Ada satu hal yang tidak bisa diselesaikan dengan menambah jumlah pesawat pemadam; asap yang membuat pesawat tidak bisa terbang.
Kedengarannya seperti lelucon yang buruk. Sayangnya, di Kalimantan Tengah, ini bagian dari kenyataan.
Pada 12 Oktober 2026, dalam rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah terlalu rendah untuk mendukung operasi udara.
Di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, jarak pandang dilaporkan sekitar 500 meter. Pangdam XXII/Tambun Bungai Zainul Arifin menyebut standar jarak pandang pesawat swasta mencapai 5.000 meter. Untuk operasi water bombing militer, ia mencontohkan kebutuhan jarak pandang sekitar 3.000 meter di lokasi lain.
Artinya, ketika api membutuhkan bantuan dari langit, asap justru bisa menutup jalan bagi bantuan itu.
Dalam situasi seperti ini, alam seolah sedang mengerjai manusia. Air dibutuhkan untuk memadamkan api, tetapi pesawat pembawa air kesulitan menembus asap. Tim darat harus bekerja lebih keras, sementara waktu terus berjalan.
Asap, tentu saja, tidak membaca notulen rapat. Ia juga tidak menunggu sampai semua sarana dan prasarana siap.
Api Bukan Sekadar Angka di Peta
Dalam laporan yang sama, BNPB mencatat kebakaran baru seluas 513,89 hektare di Taman Nasional Tanjung Puting.
Ada satu detail yang penting: menurut Suharyanto, area yang baru terbakar itu merupakan lahan mineral, bukan lahan gambut.
Pembedaan ini bukan urusan istilah belaka. Kebakaran di bentang alam berbeda membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Api di lahan gambut, misalnya, dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya tampak sudah padam.
Karena itulah, menyiram bagian yang terlihat belum tentu menyelesaikan persoalan. Bara yang tersembunyi bisa menunggu kondisi kering atau angin untuk kembali menyala.
Pada 14 Oktober, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperkuat penanganan di Tanjung Puting. Kementerian Kehutanan memetakan empat lokasi prioritas. Salah satunya adalah kawasan Besalat, yang berdekatan dengan area pemberian pakan orangutan.
Bentang api di salah satu lokasi prioritas dilaporkan mencapai sekitar dua kilometer. Untuk memperkuat pemadaman, pemerintah merencanakan penambahan sumur bor dan pengerahan sekitar 160 personel gabungan.
Di atas kertas, langkah-langkah itu terdengar seperti daftar pekerjaan yang jelas. Di lapangan, setiap langkah harus berhadapan dengan medan, sumber air, akses menuju titik api, dan asap yang membatasi pergerakan.
Kementerian Kehutanan juga menyiapkan alternatif operasi helikopter melalui Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, karena jarak pandang di sekitar Pangkalan Bun dan Palangka Raya masih menjadi kendala.
Dengan kata lain, pekerjaan pemadaman bukan cuma mengejar api. Tim juga harus mencari cara agar bisa mencapai api.
Ketika Asap Pindah ke Dalam Rumah
Kebakaran di kawasan hutan sering kali tampak jauh dari kehidupan sehari-hari. Api berada di tengah vegetasi, petugas bergerak di medan sulit, sementara masyarakat di perkotaan mungkin hanya melihat berita dan foto dari layar ponsel.
Namun, asap tidak membutuhkan undangan untuk masuk ke wilayah permukiman.
Di Palangka Raya, dampaknya terlihat dari perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menyampaikan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat seiring memburuknya kualitas udara dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah kota menyiapkan 47 Rumah Oksigen yang tersebar di puskesmas, puskesmas pembantu, dan fasilitas kesehatan lainnya. Sebagian disiapkan beroperasi selama 24 jam.
Empat puluh tujuh Rumah Oksigen bukan sekadar angka dalam daftar fasilitas kesehatan. Di baliknya ada kebutuhan untuk menyediakan tempat berlindung ketika kualitas udara memburuk.
Udara bersih biasanya termasuk fasilitas kehidupan yang paling jarang kita syukuri. Kita menghirupnya tanpa berpikir, sebagaimana menyalakan lampu atau membuka keran air.
Masalah baru terasa ketika sesuatu yang semestinya tersedia tanpa perlu diminta berubah menjadi kebutuhan darurat.
Di titik ini, karhutla tidak lagi bisa dibicarakan hanya dengan menghitung hektare lahan yang terbakar, jumlah personel yang dikerahkan, atau berapa banyak air yang dijatuhkan dari udara. Ada pula beban kesehatan masyarakat yang harus ditangani, sementara kebakaran belum tentu selesai.
Ribuan Titik Panas, Satu Pekerjaan yang Tidak Boleh Terlambat
Pada 15 Oktober, Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa pemantauan satelit hingga malam sebelumnya mendeteksi 130 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah. Sehari sebelumnya, jumlahnya tercatat 65 titik.
Namun, ada catatan penting. Titik panas (hotspot) bukan berarti setiap titik merupakan satu kejadian kebakaran tersendiri. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa deteksi satelit, sehingga setiap indikasi tetap harus diperiksa di lapangan.
Angka itu bukan vonis bahwa semuanya terbakar. Ia merupakan peringatan bahwa pekerjaan pemantauan dan verifikasi tidak boleh mengendur.
Personel tambahan, sumur bor, pompa air, patroli, dan operasi udara merupakan bagian penting dari upaya menghadapi kebakaran. Tidak adil pula menganggap seluruh pekerjaan petugas sia-sia hanya karena api belum padam.
Tetapi ada perbedaan mendasar antara memadamkan kebakaran dan mencegah kebakaran berikutnya.
Yang pertama dimulai ketika api sudah muncul. Yang kedua harus bekerja sebelum warga melihat asap, sebelum petugas membentangkan selang, dan sebelum pesawat pemadam terpaksa menunggu jarak pandang membaik.
Di kawasan gambut, pencegahan juga berarti menjaga kondisi lahan agar tidak mudah terbakar, memperkuat pemantauan, dan memastikan bara yang tampak padam benar-benar didinginkan. Di sekitar kawasan konservasi, pekerjaan itu perlu berjalan bersama perlindungan habitat dan keterlibatan masyarakat setempat.
Tidak ada satu alat yang bisa menggantikan semua pekerjaan tersebut. Pompa tidak menggantikan patroli. Helikopter tidak menggantikan pencegahan. Dan rapat koordinasi, betapapun pentingnya, tidak bisa memerintahkan asap untuk minggir.
Presiden Prabowo menyebut Taman Nasional Tanjung Puting perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan taman nasional. Alasannya sederhana. Kawasan itu harus dilindungi, bukan sekadar dipulihkan setelah telanjur rusak.
Di sinilah ukuran keberhasilan penanganan karhutla semestinya diperluas: bukan hanya seberapa cepat api dipadamkan, melainkan juga seberapa jauh risiko kebakaran berikutnya berhasil ditekan.
Ketika asap menahan pesawat di landasan, petugas terpaksa berjuang di darat, dan kota menyiapkan puluhan Rumah Oksigen, masalahnya sudah melampaui urusan api di dalam hutan.
Kita seharusnya tidak perlu menyiapkan begitu banyak tempat untuk mencari udara yang lebih aman hanya karena gagal menjaga udara di luar rumah.
Fahruddin Fitriya
Pangkalan Bun, 16 Oktober 2026







