Perjalanan menyusuri salah satu sungai paling ikonik di Taman Nasional Tanjung Puting adalah pelajaran tentang kehidupan yang saling bergantung. Antara hutan, satwa, dan manusia.
Pagi baru saja membuka cahaya ketika klotok meninggalkan dermaga Kumai. Suara mesinnya memecah sunyi, lalu perlahan tenggelam dalam ritme Sungai Sekonyer yang mengalir menuju Taman Nasional Tanjung Puting.
Perairan kecokelatan membelah bentang hijau. Di kiri-kanan, pepohonan membentuk kanopi rapat, sementara bayangannya bergetar di permukaan sungai. Semakin jauh dari dermaga, tanda-tanda permukiman menghilang. Sungai mengambil alih seluruh pandangan.
Perahu yang Menjadi Rumah
Klotok bergerak tenang. Perjalanan semacam ini memang tidak membutuhkan kecepatan. Ada waktu untuk memperhatikan detail. Suara satwa dari balik pepohonan, gerakan di antara dahan, burung yang melintas, hingga perubahan cahaya ketika matahari naik di atas kanopi.
Perahu kayu itu sekaligus menjadi ruang perjalanan. Dek terbuka memberi pandangan tanpa banyak penghalang, sementara bagian dalam menyediakan tempat beristirahat dan makan. Pada malam hari, kelambu menjadi pembatas tipis ketika hutan berubah menjadi lanskap gelap yang dipenuhi suara.
Tujuan Utama: Orangutan
Dari kawasan seperti Camp Leakey, Pondok Tanggui, hingga Tanjung Harapan, jejak kehidupan satwa itu mulai terlihat. Di atas pohon, seekor orangutan bergerak perlahan dari satu dahan ke dahan lain. Tangannya yang panjang mencengkeram batang, tubuhnya bergantung sejenak, kemudian berpindah lagi.
Gerakannya tampak santai, tetapi hutan di bawahnya bekerja dalam sistem yang rumit. Pepohonan menyediakan makanan dan tempat berlindung. Kanopi menjadi jalur pergerakan. Sungai menjadi pembatas sekaligus koridor. Setiap bagian saling bergantung.
“Ketika mereka kembali hidup di hutan, yang dipulihkan bukan hanya seekor satwa, melainkan sebuah bagian dari ekosistem.”
Sebagian orangutan di kawasan konservasi Tanjung Puting memiliki sejarah sebagai satwa yang pernah kehilangan induk atau mengalami konflik sebelum menjalani proses rehabilitasi. Ketika mereka kembali hidup di hutan, yang dipulihkan bukan hanya seekor satwa, melainkan sebuah bagian dari ekosistem.
Kehidupan di Tepian Sekonyer
Di tepian sungai, kehidupan lain muncul. Bekantan bergerombol di atas pepohonan dekat air. Primata endemik Kalimantan itu mudah dikenali dari hidung panjangnya. Mereka kadang hanya diam di dahan, seolah membiarkan klotok lewat tanpa perlu terganggu.
Di atas kanopi, burung enggang melintas. Raja udang muncul dengan warna yang mencolok. Di bagian sungai yang lebih tenang, buaya dapat terlihat berjemur di tepian. Yang terlihat sebenarnya hanya sebagian kecil dari kehidupan Sekonyer.
Lebih dari Sekadar Wisata
Perjalanan itu memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi mendasar. Orangutan tidak dapat dipisahkan dari hutannya, dan hutan tidak dapat dipisahkan dari sungainya. Karena itu, Tanjung Puting bukan semata tujuan wisata untuk melihat satwa.
Setiap perjalanan ke dalam kawasan konservasi membawa manusia berhadapan dengan ruang hidup yang bukan miliknya. Wisata memberi akses untuk melihat alam. Konservasi menentukan apakah alam itu masih akan ada untuk dilihat.
Sungai yang Terus Mengalir
Ketika klotok kembali menuju Kumai, Sungai Sekonyer kembali menjadi jalur pulang. Perairannya tetap mengalir, pepohonan tetap berdiri, dan kehidupan di dalam hutan terus berlangsung tanpa menunggu manusia.
Di tempat seperti ini, perjalanan bukan sekadar soal mencapai tujuan. Ia adalah kesempatan untuk melihat betapa banyak kehidupan bergantung pada sesuatu yang selama ini sering dianggap sederhana. Sebuah sungai, sebuah hutan, dan ruang yang cukup bagi alam untuk tetap hidup. [Bersambung… Dua Malam Menyepi di Pelukan Rimba Purba Tanjung Puting]
Fahrruddin Fitriya
Pangkalan Bun, 18 September 2026.






