Kabut tipis baru saja turun di atas perairan Sungai Sekonyer ketika haluan kelotok merapat kembali ke dermaga Kumai. Menyusuri rimba konservasi dari fajar hingga petang memberi jeda spiritual yang menenangkan, namun deru peradaban segera menuntut pemenuhan kebutuhan yang lebih purba, rasa lapar.
Malam itu, pusat kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, memusatkan denyutnya di Lapangan Tugu. Bagi masyarakat lokal, kawasan ini lebih akrab disebut Alun-alun Istana Kuning. Pelataran yang pada abad ke-19 merupakan episentrum kekuasaan monarki Kesultanan Kutaringin (Kotawaringin) tersebut, kini telah bertransformasi menjadi simpul ekonomi kerakyatan. Deretan tenda kuliner malam yang hidup dan mengepulkan aroma sate serta gurihnya kuah soto manggala, hidangan khas berbahan dasar singkong berpadu kaldu rempah.
Di bawah temaram lampu alun-alun, bayang-bayang megah Istana Kuning berdiri kokoh di seberang lapangan. Pemandangan itu seketika memanggil kembali fragmen memori sembilan tahun silam, sebuah malam pada 2017, saat saya bersiap mengakhiri tugas jurnalistik di Kotawaringin Barat untuk berpindah tugas ke Semarang.
Sebelum bertolak, ada satu figur kunci yang wajib saya temui untuk berpamitan. Pangeran Muasjidinsyah.
Filosofi di Balik Dinding Ulin
Pangeran Muasjidinsyah bukan sekadar bangsawan berdarah biru. Beliau adalah putra keempat dari Sultan Kotawaringin XIV, Pangeran Ratu Alamsyah. Semasa hidupnya, almarhum mendedikasikan diri sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sekaligus mengemban amanah adat strategis sebagai Menteri Dalam Kesultanan Kotawaringin. Bagi kalangan jurnalis, sang Pangeran adalah gerbang literasi lisan sejarah lokal; seorang narasumber yang bersahaja, terbuka, dan memiliki kegemaran abadi di atas papan catur 64 petak.
Di beranda kediamannya malam itu, sembari memindahkan bidak-bidak kayu, Pangeran Muasjidinsyah mengurai detail riwayat istana yang menjadi lambang identitas kultural Pangkalan Bun.
“Nama resminya adalah Istana Lawang Kuning. Mulai didirikan sekitar tahun 1811 hingga 1820-an oleh Pangeran Ratu Imanuddin, Sultan Kotawaringin kesembilan,” tutur Pangeran Muasjidinsyah kala itu.
Sultan Imanuddin sendiri tercatat dalam historiografi lokal sebagai tokoh visioner yang memindahkan pusat pemerintahan kesultanan dari Kotawaringin Lama ke Pangkalan Bun.
Struktur istana dibangun menggunakan material kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) kualitas tertinggi dari belantara Kalimantan. Konstruksinya memadukan langgam arsitektur vernakular Melayu pesisir, seni rumah panggung Banjar, serta elemen ornamen Dayak.
Kompleks keraton terbagi ke dalam empat bangunan utama dengan fungsi hierarkis:
- Bangsal: Ruang terbuka di bagian depan yang difungsikan untuk pertemuan akbar, penerimaan tamu kehormatan, dan sidang kerajaan.
- Rumbang: Area privat berposisi lebih tinggi yang digunakan sultan untuk bertafakur dan memohon petunjuk spiritual.
- Dalem Kuning: Bangunan sentral dua lantai yang berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintahan sekaligus kediaman keluarga inti sultan.
- Pedahiran: Bangunan di sisi belakang yang menjadi ruang perjamuan makan, dapur istana, dan ruang santai keluarga keraton.
“Warna kuning dalam tradisi Kotawaringin bukan sekadar hiasan atau asosiasi politik. Kuning adalah simbol sakralitas, marwah kekuasaan tertinggi, dan kesucian para leluhur,” jelas sang Pangeran seraya menggeser perwira caturnya.
“Sedangkan Lawang berarti gerbang. Istana ini adalah pintu masuk peradaban maju di tanah Kotawaringin,” lanjut Pangeran.
Tragedi 1986, Sejarah yang Menjadi Abu
Namun, catatan sejarah monarki Melayu tertua di Kalimantan Tengah ini menyimpan noktah kelam. Malam perpisahan itu mendadak hening ketika Pangeran Muasjidinsyah mengenang peristiwa nahas pada pengujung dekade 1980-an.
“Tahun 1986, Istana Lawang Kuning yang asli habis. Rata dengan tanah,” suaranya merendah.
Tragedi kebakaran hebat itu terjadi pada 24 Juli 1986. Ironisnya, keraton kayu ulin berusia lebih dari satu setengah abad yang lolos dari agresi militer kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang tersebut musnah bukan karena konflik bersenjata, melainkan akibat ulah seorang perempuan dengan gangguan jiwa berat (ODGJ) bernama Draya yang menyusup dan menyulut api di area keraton.
Kobaran api melalap habis seluruh struktur ulin tua beserta benda-benda pusaka tak ternilai: meriam kuno, singgasana, keris pusaka, tombak bersepuh emas, hingga manuskrip silsilah raja-raja Kotawaringin yang mencatat genealogi sejak era Kesultanan Banjar pada abad ke-17.
“Tidak ada artefak berharga yang berhasil diselamatkan,” ungkapnya. “Pemerintah baru merekonstruksi bangunan fisik istana pada tahun 2000. Bentuk dan tata letaknya dirancang persis dengan cetak biru aslinya. Namun, ruang-ruang di dalamnya kini sebagian besar kosong, menunggu proses kurasi dan replikasi benda-benda pusaka.”
Dua Kehilangan Berturut-turut
Lamunan saya di Lapangan Tugu terhenti saat uap panas semangkuk soto manggala mulai menipis. Pangeran Muasjidinsyah yang menuturkan kronik tersebut dengan nada tenang kini telah berpulang.
Sang Pangeran wafat pada Agustus 2025 di usia 77 tahun akibat komplikasi penyakit paru-paru. Jenazahnya dimakamkan dengan prosesi adat kenegaraan di Kompleks Pemakaman Kerajaan Gubah Kuta Batu Indra Kencana, peristirahatan terakhir para sultan dan kerabat Kesultanan Kotawaringin.
Wafatnya Pangeran Muasjidinsyah menjadi pukulan beruntun bagi trah kesultanan. Pasalnya, hanya berselang sekitar 45 hari sebelumnya, sang kakak, Sultan Kotawaringin XV Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah, lebih dulu berpulang ke hadirat Ilahi. Kota Pangkalan Bun seketika kehilangan dua pilar penjaga memori kolektif dan tradisi adatnya dalam waktu yang berdekatan.
Warisan yang Bertahan
Malam semakin larut di Lapangan Tugu. Dinding-dinding ulin Istana Kuning berdiri anggun bermandikan sorot lampu temaram. Meski bagian dalamnya merupakan bangunan restorasi tahun 2000, nilai historis yang melingkupinya tetap utuh.
Ruang pelataran sakral di masa lampau itu kini telah menjelma menjadi ruang publik yang inklusif, menghidupkan puluhan pelaku UMKM lokal, menjadi arena bermain anak-anak, dan ruang interaksi warga lintas generasi.
Istana Lawang Kuning pernah hangus, pusaka-pusakanya lebur menjadi debu, dan para penjaga sejarahnya berpulang satu per satu. Namun, sebagaimana langkah akhir sang Pangeran di atas papan kehidupan, sejarah Kotawaringin tidak pernah benar-benar kalah.
Nilai keluhuran, keterbukaan, dan identitas budaya yang mereka wariskan tetap berakar kuat di tanah Kotawaringin Barat. Dan selama cerita itu masih dituturkan, Istana Kuning belum benar-benar kehilangan penjaganya.
Al-Fatihah untuk Pangeran Muasjidinsyah.
Fahruddin Fitriya
Pangkalan Bun, 23 September 2026.







