Kalimantan Tengah menghadapi tekanan lingkungan yang dampaknya merambat ke berbagai sisi kehidupan. Kabut asap memicu protes warga dan mengganggu pendidikan, intrusi air laut membuat air PDAM di sejumlah kecamatan Kotawaringin Timur tidak layak dikonsumsi, sementara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mengancam ruang hidup satwa liar.
Tiga perkembangan ini memperlihatkan persoalan yang perlu diperhatikan lebih dari sekadar luas lahan terbakar. Perlindungan kesehatan warga, akses terhadap air bersih, dan penyelamatan lingkungan.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah, tetapi pelaksanaan dan hasilnya di lapangan tetap perlu dipantau.
- Karhutla Palangka Raya Meluas, Warga Mendesak Penanganan Lebih Serius
Karhutla dan kabut asap di Kalimantan Tengah memicu kembali desakan publik terhadap pemerintah. Pada Kamis (15/10/2026), Aliansi Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT) menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Kalteng. Massa menuntut penanganan yang lebih nyata karena asap dinilai mengganggu kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Desakan tersebut muncul di tengah besarnya kebakaran di ibu kota provinsi. Hingga 13 Oktober 2026, luas lahan terbakar di Kota Palangka Raya tercatat mencapai 1.444,34 hektare dalam 887 kejadian kebakaran. Pada saat yang sama, operasi dua helikopter water bombing bantuan BNPB telah berakhir sejak 8 Oktober. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menyebut kabut asap menghambat penerbangan untuk pemadaman dari udara.
Salah seorang peserta aksi, Kornelius, menegaskan tuntutan warga atas hak memperoleh udara yang aman. Ia menyampaikan bahwa masyarakat menuntut hak untuk bernapas dengan nyaman dan beraktivitas di ruang terbuka tanpa ancaman asap. Aksi tersebut juga diwarnai laporan seorang peserta yang mengalami sesak napas dan mendapat pertolongan menggunakan oksigen.
Di sisi pemerintah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dijadwalkan pada 15-16 Oktober. Penerbangan direncanakan menggunakan pesawat yang diberangkatkan dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, karena jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, dan Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, belum memungkinkan operasi tersebut. Pemerintah juga menyiapkan pergeseran helikopter water bombing, meski penerbangan tetap menghadapi kendala jarak pandang.
Upaya lain yang disiapkan adalah pelibatan hampir 500 unit usaha untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalteng. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, “Hari ini di Kalimantan Tengah kita gerakkan hampir 500 unit.” Palangka Raya dan Pulang Pisau termasuk wilayah yang telah diidentifikasi, tetapi verifikasi lapangan masih diperlukan untuk menentukan kebutuhan dan langkah operasionalnya. Dampak asap juga terlihat pada sektor pendidikan: Pemkab Sukamara memperpanjang pembelajaran jarak jauh hingga 24 Oktober 2026.
Tantangan berikutnya bukan hanya memastikan pengerahan personel, helikopter, dan dunia usaha, melainkan memastikan upaya tersebut benar-benar mengurangi kebakaran serta melindungi warga dari paparan asap.
- Air PDAM di Lima Kecamatan Kotim Tak Layak untuk Minum dan Memasak
Persoalan air bersih di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki tahap yang perlu mendapat perhatian serius. Pada 15 Oktober, air PDAM di lima kecamatan dinyatakan tidak diperuntukkan bagi kebutuhan minum dan memasak akibat intrusi air laut yang meningkatkan kadar garam pada air baku Sungai Mentaya. Wilayah terdampak meliputi Baamang, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.
Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim, Edy Dyufriadi, menjelaskan bahwa air baku di Intake Tanah Mas, Baamang, mulai terasa payau seiring kondisi musim kemarau. Perumdam juga mencatat penurunan debit air baku sekitar 40-50 liter per detik, yang memengaruhi produksi dan distribusi, terutama di zona pelayanan Baamang dan Ketapang.
Meski kualitas air menurun, distribusi tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar selain konsumsi. Edy mengatakan, “Di lima kecamatan yang airnya sudah payau, PDAM tetap beroperasi.” Air yang disalurkan saat ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Pelanggan di wilayah terdampak diminta tidak menggunakannya untuk minum maupun memasak.
Ancaman berikutnya berpotensi meluas. Perumdam memperingatkan bahwa Kecamatan Kota Besi juga dapat mengalami intrusi air laut apabila hujan belum turun hingga akhir Oktober. Kondisi air di wilayah itu saat ini masih relatif aman untuk dikonsumsi. Distribusi bantuan air bersih pun disesuaikan dengan kondisi sumber air dan kebutuhan wilayah.
Informasi tentang air yang tidak layak dikonsumsi harus disampaikan secara konsisten agar warga tidak keliru menganggap air yang masih mengalir dari keran otomatis aman untuk diminum. Pemantauan kualitas air, informasi kepada pelanggan, dan penyediaan air alternatif menjadi kebutuhan mendesak selama kondisi ini berlangsung.
- Orangutan Betina Dievakuasi dari Lahan Bekas Karhutla di Kotim
Dampak karhutla juga terlihat pada satwa liar. Seekor orangutan betina berusia sekitar 20 tahun dengan berat 28 kilogram berhasil diselamatkan dari kawasan bekas kebakaran di Gang Sahabat, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, Kelurahan Baamang Hulu, Kotim, pada Rabu (14/10). Kabar penyelamatan itu dipublikasikan pada Kamis (15/10).
Penyelamatan dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) dan Komunitas Animal Rescue Sampit. Orangutan tersebut diberi nama Ira. Petugas menghadapi medan yang sulit karena sebagian akses jalan telah terbakar, dengan lahan gambut dan pepohonan setengah terbakar menghambat pergerakan tim. Evakuasi dan pemeriksaan fisik berlangsung sekitar pukul 19.00-20.00 WIB.
Menurut Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, satwa itu ditemukan setelah warga melaporkan keberadaannya ketika beraktivitas di kebun. Petugas menduga orangutan tersebut sedang berpindah untuk mencari makan. BKSDA juga menyebut kemunculan orangutan di permukiman dan perkebunan warga semakin sering dilaporkan, terutama setelah kebakaran terjadi.
Penyelamatan Ira menambah jumlah orangutan yang dievakuasi BKSDA Pos Sampit dari kawasan bekas kebakaran menjadi empat individu sejak Agustus hingga Oktober 2026. Setidaknya lima titik kemunculan baru di Kotim masih dipantau, antara lain di Baamang Hulu, Kota Besi Hulu, sekitar Kantor Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dan Desa Kandan. Muriansyah mengimbau warga segera melapor jika menemukan satwa dilindungi dan tidak berusaha menangkapnya sendiri.
Penyelamatan satwa merupakan respons darurat, tetapi pemantauan kemunculan orangutan di sekitar permukiman juga penting untuk mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa. Penanganan karhutla perlu memperhitungkan dampak terhadap habitat serta keselamatan satwa liar, bukan hanya luas lahan yang terbakar.
Ketiga perkembangan tersebut menunjukkan bahwa dampak lingkungan di Kalimantan Tengah menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat dan keberlangsungan ekosistem. Penanganan karhutla masih diuji oleh kondisi lapangan dan tuntutan warga, krisis air Kotim menuntut kehati-hatian dalam penggunaan air PDAM, sementara penyelamatan orangutan menjadi pengingat bahwa habitat satwa juga menanggung konsekuensi kebakaran.
Sumber dan data pendukung: BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah; BPBD Kota Palangka Raya; BNPB; BMKG; Kementerian Kehutanan; Perumdam Tirta Mentaya Kotawaringin Timur; Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur; Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur; BKSDA Kalimantan Tengah; Orangutan Foundation International (OFI); Komunitas Animal Rescue Sampit. data dari lapangan.







