Kalimantan Tengah menghadapi tiga cerita dengan wajah berbeda pada 24 Oktober 2026. Di Kotawaringin Timur, seekor induk orangutan ditemukan terluka akibat jerat saat habitat di sekitarnya terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Di Pulang Pisau, aksi memasak ribuan porsi makanan menjadi dukungan bagi petugas dan relawan yang menangani karhutla. Sementara di Katingan, kematian seorang pemuda yang ditemukan di parit masih menyisakan pertanyaan yang harus dijawab melalui penyelidikan kepolisian.
Ketiganya memperlihatkan persoalan yang membutuhkan perhatian publik: perlindungan satwa dan habitat, dukungan nyata bagi petugas di lapangan, serta kepastian fakta dalam perkara yang menyangkut nyawa manusia.
- Induk Orangutan Terluka akibat Jerat, Tetap Bersama Anaknya di Tengah Karhutla
BKSDA Kalimantan Tengah menyelamatkan induk orangutan bernama Gadis dan anaknya, Garis, di Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (23/10/2026) dini hari. Penyelamatan berlangsung ketika kawasan sekitar kemunculan kedua satwa tersebut terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Gadis diperkirakan berusia 25 tahun, sedangkan Garis berusia sekitar 10 bulan. Petugas menemukan tali yang melilit kedua pergelangan tangan Gadis. Jerat tersebut telah meninggalkan luka yang cukup parah sehingga induk orangutan itu membutuhkan penanganan medis dari dokter tim penyelamat.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, menjelaskan bahwa petugas menerima informasi awal dari aktivis lingkungan Sampit, Awil, pada Kamis (22/10/2026) sore.
“Setelah berkoordinasi dengan warga, tim penyelamat bergerak menuju lokasi dan berhasil mengamankan induk beserta anaknya,” terang Muriansyah saat dihubungi pada Sabtu (24/10/2026).
Petugas menduga tali yang melukai Gadis merupakan jerat yang biasa digunakan untuk menangkap babi. Namun, temuan tersebut belum dengan sendirinya memastikan siapa yang memasang jerat atau kapan satwa itu terjerat.
Kasus ini memperlihatkan dua ancaman yang muncul bersamaan di sekitar habitat satwa liar; kebakaran yang mengurangi ruang aman dan jerat yang berisiko melukai satwa. BKSDA mengimbau masyarakat segera melapor jika menemukan orangutan atau satwa liar dilindungi, serta tidak mencoba menangkap atau menanganinya sendiri.
- Bobon Santoso Masak Ribuan Porsi untuk Petugas dan Relawan Karhutla
Kreator kuliner Bobon Santoso menggelar kegiatan memasak besar untuk mendukung petugas dan relawan penanganan karhutla di Camppeat, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Kegiatan dimulai pada Jumat (23/10/2026), dengan tim yang terdiri atas 10 orang.
Tim menyiapkan sekitar 3.000 porsi makanan siap santap per hari selama dua hari. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, tim juga menyediakan 12 ribu botol air mineral berukuran 1,5 liter, selain obat-obatan, vitamin, dan kebutuhan logistik lainnya.
“Kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu petugas dan relawan yang telah lama menangani kebakaran,” kata Bobon.
Bobon dan tim bekerja sama dengan Kodam XXII/Tambun Bungai dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Kegiatan Kuliner Merah Putih turut dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran dan Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin. Agenda tersebut disertai penanaman pohon di kawasan terdampak karhutla.
Aksi ini memberi perhatian pada kebutuhan yang kerap luput dari sorotan saat kebakaran berlangsung; makanan, air minum, dan dukungan logistik bagi orang-orang yang bekerja di lapangan.
Namun, bantuan darurat tidak menggantikan kebutuhan penanganan karhutla yang konsisten, pencegahan kebakaran berulang, dan pemulihan kawasan terdampak.
- Pemuda Ditemukan Tewas di Parit, Badik Ditemukan Lima Meter dari Jenazah
Penemuan jenazah seorang pemuda di parit tepi Jalan Pendahara Lama atau Jalan D.I. Panjaitan, Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan, Jumat (23/10/2026), masih menyisakan pertanyaan mengenai kronologi dan penyebab kematiannya. Polisi masih melakukan penyelidikan.
Korban berinisial AP, berusia 20 tahun, merupakan warga Desa Talian Kereng, Kecamatan Katingan Hilir. Korban dikabarkan sekitar empat hari tidak pulang sebelum ditemukan. Jenazah pertama kali terlihat oleh seorang anak yang berada di sekitar parit, kemudian informasi itu diteruskan kepada warga dan kepolisian.
Saat melakukan pemeriksaan di lokasi, polisi menemukan sebilah badik, satu unit telepon genggam, serta sepeda motor Honda CRF sekitar lima meter dari posisi jenazah. Barang-barang tersebut diamankan sebagai bagian dari penanganan tempat kejadian perkara. Temuan badik tidak dengan sendirinya membuktikan adanya tindak kekerasan atau menjelaskan penyebab kematian.
Kapolsek Katingan Hilir, Ipda Muklisin, menyatakan penyebab kematian korban belum dapat dipastikan. Polisi juga berencana meminta keterangan saksi dan keluarga untuk menelusuri aktivitas terakhir korban sebelum ditemukan. Jenazah telah dievakuasi ke RSUD Mas Amsyar Kasongan untuk penanganan lebih lanjut.
“Hingga saat ini, penyebab kematian korban belum dapat dipastikan,” ungkap Kapolsek.
Ia mengimbau masyarakat tidak menyebarkan spekulasi atau informasi yang belum terverifikasi.
Perkembangan penting berikutnya adalah hasil pemeriksaan medis, keterangan orang-orang yang terakhir berkomunikasi dengan korban, serta analisis barang bukti. Sampai informasi itu tersedia, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan apakah kematian korban disebabkan pembunuhan, kecelakaan, atau faktor lainnya.
Tiga peristiwa ini menunjukkan sisi berbeda dari Kalimantan Tengah; ancaman terhadap satwa liar di tengah karhutla, dukungan kemanusiaan bagi petugas dan relawan, serta kebutuhan akan kepastian fakta dalam penyelidikan kematian. Perhatian publik penting, tetapi informasi yang beredar tetap harus dibedakan dari fakta yang sudah terverifikasi.
Sumber dan data pendukung: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah; Kodam XXII/Tambun Bungai; Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau; Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah; Polsek Katingan Hilir/Polres Katingan; RSUD Mas Amsyar Kasongan; data dari lapangan.








