Kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung hampir dua bulan di Kabupaten Kotawaringin Barat mulai dirasakan warga bukan hanya dari kualitas udara, tetapi juga dari tanaman dan harga pangan.
Warga Kobar, Suryadi, mengatakan paparan asap dan kekeringan membuat tanaman tidak memperoleh sinar matahari secara optimal. Ia menyebut sebagian petani mengalami gagal panen dan kondisi itu ikut mendorong harga sejumlah komoditas pangan.
“Asap yang berlangsung lama membuat tanaman sulit mendapatkan sinar matahari, sementara kekeringan membuat kondisi tanaman semakin berat,” ungkap Suryadi pada Senin (5/10/2026).
Ia juga menyebut, sebagian petani di wilayahnya mengalami gagal panen dan dampaknya mulai terasa pada harga sayuran serta pangan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kobar dan sekitarnya.
Data yang dikutip dalam laporan itu menunjukkan sejumlah harga komoditas meningkat, termasuk cabai, bawang, kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, dan buncis. Pada 5 Oktober 2026, kualitas udara Kobar juga tercatat sangat buruk.
Forecaster Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat, Afif Rowina Khairi, sebelumnya menyatakan PM2.5 di Kobar sempat mencapai 250,4 mikrogram per meter kubik dan berpotensi memburuk jika karhutla terus berlangsung.
“Kondisi kualitas udara sangat dipengaruhi keberadaan asap, sehingga perubahan konsentrasi partikulat tetap perlu dipantau selama kebakaran masih terjadi,” ujarnya.
Ia mengimbau, warga perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Persoalan tersebut memperlihatkan dampak karhutla yang meluas dari udara ke produksi pangan dan pengeluaran rumah tangga.
Sumber: keterangan warga Nur Afifi; Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat; data kualitas udara; data dari lapangan.







