Beranda›Gaya Hidup
Gaya Hidup

Dari Tenun hingga Tari, Kekayaan Budaya Kalimantan Dibawa ke UI

Tanisha, anggota termuda Bakul Budaya Nusantara, menerima nasi Astakona khas Banjar dari Dewi Fajar Marhaeni di FIB UI.(dok. FIB UI)

RINGKASAN

  • Kekayaan tenun dan tradisi Kalimantan diperkenalkan dalam peringatan Hari Tenun Nasional 2026 yang digelar Yayasan Bakul Budaya Nusantara bersama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
  • “Kami ingin masyarakat tidak berhenti pada kekaguman terhadap kain dan pertunjukan, tetapi memahami pengetahuan, nilai, serta cerita yang hidup di balik setiap warisan budaya,” ujar Dewi.
  • Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni menyebut, Pelestarian budaya membutuhkan ruang yang mempertemukan generasi, komunitas dan lembaga pendidikan agar warisan budaya tetap hidup.
Tanisha, anggota termuda Bakul Budaya Nusantara, menerima nasi Astakona khas Banjar dari Dewi Fajar Marhaeni di FIB UI.(dok. FIB UI) (Tim Redaksi/lingkarkalteng.com/CC0)

Kekayaan tenun dan tradisi Kalimantan diperkenalkan dalam peringatan Hari Tenun Nasional 2026 yang digelar Yayasan Bakul Budaya Nusantara bersama Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Kegiatan mengangkat tema “Kolaborasi dalam Aksi: Berkenalan dengan Tenun dan Budaya Kalimantan”. Sejumlah kesenian dan tradisi Kalimantan diperkenalkan melalui pertunjukan, workshop, bazar serta diskusi budaya.

Tidak hanya kain yang menjadi perhatian. Penyelenggara juga berusaha memperkenalkan pengetahuan dan nilai yang berada di balik sebuah produk budaya, mulai dari teknik, motif hingga cerita yang diwariskan dalam masyarakat.

Ketua Umum Bakul Budaya Nusantara, Dewi Fajar Marhaeni menyebut, Pelestarian budaya membutuhkan ruang yang mempertemukan generasi, komunitas dan lembaga pendidikan agar warisan budaya tetap hidup.

“Kami ingin masyarakat tidak berhenti pada kekaguman terhadap kain dan pertunjukan, tetapi memahami pengetahuan, nilai, serta cerita yang hidup di balik setiap warisan budaya,” ujar Dewi. Jumat, (18/9/2026).

Pendekatan edukasi itu menjadi penting karena pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan benda atau bentuk pertunjukannya. Pengetahuan tentang cara membuat, menggunakan dan memaknai warisan tersebut juga harus terus ditransmisikan kepada generasi berikutnya.

Pandangan serupa diperoleh dari pelaku tenun yang terlibat langsung dalam kegiatan. Posisi mereka penting untuk menjelaskan bagaimana sebuah kain dipahami bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi sebagai bagian dari identitas komunitas.

“Tenun bukan hanya benda yang dipakai, tetapi rekaman pengetahuan sebuah masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ungkap salah satu pegiat tenun Iban, Wilsen Willim.

Ruang pendidikan juga dipandang strategis karena memungkinkan budaya lokal diperkenalkan di luar wilayah asalnya dan bertemu dengan generasi muda yang lebih beragam. (bun/*)

Berita Terkait