Sebanyak 8.093 titik panas terdeteksi di Kalimantan Tengah berdasarkan data hingga 22 September 2026 pukul 18.00 WIB, dengan Pulang Pisau, Kotawaringin Timur dan Seruyan mencatat konsentrasi hotspot tertinggi.
Data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah juga mencatat 88 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 195,57 hektare. Data hotspot dihimpun dari pemantauan BRIN dan Sipongi, sedangkan jumlah kejadian serta luas area berasal dari laporan kabupaten/kota kepada Pusdalops BPB-PK.
Pulang Pisau mencatat 2.381 hotspot, disusul Kotawaringin Timur 1.292 dan Seruyan 1.288. Selanjutnya Kotawaringin Barat mencapai 869 hotspot, Kapuas 764 dan Katingan 460.
Dari sisi kejadian, Kotawaringin Timur mencatat 18 kejadian dengan luas terbakar 12,78 hektare. Kapuas memiliki 13 kejadian dengan luas 31,25 hektare, sedangkan Murung Raya dan Seruyan masing-masing 11 kejadian dengan luas 10,32 hektare dan 31,71 hektare.
Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib mengatakan penanganan tidak berhenti pada pemadaman karena lahan gambut masih dapat terbakar kembali.
“Kami terus memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan personel, sarana dan prasarana yang tersedia. Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah dilakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Ahmad. Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan karakter lahan gambut membuat api dapat bergerak di bawah permukaan sehingga pembasahan harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan. Ketika ada indikasi titik api, kita harus segera bergerak agar tidak berkembang dan meluas,” katanya.
Ia menyebut, pemantauan di wilayah dengan jumlah titik panas tinggi perlu diteruskan sampai kondisi lapangan benar-benar terkendali, terutama pada kawasan yang mudah terbakar. Pihaknya, juga menekankan pencegahan melalui patroli, pelaporan cepat dan pembasahan kawasan yang berpotensi kembali terbakar.
“Pencegahan harus menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat kami harapkan ikut menjaga lingkungan, melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya karhutla,” pungkas Ahmad.
Sumber: BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah; BRIN; Sipongi; Pusdalops BPB-PK.






