Kalimantan Tengah masih menghadapi persoalan mendasar; kabut asap, sulitnya akses air bersih, dan kemiskinan. Di tengah masalah pelayanan publik tersebut, polisi mengungkap kasus dugaan peredaran sabu di Kapuas. Sementara itu, angka kecelakaan lalu lintas menunjukkan jumlah kejadian menurun, tetapi korban luka berat justru bertambah.
Kelima isu ini memperlihatkan bahwa penanganan masalah tidak cukup berhenti pada imbauan, rapat, atau penindakan. Masyarakat membutuhkan hasil yang nyata dan terukur.
- Asap Kapuas Menebal, Karhutla Belum Terkendali
Kabut asap kembali menyelimuti Kuala Kapuas pada Jumat (9/10/2026). Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat.
Data posko karhutla Kabupaten Kapuas mencatat 1.754 titik panas pada 8 Oktober, termasuk 1.106 titik di Kecamatan Mantangai. Angka ini merupakan hasil pemantauan harian, bukan jumlah titik api yang dipastikan membakar lahan.
Hingga 24 September, BPBD Kapuas sebelumnya mencatat 318 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 2.729,52 hektare. Status tanggap darurat diperpanjang hingga 13 Oktober 2026.
Dampaknya tidak hanya berupa asap. Dinas Kesehatan Palangka Raya mencatat 10.240 kasus ISPA sejak awal Juni hingga awal Oktober. Gangguan penerbangan juga terjadi akibat jarak pandang yang menurun.
Persoalan utamanya; pemadaman harus berjalan bersama pencegahan. Pemerintah perlu memastikan wilayah rawan memiliki peralatan memadai, sementara masyarakat membutuhkan perlindungan dari paparan asap.
- Air Sampit Payau, Warga Diminta Tidak Meminumnya
Air perpipaan di sejumlah wilayah Kotawaringin Timur terasa asin atau payau akibat intrusi air laut. Dinas Kesehatan mengingatkan warga agar tidak mengonsumsi air tersebut sebelum kualitasnya dipastikan aman.
Perumdam Tirta Mentaya sebelumnya menyatakan air di wilayah terdampak hanya untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus; bukan untuk minum atau memasak. Sebagian warga juga menghadapi keterbatasan pasokan dan harus menunggu distribusi air melalui mobil tangki.
Anggota DPRD Kotawaringin Timur Eddy Mashamy menyoroti persoalan air bersih di wilayah selatan, termasuk Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentaya Hilir Utara. Perluasan jaringan, sumber air baku alternatif, dan teknologi pengolahan menjadi pilihan yang perlu dikaji.
Dinas Kesehatan juga mencatat peningkatan kasus diare, tetapi belum memastikan adanya hubungan langsung dengan air payau.
Yang dibutuhkan warga bukan sekadar imbauan, melainkan pasokan air aman dan kepastian kapan layanan normal kembali.
- Kemiskinan Pulang Pisau, Program Harus Terukur
Pemkab Pulang Pisau menggelar rapat koordinasi penanganan kemiskinan pada Jumat (9/10/2026), dipimpin Wakil Bupati, Ahmad Jayadikarta.
Data BPS untuk 2025 mencatat tingkat kemiskinan Pulang Pisau sebesar 4,79 persen, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 6.230 orang. Angka tersebut merupakan data 2025, bukan pengukuran baru pada 9 Oktober 2026.
Pada 2025, pemerintah daerah sebelumnya menyebut 11 organisasi perangkat daerah terlibat dalam program penanggulangan kemiskinan, dengan alokasi anggaran mencapai Rp153 miliar. Namun, besarnya anggaran tidak otomatis membuktikan program telah berhasil.
Publik membutuhkan informasi tentang realisasi anggaran, keluarga penerima manfaat, dan perubahan kondisi mereka.
Ujian penanganan kemiskinan bukan banyaknya rapat atau program, melainkan apakah jumlah warga miskin berkurang dan bantuan tepat sasaran.
- Polisi Sita Hampir 100 Gram Sabu di Kapuas
Satresnarkoba Polres Kapuas mengamankan seorang pria berinisial S (45) di Kecamatan Kapuas Timur pada Kamis (8/10/2026). Informasi penangkapan disampaikan pada Jumat.
Polisi menyita tiga paket yang diduga berisi sabu dengan berat bruto total 97,83 gram, serta timbangan digital dan uang tunai Rp3,4 juta. Penindakan disebut berawal dari informasi masyarakat yang ditindaklanjuti melalui penyelidikan.
Fokus berikutnya adalah memastikan proses hukum berjalan transparan dan mengungkap jaringan peredaran jika memang ditemukan bukti pendukung.
- Kecelakaan Turun, Korban Luka Berat Bertambah
Polda Kalimantan Tengah mencatat 300 kecelakaan lalu lintas pada Juli-September 2026, turun dari 305 kejadian pada April-Juni.
Namun, korban luka berat justru meningkat dari 25 menjadi 33 orang. Korban meninggal dunia turun tipis dari 62 menjadi 61 orang, sedangkan korban luka ringan berkurang dari 399 menjadi 354 orang.
Data ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah kecelakaan belum sepenuhnya mencerminkan berkurangnya risiko bagi pengguna jalan.
Informasi mengenai lokasi rawan kecelakaan dan faktor penyebabnya penting untuk menentukan langkah pencegahan yang tepat.
Keselamatan jalan tidak cukup diukur dari jumlah kecelakaan. Tingkat keparahan korban juga harus menjadi perhatian.
Kelima perkembangan tersebut menunjukkan persoalan yang masih membutuhkan tindak lanjut di Kalimantan Tengah; penanganan karhutla, pemenuhan air bersih, pengurangan kemiskinan, pemberantasan narkotika, dan keselamatan jalan.
Ukuran keberhasilan setiap upaya itu adalah hasil yang dapat dirasakan masyarakat dan dibuktikan dengan data.
Sumber dan data pendukung: BPS Kalteng; Ditlantas Polda Kalteng; Polres Kapuas; BPBD Kapuas; Dinkes Kotim; Pemkab Pulang Pisau; data dari lapangan.







