Malaysia menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menangani kebakaran hutan dan lahan, termasuk satu pesawat amfibi, tiga helikopter serta 52 personel, setelah asap lintas batas kembali menjadi isu antara kedua negara.
Tawaran itu disampaikan Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi dalam pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan kemudian dibahas bersama Presiden Prabowo Subianto pada, Sabtu (19/9/2026).
Indonesia dan Malaysia menghadapi dampak asap yang melintasi perbatasan, khususnya wilayah Sarawak. Pemerintah Malaysia menyatakan penanganan persoalan tersebut membutuhkan kerja sama tanpa pendekatan saling menyalahkan.
Presiden Prabowo menyebut Malaysia menawarkan dukungan langsung untuk penanganan kebakaran di Kalimantan.
“Beliau kawan lama, jadi beliau berkunjung ke saya dan kita bahas berbagai masalah, yang pertama dari pihak Malaysia menawarkan bantuan ingin ikut membantu kita untuk mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan,” ujar Prabowo.
Tawaran Malaysia mencakup pesawat amfibi Bombardier CL-415MP, tiga helikopter serta 52 personel untuk membantu operasi pemadaman.
“Bantuan tersebut akan kita dikoordinasikan berdasarkan kebutuhan operasi di lapangan dan kesiapan mekanisme kerja sama antarpemerintah,” ujarnya.
Prioritas bantuan adalah memastikan kemampuan pemadaman dapat diperkuat pada wilayah yang membutuhkan dukungan tambahan.
Ahmad Zahid Hamidi menyebut, pemerintah Malaysia memandang kebakaran dan jerebu lintas batas sebagai persoalan bersama. Langkah tersebut diarahkan pada koordinasi teknis sekaligus penguatan hubungan bilateral dalam menghadapi bencana lingkungan.
“Kerja sama ini perlu ditempatkan sebagai respons kemanusiaan dan lingkungan yang berbasis koordinasi teknis kedua negara,” ujar Ahmad Zahid Hamidi.
Hingga saat ini, kebakaran di Kalimantan Tengah sendiri masih menjadi bagian dari persoalan karhutla nasional dan berlangsung dalam kondisi kemarau panjang. (art/*)








