Beranda›Barito Timur
Barito Timur

Sesak Napas di Tengah Kabut Asap, Remaja 17 Tahun di Bartim Meninggal

Ilustrasi.

RINGKASAN

  • “Untuk gagal napas yang terjadi seperti pada korban meninggal ini bisa terjadi karena batuk berkepanjangan ditambah dengan kabut asap yang terjadi saat ini akibat karhutla sehingga batuknya semakin
  • Ronan Giovinco, 17, warga Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur, meninggal dunia, setelah mengalami sesak napas akut dan mendapat penanganan di IGD RSUD Tamiang Layang.
  • Kematian Ronan terjadi ketika Barito Timur masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ilustrasi. (Pradana Bagus/lingkarkalteng.com/CC0)

Ronan Giovinco, 17, warga Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur, meninggal dunia, setelah mengalami sesak napas akut dan mendapat penanganan di IGD RSUD Tamiang Layang.

Kematian Ronan terjadi ketika Barito Timur masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Barito Timur menyebut kondisi medis Ronan adalah gagal napas dengan diagnosis Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

Ronan dibawa keluarganya ke IGD sekitar pukul 02.00 WIB setelah sesak napas semakin berat. Sebelumnya, ia sempat mengalami batuk dan pilek selama sekitar sepekan. Keluhan tersebut sempat mereda, tetapi pada 18 September ia kembali mengalami demam dan kondisi tubuhnya menurun.

“Kurang lebih satu minggu yang lalu ada batuk pilek, tetapi sudah sembuh dan tidak ada riwayat asma,” kata Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur, dr. Jimmi W.S. Hutagalung.

Pada dini hari 20 September, sesak napas kembali muncul. Keluarga kemudian membawa Ronan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

“Jam 02.00 dini hari mengeluh sesak napas, lalu dibawa ke IGD RSUD Tamiang Layang untuk mendapat pertolongan pertama,” ujar Jimmi.

Setelah mendapat penanganan medis, Ronan dinyatakan meninggal sekitar pukul 03.55 WIB. Dinkes menyebut Ronan tidak memiliki riwayat asma maupun alergi.

“ARDS itu gagal napas akut. Pasien tidak ada riwayat alergi,” ujar Jimmi.

Pada titik inilah kabut asap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Ronan mengalami gangguan pernapasan berat ketika wilayah Barito Timur sedang menghadapi kabut asap karhutla. Menurut Dinkes, kondisi udara yang buruk diduga dapat memperberat gangguan pernapasan yang sebelumnya sudah dialami Ronan.

“Untuk gagal napas yang terjadi seperti pada korban meninggal ini bisa terjadi karena batuk berkepanjangan ditambah dengan kabut asap yang terjadi saat ini akibat karhutla sehingga batuknya semakin menjadi-jadi dan berakibat gagal napas,” kata Jimmi.

Namun, Dinas Kesehatan belum menetapkan kabut asap sebagai penyebab langsung kematian Ronan. Dengan demikian, keterkaitan antara paparan asap dan kondisi Ronan pada kasus ini masih berupa dugaan atau kemungkinan yang disampaikan berdasarkan kondisi klinis dan situasi udara saat itu.

Data kesehatan di Barito Timur menunjukkan gangguan pernapasan memang menjadi persoalan yang sedang berlangsung. Dalam periode 20 Agustus hingga 22 September 2026, Dinas Kesehatan mencatat 1.579 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dari 11 puskesmas.

Rentang waktu tersebut beririsan dengan periode ketika karhutla dan kabut asap terjadi di wilayah Barito Timur. Namun, tingginya kasus ISPA dan kematian Ronan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keduanya memiliki hubungan sebab-akibat langsung.

Dinkes mengimbau masyarakat segera mencari pertolongan ketika gejala pernapasan memburuk, terutama saat muncul sesak napas atau tanda kekurangan oksigen.

“Bila ada gejala ISPA, segera berobat. Bila terjadi sesak napas atau kekurangan oksigen, segera ke fasilitas kesehatan, karena di sana tersedia ruang oksigen,” tandas Jimmi.

Berita Terkait