Beranda›Feature
Feature

Dua Malam Menyepi di Pelukan Rimba Purba Tanjung Puting

Pagi baru saja membuka lembaran kabut tipis di atas Pelabuhan Kumai. Udara basah bercampur aroma amis air laut dan jelaga samar mesin diesel melayang di dermaga kayu yang mulai lapuk disapu ombak kecil.

Perlahan menyusuri Sungai Sekonyer menuju Camp Leakey di jantung Tanjung Puting.

RINGKASAN

  • Hirarki Tertutup di Tanjung Harapan Tepat pukul 15.00 WIB, haluan kayu perahu bersandar pelan pada dermaga kayu Camp Tanjung Harapan.
  • Camp yang didirikan pada tahun 1976 ini merupakan salah satu pos rehabilitasi paling awal di Tanjung Puting, menjadi benteng pertama pengembalian satwa menuju habitat aslinya.
  • Malam mulai memeluk sungai ketika perahu diikatkan pada pohon tenggerek di tepi Sekonyer.
Perlahan menyusuri Sungai Sekonyer menuju Camp Leakey di jantung Tanjung Puting. (Lingkar Kalteng/lingkarkalteng.com/CC0)

Pagi baru saja membuka lembaran kabut tipis di atas Pelabuhan Kumai. Udara basah bercampur aroma amis air laut dan jelaga samar mesin diesel melayang di dermaga kayu yang mulai lapuk disapu ombak kecil. Di sinilah garis batas antara peradaban manusia dan salah satu benteng pertahanan ekosistem terbesar di Kalimantan dimulai.

Di tepian dermaga, deretan perahu kayu khas Kalimantan yang dikenal sebagai klotok bersandar tenang. Namanya lahir dari ritme mesin dasarnya, klotok… klotok… klotok… sebuah ketukan mekanis konstan yang bergetar lembut menembus geladak kayu ulin, menyalurkan denyut ritmis yang perlahan menenangkan pikiran.

Perahu kayu bertingkat dua ini adalah rumah sekaligus wahana pengamatan bergerak. Di dek atas, tempat tidur beratap kelambu putih transparan terhampar menghadap langsung ke arah haluan. Tanpa sekat dinding, tanpa panel kaca, perahu ini membiarkan siapa saja yang berada di atasnya terpapar langsung oleh hembusan angin rimba dan lanskap tropis yang membentang luas.

Ketika tali temali dilepas dan perahu mulai mendorong air keluar dari Muara Kumai menuju garis masuk Sungai Sekonyer, hiruk-pikuk kota pelabuhan mendadak lenyap. Rimba purba menyambut, perlahan namun pasti.

Alkimia Air Hitam dan Kehidupan di Atas Klotok

Memasuki perairan Sungai Sekonyer, sebuah transisi visual yang dramatis tersaji di depan mata. Air sungai yang semula berwarna cokelat keruh bercampur lumpur tiba-tiba terputus tajam, berganti menjadi cairan pekat berwarna hitam kemerahan, mirip seduhan teh hitam kental yang pekat.

Warna pekat ini bukan tanda pencemaran, melainkan sebuah alkimia alam. Selama ribuan tahun, vegetasi hutan gambut yang membusuk secara alami melarutkan asam tanin ke dalam air, menciptakan cermin cair raksasa yang memantulkan awan dan kanopi pepohonan dengan presisi tingkat tinggi.

Seiring berjalannya perahu, instrumen suara peradaban menguap total, digantikan oleh simfoni rimba yang berlapis-lapis.

Dari balik kanopi hijau setinggi 30 meter, kepakan sayap burung Enggang (Hornbill) membelah udara. Suaranya bukan deritan nyaring, melainkan hembusan udara yang berat dan berwibawa, swosh… swosh… seperti helikopter yang terbang rendah. Di dahan-dahan nipah yang menjuntai rendah ke permukaan air, kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) duduk berjejer, menatap gerakan perahu dengan mata hitam mereka yang tajam dan serba ingin tahu.

Di atas geladak yang terus melaju pelan, kehidupan berlangsung dalam ritme yang tenang. Dari dapur sempit di buritan perahu, aroma tumisan lokal melayang naik. Ikan sungai goreng renyah, sayur asam yang berasap, dan sambal terasi hangat disajikan langsung di atas meja kayu. Menyantap hidangan bersahaja ini sembari menyerap kelembapan udara hutan tropis menghadirkan koneksi mendalam yang jarang ditemukan di ruang-ruang modern.

Hirarki Tertutup di Tanjung Harapan

Tepat pukul 15.00 WIB, haluan kayu perahu bersandar pelan pada dermaga kayu Camp Tanjung Harapan. Begitu kaki menjejak tanah, sensasi empuk seperti melangkah di atas kasur busa terasa di bawah telapak sepatu, sebuah ciri khas lantai hutan gambut yang tersusun dari ribuan tahun akumulasi humus dan dedaunan basah.

Aroma tanah basah, embun, dan vegetasi lapuk memenuhi rongga dada. Camp yang didirikan pada tahun 1976 ini merupakan salah satu pos rehabilitasi paling awal di Tanjung Puting, menjadi benteng pertama pengembalian satwa menuju habitat aslinya.

Jalur trekking menembus hutan sekunder membawa langkah menuju feeding station (area pemberian makan tambahan). Di panggung kayu terbuka yang dikelilingi kerapatan pohon meranti, ketenangan hutan mendadak diuji.

Krek!

Suara patahan ranting kayu bergema dari ketinggian kanopi. Daun-daun bergoyang hebat. Sosok berbulu oranye keemasan muncul menembus rimbunnya dedaunan. Seekor orangutan betina dewasa turun memeluk batang ulin dengan keanggunan yang luar biasa, sementara seekor anak kecil menempel erat di lipatan dadanya.

Satu per satu mereka berdatangan. Namun, tidak ada kekacauan di panggung kayu tersebut. Sebuah hukum alam yang ketat bekerja secara tak tertulis. Orangutan jantan berpipi lebar (flanged male) yang bertubuh paling besar selalu mengambil bagian terlebih dahulu. Induk dan anak-anak orangutan lainnya menunggu dengan sabar di dahan-dahan sekitar, menanti giliran mereka tanpa ada perebutan atau intimidasi. Ada ketertiban sosial yang teratur di sini, sebuah hierarki alam yang berjalan patuh tanpa perlu hukum tertulis.

Malam mulai memeluk sungai ketika perahu diikatkan pada pohon tenggerek di tepi Sekonyer. Mandi menggunakan air gambut pekat yang dingin meninggalkan sensasi licin dan segar di kulit. Saat lampu badai di geladak dimatikan, kegelapan total menyelimuti perahu. Di balik kelambu tipis, suara jangkrik, kuakan kodok pohon, dan desir angin malam menjadi pengantar tidur paling murni di tengah rimba.

Katedral Purba dan Warisan Riset Dunia

Fajar di Tanjung Puting menyapa melalui pergeseran kabut tipis di atas permukaan air. Di atas pohon-pohon nipah tepi sungai, kelompok Bekantan (Nasalis larvatus) mulai aktif. Primata endemik Kalimantan berhidung panjang dan berperut buncit ini melompat dari satu ujung ranting ke ranting lain, memamerkan keahlian akrobatik alami mereka di udara pagi yang dingin.

Melanjutkan perjalanan ke Camp Pondok Tanggui, lokasi rehabilitasi bagi orangutan usia remaja, eksplorasi dilanjutkan dengan menyusuri titian kayu ulin di atas rawa gambut. Di antara kerapatan vegetasi bawah, tampak tumbuh Kantong Semar (Nepenthes). Tanaman karnivora ini membentuk cangkir-cangkir alami berwarna merah keperakan, menunggu serangga terpeleset masuk ke dalam cairan pencernaannya, sebuah contoh adaptasi bertahan hidup yang efisien di tanah miskin hara.

Tengah hari, perahu bergerak perlahan memasuki kawasan Camp Leakey, lokasi paling legendaris di Taman Nasional Tanjung Puting. Di sepanjang alur sungai menuju lokasi ini, sesekali terlihat buaya muara berukuran sedang sedang berjemur tanpa gerak di gundukan lumpur tepi sungai, sisik Punggungnya yang keras menyerupai fosil purba yang tak tersentuh waktu.

Camp Leakey menyajikan lanskap yang berbeda. Pohon-pohon meranti dan ulin di sini menjulang puluhan meter, menciptakan kanopi rapat yang membuat suasana di bawahnya redup, dingin, dan terasa sakral, menyerupai ruang dalam katedral purba.

Didirikan pada tahun 1971 oleh Dr. Birutė Galdikas bersama mentornya Louis Leakey, lokasi ini mencatatkan sejarah sebagai pusat studi dan riset jangka panjang terhadap primata terbesar di Asia yang berjalan paling lama di dunia.

Aturan di Camp Leakey menegaskan posisi manusia di dalam ekosistem ini. Ketika seekor orangutan berjalan menyusuri jalur ulin yang sama, seluruh manusia wajib melangkah mundur ke semak-semak dan memberi ruang. Di tanah ini, hak guna jalan sepenuhnya milik penghuni asli rimba; manusia hanyalah tamu yang menumpang lewat.

Galaksi di Tepi Sungai

Saat perjalanan kembali menuju Kumai dimulai pada sore hari terakhir, Sungai Sekonyer menyajikan penutup yang magis.

Mesin perahu dimatikan, membiarkan kapal hanyut perlahan mengikut arus di tepian hutan nipah yang gelap. Di antara ranting pepohonan, ribuan kunang-kunang mendadak menyala secara bersamaan. Denyut cahaya hijau-keemasan itu berkedip dalam ritme yang serentak dan teratur, mengubah sepanjang barisan pohon nipah menjadi garis-garis cahaya alami yang membayang di atas permukaan air sungai yang pekat.

Perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer memberikan pelajaran yang mendasar, bahwa orangutan, hutan gambut, dan alur sungai adalah satu kesatuan ekosistem yang tak dapat dipisahkan. Kehadiran wisata berbasis konservasi ini tidak hanya menjadi penopang ekonomi warga lokal. Seperti pemilik klotok, koki, dan pemandu lapangan, tetapi juga menjaga agar ruang hidup purba ini tetap memiliki tempat di bumi.

Di Tanjung Puting, alam bergerak dalam hukumnya sendiri yang tenang. Sungai Sekonyer akan terus mengalir, pepohonan akan terus menjulang, dan rimba purba ini akan tetap menjaga rahasianya bagi siapa saja yang bersedia datang dan mendengarkannya dengan senyap. [Tamat]

Artikel sebelumnya… “Sungai Sekonyer: Menyusuri Hutan, Mengikuti Jejak Orangutan”


Fahruddin Fitriya
Pangkalan Bun, 18 September 2026.

Berita Terkait