Beranda›Ekonomi
Ekonomi

Kalimantan Menuju Superhub Ekonomi Nusantara

Kalimantan bergerak menuju pusat ekonomi baru Indonesia. Bagi Kalimantan Tengah, peluang tersebut membutuhkan kesiapan SDM, sektor unggulan, dan strategi agar masyarakat lokal masuk dalam rantai ekonomi baru.

Pertemuan 2nd Borneo Economic Forum di Kuching memperkuat kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Brunei dalam mendorong transformasi ekonomi Borneo.

RINGKASAN

  • Kalimantan Tengah dinilai perlu mempersiapkan SDM dan sektor unggulan menghadapi perubahan pusat pertumbuhan ekonomi menuju Kalimantan.
  • Bappenas memproyeksikan Kalimantan sebagai superhub ekonomi Nusantara dengan dukungan IKN, konektivitas, investasi, dan kerja sama regional.
  • Transformasi ekonomi Borneo akan bertumpu pada enam klaster strategis, termasuk pertanian berkelanjutan, energi rendah karbon, teknologi bersih, dan industri berbasis nilai tambah.
Pertemuan 2nd Borneo Economic Forum di Kuching memperkuat kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Brunei dalam mendorong transformasi ekonomi Borneo. (Zafira Naya Adhisti/lingkarkalteng.com/CC0)

Kalimantan Tengah menghadapi momentum besar ketika pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai bergeser menuju Kalimantan. Namun peluang tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan daerah tanpa kesiapan sumber daya manusia, penguatan sektor unggulan, dan kemampuan masuk dalam rantai ekonomi baru.

Kalimantan Tengah perlu membaca perubahan arah pembangunan nasional yang menjadikan Pulau Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Pergeseran tersebut membuka peluang besar bagi daerah, tetapi juga menghadirkan tantangan untuk memastikan masyarakat lokal menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang sedang berlangsung.

Dosen ekonomi pembangunan Universitas Anta Kusuma Pangkalan Bun, Nina Putri Hayam Dey, menilai momentum tersebut harus dimanfaatkan Kalimantan Tengah untuk memperkuat daya saing daerah.

Menurutnya, perubahan pusat gravitasi ekonomi menuju Kalimantan tidak cukup hanya dilihat sebagai dampak pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), tetapi sebagai perubahan struktur ekonomi kawasan yang akan memengaruhi pola investasi, konektivitas, dan peluang kerja.

“Perubahan pusat pertumbuhan ekonomi menuju Kalimantan harus dibaca sebagai peluang bagi daerah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat sektor unggulan masing-masing,” ungkap Nina, Minggu (11/10/2026).

Ia menjelaskan, Kalimantan Tengah memiliki sejumlah sektor yang berpotensi masuk dalam rantai nilai ekonomi baru, mulai dari pertanian berkelanjutan, energi, industri berbasis sumber daya, hingga pengembangan kapasitas tenaga kerja.

Namun, menurut Nina, peluang ekonomi tersebut membutuhkan kesiapan yang lebih luas. Infrastruktur memang menjadi fondasi penting, tetapi kualitas manusia akan menjadi faktor penentu apakah daerah mampu mengambil manfaat dari perubahan ekonomi tersebut.

“Kalteng perlu memastikan masyarakat daerah tidak hanya menjadi penonton dalam transformasi ekonomi, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai baru yang terbentuk,” katanya.

Bappenas Dorong Kalimantan Jadi Superhub Ekonomi Nusantara

Proyeksi Kalimantan sebagai pusat ekonomi baru sebelumnya disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam forum 2nd Borneo Economic Forum: Shaping the Future of Borneo di Kuching, Malaysia.

Forum yang mempertemukan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam tersebut membahas arah pembangunan kawasan Borneo melalui penguatan konektivitas, investasi, industri, dan kerja sama regional.

Bappenas memproyeksikan Pulau Kalimantan menjadi superhub ekonomi Nusantara yang menghubungkan kawasan produksi, investasi, teknologi, dan jaringan ekonomi regional.

Rachmat menyebut perubahan pusat gravitasi ekonomi Indonesia mulai bergerak menuju Kalimantan seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara serta penguatan konektivitas antarwilayah.

“Selama ini, pusat gravitasi Indonesia berada di Jakarta, kemudian berkembang ke Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, wilayah lain di Jawa dan Sumatra. Hari ini, kita bergerak menuju Kalimantan,” ujar Rachmat.

Enam Klaster Ekonomi Jadi Penggerak Baru Borneo

Dalam konsep pengembangan ekonomi Borneo, pemerintah mendorong enam klaster strategis yang menjadi fondasi transformasi kawasan.

Klaster tersebut meliputi teknologi bersih, industri farmasi terintegrasi, pertanian berkelanjutan, ekowisata dan wisata kesehatan, industri kimia, serta energi rendah karbon.

Selain sektor industri, Bappenas menilai penguatan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, keterampilan tenaga kerja, dan infrastruktur menjadi faktor utama agar transformasi ekonomi berjalan inklusif.

“Transformasi ini harus tetap memperhatikan aspek sosial, budaya, dan ketahanan ekologi, termasuk hak masyarakat lokal serta perlindungan sumber daya air,” kata Rachmat.

Pemerintah juga mendorong penguatan jaringan Trans-Kalimantan, konektivitas pelabuhan dan bandar udara, serta koridor ekonomi yang menghubungkan kawasan produksi dengan pasar regional.

Tantangan Kalteng Bukan Hanya Menjadi Jalur Ekonomi

Bagi Kalimantan Tengah, perubahan peta ekonomi Borneo menghadirkan pertanyaan strategis: apakah daerah hanya menjadi wilayah pendukung, atau mampu menjadi pemain dalam ekosistem ekonomi baru tersebut.

Peningkatan kualitas tenaga kerja, penguatan industri lokal, serta kesiapan pelaku usaha daerah menjadi faktor penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Transformasi ekonomi Kalimantan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga kemampuan daerah menyiapkan masyarakatnya untuk mengambil peluang yang muncul.

Berita Terkait