Antrean Pertalite di sejumlah SPBU Kalimantan Tengah masih menjadi persoalan pada pertengahan September 2026. Pertamina menyatakan pasokan diperkuat setelah terjadi perubahan pola konsumsi, sementara anggota DPRD Kalteng menilai panjangnya antrean menunjukkan distribusi ke SPBU belum memenuhi kebutuhan.
Sales Area Manager Retail Pertamina Kalteng Donny Prasetya menyebut perpindahan sebagian konsumen dari Pertamax ke Pertalite diperkirakan mencapai 7 persen di seluruh Kalteng. Berdasarkan acuan kuota BPH Migas, kebutuhan Pertalite di provinsi ini sekitar 270 kiloliter per hari. Pertamina kemudian menambah stok sekitar 10 persen dari kondisi sebelumnya.
“Sekarang kita pertebal pasokan stok di angka kurang lebih 10 persen dari kondisi sebelumnya,” kata Donny. Jumat, (18/9/2026).
Pertamina juga memperkuat pasokan melalui Fuel Terminal Pulang Pisau serta dukungan pengiriman dari Sampit dan Banjarmasin.
Di sisi lain, Wakil Ketua III DPRD Kalteng Junaidi menilai persoalan antrean berkaitan dengan kecukupan penyaluran ke SPBU. Ia menyebut kebutuhan Kota Palangka Raya sekitar 205 kiloliter per hari dan meminta penyaluran sesuai kebutuhan tersebut.
“Kalau masih terjadi antrean, berarti penyaluran dari Pertamina ke SPBU itu kurang,” kata Junaidi. Pernyataan itu berbeda dengan penjelasan Pertamina yang menempatkan kenaikan permintaan akibat peralihan konsumen sebagai salah satu faktor utama.
Laporan dari lapangan, di salah satu SPBU Jalan Rajawali Palangka Raya menemukan antrean sekitar 50–100 meter. Pada saat pemeriksaan, Pertalite yang terpantau tersedia mencapai 31.000 liter. Informasi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan stok di satu SPBU tidak otomatis menghilangkan antrean di lokasi tertentu.
Dengan demikian, persoalan yang sudah terkonfirmasi adalah adanya antrean dan penyesuaian pasokan. Penyebab tunggalnya belum sepenuhnya terbukti karena terdapat perbedaan penjelasan antara Pertamina dan DPRD mengenai hubungan antara peningkatan permintaan dan kecukupan distribusi. (fit/*)






