NASA mengungkap keterbatasan satelit dalam mendeteksi kebakaran hutan dan lahan, terutama api yang berada di bawah tajuk hutan atau merambat di dalam lapisan gambut. Kondisi ini penting bagi Kalimantan karena sebagian kebakaran dapat berlangsung di bawah permukaan sehingga tidak selalu terlihat jelas dari luar angkasa.
Sensor MODIS pada satelit Aqua milik NASA merekam sebaran asap dan titik deteksi kebakaran di Pulau Borneo. MODIS merupakan sensor pencitraan yang digunakan untuk mengamati kondisi permukaan bumi. NASA menyebut kebakaran gambut sulit dipadamkan karena dapat membara pada suhu rendah dan merambat di bawah tanah.
“Kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam sejak Juli hingga September 2026, mirip dengan 2015,” kata Robert Field, peneliti Universitas Columbia yang mengembangkan basis data cuaca kebakaran global. Jumat, (18/9/2026).
Menurut dia, kondisi El Nino yang kuat membuat musim kemarau lebih kering di wilayah rawan kebakaran. Field juga memperingatkan bahaya api gambut yang masuk ke bawah permukaan.
“Kebakaran di permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api masuk ke bawah tanah, api itu tidak akan berhenti. Api akan terus membakar sampai hujan datang pada Oktober atau November,” ujarnya.
Masalah lain muncul ketika asap semakin tebal. MODIS dan VIIRS, yaitu sensor satelit untuk mendeteksi kebakaran aktif, dapat kesulitan melihat api yang tertutup asap, awan, vegetasi hutan, atau berada di bawah gambut.
“Peristiwa asap terburuk, secara paradoks, justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS,” kata Mark Cochrane, ahli ekologi Universitas Maryland.
Karena itu, tim yang bekerja sama dengan NASA, MapBiomas dan Universitas Maryland mengembangkan algoritma baru menggunakan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2 untuk menemukan lebih banyak kebakaran di bawah tajuk hutan.
Di Indonesia, Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB University juga mengembangkan sistem pemantauan kualitas udara berbasis satelit yang diperbarui setiap hari. Sistem tersebut menggabungkan data titik panas dan kondisi atmosfer untuk membaca perubahan kebakaran serta kualitas udara secara ruang dan waktu. (*)






