Beranda›Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah

Kalteng Byarpet, PLN Sebut Empat Pembangkit Bermasalah

Petugas PLN menyusuri lokasi dalam gelap saat listrik padam.

RINGKASAN

  • Setelah sebelumnya berlangsung pada Mei, Juli hingga Agustus, gangguan kembali dirasakan masyarakat ketika pasokan listrik belum sepenuhnya stabil.
  • Senior Manajer Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Faharudin Fajar, bilang kemampuan pasokan listrik belum optimal akibat gangguan pada sejumlah pembangkit yang menopang
  • Pemadaman listrik kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah pada September 2026.
Petugas PLN menyusuri lokasi dalam gelap saat listrik padam. (Tim Redaksi/lingkarkalteng.com/CC0)

Pemadaman listrik kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah pada September 2026. Setelah sebelumnya berlangsung pada Mei, Juli hingga Agustus, gangguan kembali dirasakan masyarakat ketika pasokan listrik belum sepenuhnya stabil.

Di Kotawaringin Timur, PLN kembali menerapkan pemadaman bergilir sejak 12 September. Sejumlah wilayah mendapat giliran penghentian pasokan dengan durasi yang diperkirakan mencapai tiga jam.

Di Kotawaringin Barat, kondisi serupa juga terjadi. Warga Pangkalan Bun hingga Pangkalan Banteng kembali mengeluhkan listrik yang padam bergilir.

Bagi DPRD Kalteng, persoalannya bukan lagi sekadar listrik mati, tetapi kepastian kapan gangguan benar-benar berakhir.

Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Sutik, meminta gangguan listrik tidak terus berulang.

“Kalau bisa diperhitungkan juga. Urusan teknik saya kurang paham. Yang penting masyarakat jangan mengalami lagi pemadaman listrik,” kata Sutik, Jumat (18/9/2026).

Sutik mengatakan pemadaman September bukan kejadian pertama. Gangguan serupa, menurut dia, juga terjadi pada Mei dan Juli.

“Masyarakat jangan terus yang dijadikan korban,” cetusnya.

Ia menilai persoalan teknis memang menjadi kewenangan PLN. Namun, masyarakat tetap membutuhkan pasokan listrik yang stabil, termasuk untuk menjalankan aktivitas usaha.

“Harapannya pasokan listrik bisa lebih andal. Jangan sampai masyarakat terus yang dirugikan setiap ada gangguan teknis,” katanya.

Sebelumnya, DPRD Kalteng juga telah menyoroti persoalan tersebut. Wakil Ketua III DPRD Kalteng Junaidi menyebut kapasitas sejumlah pembangkit di Kalteng mencapai lebih dari 600 megawatt, sementara kebutuhan listrik saat beban puncak disebut sekitar 190 megawatt.

DPRD mempertanyakan mengapa masyarakat Kalteng masih harus masuk dalam skema pemadaman bergilir ketika daerah ini memiliki kapasitas pembangkit yang disebut cukup besar.

Dari sisi PLN mengungkapkan, pemadaman bukan terjadi tanpa sebab.

Senior Manajer Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Faharudin Fajar, mengatakan kemampuan pasokan listrik belum optimal akibat gangguan pada sejumlah pembangkit yang menopang sistem kelistrikan Kalimantan.

Ada empat pembangkit yang disebut mengalami gangguan, yakni PLTU Cahaya Fajar Kaltim, PLTU Kaltim Prima Coal, PLTU Teluk Balikpapan, dan PLTMG Bangkanai di Barito Utara.

“Sejumlah pembangkit yang mengalami gangguan menyebabkan kemampuan pasokan listrik belum optimal,” kata Faharudin.

Penjelasan PLN menunjukkan persoalannya bukan semata-mata jumlah kapasitas pembangkit terpasang, tetapi berapa daya yang tersedia ketika sejumlah pembangkit mengalami gangguan secara bersamaan.

Sebelumnya, General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono juga menyebut sekitar 11 pembangkit listrik swasta menjalani perbaikan. PLN memperkirakan kondisi sistem kembali normal pada akhir September 2026.

Kita perkirakan di akhir September 2026 keadaan akan kembali normal seperti biasanya,” ujarnya.

Sementara bagi pelaku usaha, persoalannya jauh lebih sederhana. Ketika listrik mati, aktivitas usaha ikut berhenti.

Suyanto, pemilik Depo Ozone di Pangkalan Bun, pernah merasakan langsung dampak pemadaman bergilir. Ia mengatakan pelayanan kepada pelanggan terganggu karena listrik padam berulang.

“Sampai kapan perbaikan atau kondisi PLN seperti ini? Kami UMKM kecil yang bergantung pada listrik jadi korban ketidakpastian,” ujar Suyanto.

Ia bahkan meminta persoalan tersebut menjadi perhatian wakil rakyat.

“Tolong wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen, kondisi saat inilah yang kami perlukan untuk disuarakan,” katanya.

Menurutnya, pemadaman yang kembali terjadi membuat masyarakat hanya bisa mengeluh. Saat usahanya ikut terganggu setiap kali listrik padam.

Masalahnya kemudian bertemu pada satu titik.

DPRD meminta kepastian, PLN menyebut gangguan pembangkit sebagai penyebab, sementara pelaku usaha menanggung dampaknya ketika listrik berhenti.

PLN sendiri menargetkan pemulihan pembangkit dilakukan bertahap pada pekan ketiga hingga keempat September. Selain mempercepat perbaikan pembangkit, PLN juga menyiapkan tambahan pembangkit sewa untuk memperkuat pasokan selama sistem belum sepenuhnya normal.

Dengan September kini memasuki pekan ketiga, perhatian masyarakat tertuju pada target pemulihan tersebut benar-benar membuat listrik Kalteng kembali stabil. (fit/*)

Berita Terkait