Dampak kesehatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus membesar. Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla per 21 September 2026, mencatat 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh provinsi.
Pada pekan kedua September saja tercatat tambahan 5.512 kasus ISPA. Laporan yang sama juga mencatat 22.533 kasus diare.
Data kualitas udara memperlihatkan tekanan yang sama. Pada 20 September pukul 08.00 WIB, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kalimantan Tengah tercatat 1.936, tertinggi di Indonesia pada waktu pengukuran tersebut berdasarkan data ISPU Kementerian Lingkungan Hidup. Kategori berbahaya dimulai di atas angka 300.
Di sejumlah daerah, dampaknya juga merembet ke transportasi dan pendidikan. Pada pemantauan 17 September, jarak pandang di Buntok dan Muara Teweh dilaporkan sekitar 200 meter. Palangka Raya sekitar 700 meter dan Sampit 500 meter.
“Kita harus memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan dan layanan yang dibutuhkan di tengah kondisi seperti ini,” ujar Agustiar Sabran, Gubernur Kalimantan Tengah.
Pemerintah juga menyiapkan 169 lokasi rumah oksigen dan sembilan kabupaten/kota telah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi sekolah yang terdampak kabut asap.
Di Palangka Raya, Dinas Kesehatan telah menyiapkan ruang oksigen di 11 puskesmas. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Fasilitas tersebut disiapkan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap,” kata Riduan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya.
Ia menjelasakan, lonjakan kasus perlu dibaca bersama perkembangan kualitas udara karena layanan kesehatan harus mampu merespons sejak gejala awal muncul.
“Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan gangguan pernapasan membutuhkan perlindungan lebih selama kualitas udara belum membaik,” ujarnya.
BMKG menyatakan kondisi kering yang diperkuat El Nino masih meningkatkan potensi karhutla dan kabut asap. Kondisi udara dan jarak pandang juga dapat berubah cepat mengikuti arah angin, kelembapan, hujan, dan perkembangan kebakaran.
Dengan demikian, tekanan kesehatan tidak berhenti pada angka ISPA. Ketika asap menetap, sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi, dan aktivitas ekonomi ikut terkena dampaknya.
Sumber: Laporan Harian SIRINE Posko Darurat Karhutla; KLH/BPLH; Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya; BMKG.







