Beranda›Feature
Feature

Mengapa Kita Tetap Membaca Sesuatu yang Pasti Kita Lupakan

Dari sebuah bilik berpendingin udara di jantung Palangka Raya, sebuah refleksi tentang amnesia literer, kerja tersembunyi otak manusia, dan bagaimana buku yang kita lupakan diam-diam menyusun kompas moral dan keputusan kita.

Ilustrasi/Membaca Buku.

RINGKASAN

  • Membaca bukan menghafal. Isi buku boleh terlupakan, tetapi gagasannya membentuk cara berpikir.
  • Pengetahuan tetap bekerja. Inti bacaan dapat muncul kembali saat kita menghadapi persoalan dan mengambil keputusan.
  • Buku membentuk diri kita. Seperti makanan yang dicerna, bacaan meninggalkan nutrisi intelektual dan moral meski detailnya terlupakan.
Ilustrasi/Membaca Buku.

Ada satu kebiasaan manusia yang diam-diam absurd; kita menghabiskan berjam-jam membaca ratusan halaman, membayar buku dengan uang, membacanya dengan kesungguhan, lalu beberapa minggu kemudian tak sanggup menceritakan kembali isinya.

Suaka di Bawah Terik Khatulistiwa

Aspal Jalan Diponegoro siang itu menyerupai wajan tembaga yang dipanggang tanpa ampun. Di luar, matahari Kalimantan menggantung rendah dan beringas, membiaskan fatamorgana di atas deru knalpot sepeda motor yang melintas tergesa.

Namun, begitu pintu kaca Perpustakaan Kota Palangka Raya berayun menutup, riuh rendah khatulistiwa itu mendadak senyap, terputus laksana sambungan radio yang diputus paksa.

Di dalam ruangan ini, pendingin udara bekerja dengan etos kerja yang jauh lebih militan daripada birokrasi mana pun. Udara dingin yang beku bersekutu dengan aroma khas lignin, bau kertas tua yang teroksidasi lambat, berpadu dengan dengung freon yang ritmis.

Rak-rak buku putih melengkung anggun membentuk kurva setengah lingkaran, berdiri seperti barisan penjaga gerbang yang mengawal keheningan.

Di atas sofa biru muda, beberapa pengunjung tampak tenggelam. Mahasiswa yang terdesak tenggat, pekerja lepas yang menumpang stopkontak, atau barangkali jiwa-jiwa lelah yang sekadar mencari suaka termal dari cuaca kota yang membakar.

Rak-rak kayu itu berdiri tegak, rapi, dan teratur. Kontras yang tajam dengan isi kepala saya yang siang itu terasa seperti tumpukan dokumen pascabencana.

Saya duduk di sana bukan untuk menyelesaikan tesis, melainkan untuk menggugat sebuah paradoks yang menggelisahkan; Buat apa kita menghabiskan ribuan jam membaca buku jika pada akhirnya sebagian besar isinya menguap tanpa bekas?

Secara memalukan, saya adalah pembaca yang menderita amnesia literer akut.

Saya penganut ortodoksi kertas. Saya kerap mengunduh naskah digital berbobot ratusan halaman hanya untuk mencetaknya di atas rim kertas HVS, membubuhkan jilid spiral murahan, lalu membacanya secara fisik.

Dalam neurosains modern, seperti yang kerap diulas Maryanne Wolf dalam risetnya tentang sirkuit membaca, otak manusia memang tidak dirancang untuk teks digital yang cair. Otak kita memperlakukan teks sebagai lanskap topografis; kita mengingat sebuah gagasan bukan hanya dari katanya, tetapi dari ketebalan sisa halaman di jemari kiri, atau noda teh di sudut kanan bawah.

Namun, kendati peta fisik itu sudah saya susuri dengan khidmat, hasilnya kerap kali nihil. Risalah sejarah, doktrin jurnalistik naratif, traktat strategi The Art of War, hingga manifesto bisnis kontemporer. Semuanya masuk dengan gegap gempita melalui kornea, lalu lenyap tanpa pamit.

Tanyakan apa isi buku nonfiksi yang saya tamatkan bulan lalu; besar kemungkinan saya hanya bisa membalasnya dengan tatapan kosong. Kepala saya kerap terasa bukan seperti arkipus perpustakaan, melainkan story WhatsApp; menyala selama dua puluh empat jam, lalu terhapus permanen oleh algoritma biologis.

Apakah membaca tanpa mengingat sekadar kesia-siaan belaka? Apakah ini tak lebih dari ritual mengisi ember yang dasarnya sudah berlubang?

Fisiologi Usus dan Arsitektur Pikiran

Jawabannya mungkin tidak berada di rak filsafat, melainkan di anatomi pencernaan.

Renungkan bagaimana metabolisme biologis kita bekerja. Pagi hari kita menyantap sepiring nasi kuning berempah di tepian jalan, siang hari menyeruput semangkuk soto berkuah pekat, dan malam hari menikmati gurihnya ikan patin bakar.

Beberapa puluh jam kemudian, seluruh kenikmatan gastronomi itu mengalami reduksi total di atas kloset porselen. Semuanya berakhir di tangki septik.

Jika tolok ukur utilitas makanan semata-mata adalah wujud akhirnya yang tersisa, maka industri restoran mewah mestinya sudah bangkrut berabad-abad lalu. Logika pragmatis akan menuntut manusia meminum cairan nutrisi sintetis hambar demi efisiensi ekskresi.

Namun tubuh kita menolak logika mekanistis itu. Usus halus tidak peduli pada bentuk visual makanan saat ia disajikan; ia hanya tertarik menyerap mikronutrien, merombak protein menjadi asam amino, memompa glukosa ke dalam aliran darah, dan mengubah kalori menjadi jaringan otot. Makanan itu lenyap secara bentuk, tetapi ia beralih rupa menjadi daya hidup.

Buku bekerja melalui metabolisme yang persis serupa.

Filsuf abad ke-19, Ralph Waldo Emerson, pernah merumuskannya dengan elegan dalam salah satu aforismenya yang paling terkenal; “Saya tidak lebih ingat buku-buku yang telah saya baca dibanding makanan yang telah saya santap; kendati demikian, keduanya sama-sama telah membentuk diri saya.”

Ketika kita menamatkan sebuah bab, otak kita bertindak seperti editor yang kejam sekaligus kurator yang brilian. Ia membuang nama tokoh figuran, mencampakkan nomor halaman, dan mengikis kutipan-kutipan panjang.

Yang ia pertahankan bukanlah teks itu sendiri, melainkan sedimennya, sebuah pergeseran halus pada sinapsis saraf yang secara perlahan merevisi cara pandang kita terhadap realitas. Buku tidak bekerja sebagai arsip data eksternal; ia bekerja sebagai pembaruan perangkat lunak (firmware update) bagi kesadaran manusia.

Teori itu terdengar puitis di atas kertas. Namun pembuktian sejatinya tidak terjadi di ruang perpustakaan yang tenang, melainkan di medan negosiasi yang penuh kecemasan.

Hantu di Balik Layar Kaca

Ujian itu tiba beberapa pekan lalu, mewujud dalam sebaris pesan singkat di layar ponsel saya. Sebuah korporasi multinasional tertarik memesan advertorial panjang di media yang saya kelola. Pertanyaan narahubung mereka padat dan intimidatif.

“Berapa tarif pemasangan untuk satu paket artikel berseri, Mas?”

Sebagai jurnalis dan editor yang telah bertahun-tahun mencium aroma ruang redaksi, transaksi semacam ini seharusnya menjadi rutinitas harian. Namun ada patologi laten yang kerap menjangkiti para pekerja kreatif: imposter syndrome yang akut, dibalut ketakutan primitif akan penolakan.

Saya membuka dokumen daftar tarif (rate card). Menutupnya. Membukanya kembali. Di dalam rongga dada, kepanikan mendadak menyelenggarakan kongres kilat.

Fraksi Keraguan berteriak bahwa harga tersebut terlalu ambisius; Fraksi Trauma Ditolak mendesak agar angka itu didiskon separuhnya demi mengamankan kesepakatan; sementara Fraksi Rendah Diri membisikkan bahwa pekerjaan kami sesungguhnya tidak bernilai setinggi itu.

Jari saya membeku di atas papan ketik virtual. Keringat dingin merayapi pelipis. Saya hampir menyerah pada dorongan untuk membanting harga, sebuah kompromi pengecut yang biasa saya lakukan demi menghindari risiko penolakan.

Tepat pada detik-detik krisis integritas profesional itu, sebuah memori liar menembus kebuntuan.

Ia tidak hadir sebagai kutipan verbatim yang rapi, melainkan sebagai sebuah kilatan ide yang nyaris mentah. Memori itu berasal dari buku Million Dollar Weekend karya Noah Kagan, sebuah buku bisnis praktis yang saya baca sekilas berbulan-bulan lalu, yang sebagian besar isinya sudah menguap dari ingatan saya. Saya lupa struktur babnya, saya lupa aneka studi kasus perusahaannya.

Namun otak saya, entah bagaimana, menyimpan sebuah konsep anomali yang disebutnya; The Coffee Challenge.

Dalam eksperimen perilaku itu, Kagan memerintahkan pembacanya untuk melangkah ke sebuah kedai kopi dan meminta diskon 10 persen kepada kasir saat memesan tanpa alasan logis, tanpa kupon promosi.

Tujuannya bukan untuk menghemat recehan, melainkan sebuah terapi desensitisasi sistematis; memaksa sistem saraf kita bertabrakan dengan tatapan heran, kecanggungan sosial, dan vonis penolakan yang tegas.

Melalui pengalaman itu, seseorang disadarkan bahwa sebuah “tidak” dari pihak lain bukanlah kiamat eksistensial; penolakan hanyalah sebuah fragmen data yang netral.

Kilatan memori tentang memesan kopi berdiskon itu mendadak meredam histeria di kepala saya. Ia menertawakan kecemasan saya yang berlebihan. Otak saya tidak mengingat buku Kagan sebagai literatur, melainkan menarik intisarinya sebagai sebuah tameng psikologis.

Jari saya yang semula kaku bergerak lugas. Angka standar yang tinggi dan bermartabat itu diketik, lalu dikirim. Klik.

Dua menit kemudian, layar ponsel bergetar. “Baik Mas, kami setuju dengan penawaran tersebut. Mohon kirimkan fakturnya.”

Buku yang isinya telah 95 persen saya lupakan itu, pada detik yang menentukan, hadir menyelamatkan nilai dari kerja keras saya.

Sedimen yang Menetap

Matahari di atas Jalan Diponegoro akhirnya melunak, berganti rona tembaga redup pertanda senja mulai merambati rimba Kalimantan. Suhu di luar ruangan mulai bersahabat. Di dalam perpustakaan, para mahasiswa mulai mengemasi laptop mereka; lembar-lembar catatan dilipat, kursi-kursi dirapikan, dan gema langkah kaki pelan-pelan menjauh menuju pintu keluar.

Saya menutup buku bersampul tebal di hadapan saya. Pandangan saya tertumbuk pada judulnya, dan saya tersenyum kecut menyadari bahwa detail argumen pada Bab III yang baru saya baca dua jam lalu sudah mulai mengabur dari ingatan kerja (working memory) saya.

Namun kali ini, tidak ada lagi rasa bersalah.

Identitas kita sesungguhnya bukanlah kumpulan berkas PDF yang tersusun rapi di dalam laci memori jangka panjang. Kita dibentuk oleh lelucon yang kita dengar di warung kopi sepuluh tahun lalu, patah hati pertama yang detailnya sudah luntur, obrolan larut malam di beranda rumah, dan ratusan buku yang judulnya pun sudah tak mampu kita lafalkan.

Mereka tidak lenyap. Mereka larut ke dalam darah. Mereka mengendap menjadi sedimen bawah sadar; sebuah kompas intuitif yang menuntun kita saat harus memilih kata dalam sebuah tulisan, mengambil keputusan di persimpangan karier, atau sekadar bersikap berani di hadapan ketidakpastian.

Buku tidak pernah menuntut untuk dihafal layaknya kitab undang-undang. Ia hanya meminta izin untuk masuk, membiarkan dirinya dicerna, melepaskan nutrisinya ke dalam cara berpikir kita, lalu dengan ikhlas membiarkan raganya dilupakan.

Lampu-lampu di sepanjang Jalan Diponegoro mulai menyala satu per satu, membelah temaram Palangka Raya. Saya melangkah keluar dari suaka dingin itu, membawa kepala yang mungkin kosong dari kutipan, tetapi memiliki jiwa yang jauh lebih padat dan terjaga.


Fahruddin Fitriya
Palangka Raya, 9 Oktober 2026.

Berita Terkait