit, yang sesak napas,” ucap Vino.

Keluhan Vino bukan tanpa dasar dalam menilai situasi. Data yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan menunjukkan bahwa wilayah tersebut memang menghadapi kondisi karhutla dan pencemaran udara yang serius pada hari video itu diunggah.

Data Menunjukkan Ancaman Nyata

Kepala Pelaksana BPBD Barito Selatan, Agus In’Yulius, menyatakan kabut asap pekat di daerahnya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi dalam beberapa hari sebelumnya.

“Kabut asap pekat di daerah ini akibat karhutla yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini,” kata Agus.

Dalam laporan yang sama, BPBD menyebut pemantauan pada Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 06.00 WIB, mendeteksi 383 titik panas di wilayah Barito Selatan. Data kualitas udara pada pukul 07.00 WIB hari itu mencatat konsentrasi PM10 mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan PM2.5 mencapai 659 µg/m³. Laporan tersebut menempatkan kondisi kualitas udara dalam kategori berbahaya.

Angka itu merupakan data pengukuran pada 9 Oktober 2026, bukan hasil pemantauan terbaru per 15 Oktober 2026. Meski demikian, data tersebut memberikan konteks kuat untuk memeriksa keluhan yang disampaikan Vino pada hari yang sama.

Keluhan Anak, Persoalan yang Perlu Dijawab Pemerintah

Dalam videonya, Vino tidak hanya menggambarkan kabut asap. Ia mempertanyakan kondisi yang dirasakannya di Kalimantan, sementara ia memahami ada pernyataan bahwa wilayah tersebut baik-baik saja.

Pernyataan itu perlu ditempatkan secara tepat sebagai pertanyaan yang disampaikan Vino. Naskah ini tidak menganggap bahwa konteks pernyataan Presiden yang dirujuknya telah terverifikasi secara independen.

Dalam video itu, Vino mempertanyakan pernyataan mengenai kondisi Kalimantan dan meminta Presiden menanggapi keadaan yang ia ceritakan.

“Lihatlah Bapak Presiden, bagaimana Bapak bilang kalau Kalimantan baik-baik saja, aman-aman saja. Sementara kami sudah tidak bisa bersekolah lagi. Bagaimana tanggapan Bapak?” tuturnya. Lalu video tersebut ditutup dengan salam.

Substansi keluhannya tetap penting; bagaimana kondisi udara di lingkungan tempat tinggalnya, apakah anak-anak mengalami gangguan kesehatan, serta bagaimana kegiatan belajar mereka berlangsung ketika asap mengganggu aktivitas sehari-hari?

Ada perkembangan kebijakan pendidikan di wilayah lain yang relevan sebagai pembanding. Pada 14 Oktober, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh untuk peserta didik PAUD, SD, dan SMP pada 15–17 Oktober 2026 setelah pemantauan kualitas udara pada 11–14 Oktober menunjukkan kategori berbahaya.

Di sinilah persoalan yang disuarakan Vino perlu berlanjut dari perhatian publik menuju pemeriksaan yang terukur.

Aduan seorang anak tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kondisi di suatu daerah. Sebaliknya, keluhan itu juga tidak seharusnya berhenti sebagai video yang ramai dibicarakan. Data lingkungan, informasi kesehatan, dan kepastian keberlangsungan pendidikan diperlukan untuk memastikan apa yang benar-benar terjadi dan langkah apa yang harus dilakukan.

Dari Bangkuang, pertanyaan yang disampaikan Vino kini memiliki ukuran yang lebih jelas; bagaimana kondisi udara terbaru, bagaimana perlindungan anak-anak dijalankan, dan apa tindak lanjut nyata atas keluhan warga.


Sumber: Facebook Reels @Leli Herawati; BPBD Barito Selatan; Disdik Palangka Raya; data dari lapangan.

Berita Terkait