Jejak seorang pendidik yang tidak berhenti di ruang kelas. Dari dunia keguruan, Dunis Iper menapaki jalan panjang penelitian dan penulisan untuk mendokumentasikan bahasa, sastra, serta kebudayaan Kalimantan Tengah.
Ada guru yang dikenang karena berapa banyak murid yang pernah diajar. Ada pula yang jejak pengabdiannya tumbuh jauh melampaui ruang kelas, ketika pengetahuan yang ia kumpulkan kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya melalui buku. Dunis Iper berada dalam kategori kedua.
Namanya tercatat dalam perjalanan pendidikan dan kebahasaan Kalimantan Tengah sebagai guru, penulis, serta pengkaji bahasa dan kebudayaan daerah. Perjalanan hidupnya memperlihatkan satu garis yang konsisten. Baginya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang menjaga pengetahuan agar tidak hilang.
Dunis Iper lahir di Luwuk Langkuas pada 31 Mei 1943. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat Negeri Luwuk Langkuas dan selesai pada 1957. Jalan pendidikannya kemudian berlanjut ke sekolah keguruan di Kuala Kapuas.
Pada 1961 ia menamatkan Sekolah Guru B Negeri. Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan Sekolah Guru A Negeri. Pendidikan formalnya terus berkembang hingga memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Palangka Raya pada 1986.
Lintasan tersebut membentuk Dunis Iper sebagai seorang pendidik yang dekat dengan dunia sekolah sekaligus memiliki perhatian kuat terhadap bahasa.
Ia pernah mengajar di Sekolah Rakyat Negeri Luwuk Langkuas. Dalam perjalanan kariernya, ia kemudian menjalani berbagai peran di lingkungan pendidikan, termasuk sebagai guru di SPGN Palangka Raya, pengajar Bahasa Indonesia di sekolah kesehatan, kepala sekolah, hingga dosen.
Namun, dunia pendidikan bagi Dunis tidak berhenti pada aktivitas mengajar. Perhatiannya kemudian bergerak ke wilayah yang lebih luas, bahasa dan sastra daerah.
Di sinilah karya-karyanya menjadi penting. Dunis Iper ikut mendokumentasikan berbagai aspek bahasa serta kebudayaan yang hidup di Kalimantan Tengah. Sejumlah karyanya berkaitan dengan bahasa Dayak Ngaju, sementara karya lainnya mendokumentasikan bahasa dan sastra daerah dari sejumlah wilayah di Kalteng.
Beberapa judul yang tercatat antara lain; Pepatah Petitih dalam Bahasa Dayak Ngaju, Legenda dan Dongeng dalam Sastra Dayak Ngaju, Fonologi Bahasa Katingan, serta Sintaksis Bahasa Seruyan.
Ia juga ikut menulis Kamus Bahasa Dayak Ngaju-Indonesia, yang diterbitkan pada 1999, serta Kamus Ungkapan Dayak Ngaju-Indonesia pada tahun yang sama.
Buku-buku semacam itu memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi daftar kosakata atau kumpulan tulisan. Di dalamnya terdapat rekaman mengenai cara sebuah masyarakat menggunakan bahasa, mengenali lingkungan sosialnya, menyampaikan nilai, serta mewariskan kebudayaan. Bahasa, dalam konteks itu, menjadi bagian dari memori masyarakat.
Karena itu, keterlibatan Dunis Iper dalam dokumentasi bahasa daerah juga menemukan titik temu dengan dunia pendidikan. Pada 2003, ia bersama Monoi dan Karimun Nyawat tercatat sebagai penulis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya Karungut Wajib Belajar Sembilan Tahun dalam Sastra Dayak Ngaju.
Karya tersebut memperlihatkan bagaimana sastra daerah dapat ditempatkan dalam konteks pendidikan. Karungut, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai ekspresi kebudayaan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan nilai, bahasa, dan lingkungan budaya kepada peserta didik.
Karya lain, Aku Sinta Basa Dayak Ngaju, juga tercatat sebagai bahan muatan lokal untuk pendidikan dasar di Kalimantan Tengah. Di titik ini, perjalanan Dunis Iper memperlihatkan hubungan yang kuat antara tiga dunia. Guru, buku, dan kebudayaan.
Ia mengajar di kelas, tetapi pada saat yang sama menulis untuk ruang yang lebih panjang. Seorang guru mungkin hanya bertemu dengan murid-muridnya selama beberapa tahun. Sebuah buku dapat bertahan jauh lebih lama dan dibaca oleh generasi yang bahkan tidak pernah bertemu dengan penulisnya.
Itulah salah satu alasan mengapa karya dokumentasi bahasa memiliki arti penting dalam sejarah pendidikan daerah.
Catatan mengenai bahasa daerah memungkinkan pengetahuan lokal tetap tersedia ketika pola kehidupan berubah. Bagi pendidikan, dokumentasi semacam itu menyediakan bahan untuk memahami bahasa dan kebudayaan dari lingkungan sendiri, bukan semata-mata dari pengetahuan yang datang dari luar.
Karier Dunis Iper juga menunjukkan bahwa pengabdian pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk yang paling terlihat.
Tidak semua kontribusi seorang pendidik berlangsung melalui podium, ruang kelas, atau jabatan struktural. Sebagian justru bekerja dalam bentuk yang lebih sunyi. Meneliti, mencatat, menyusun, menulis, dan memastikan pengetahuan dapat diwariskan.
Dalam konteks Kalimantan Tengah, karya-karya tentang bahasa dan sastra daerah memiliki dimensi itu. Ketika bahasa dicatat, kosakata dikumpulkan, struktur bahasa diteliti, dan sastra daerah dibukukan, sebuah bagian dari pengalaman masyarakat sedang dipindahkan dari ingatan lisan ke dalam pengetahuan tertulis. Dunis Iper berada di dalam proses tersebut.
Namanya kemudian tercatat dalam publikasi pendidikan nasional sebagai salah satu tokoh pendidikan Kalimantan Tengah. Rekam karyanya juga tersimpan dalam repositori dan katalog kelembagaan pendidikan dan kebahasaan.
Jejak itu memberi gambaran tentang bentuk pengabdian yang tidak selalu selesai ketika seseorang meninggalkan profesinya.
Bagi seorang guru, warisan terbesar mungkin bukan hanya murid yang pernah duduk di hadapannya, melainkan juga pengetahuan yang berhasil ia tinggalkan agar dapat dipelajari oleh mereka yang datang sesudahnya.
Dunis Iper menempuh jalan itu melalui pendidikan, penelitian, dan buku. Ia menjadikan bahasa sebagai bagian dari pekerjaan intelektual sekaligus sebagai bahan yang dapat diwariskan.
Dan di tengah perubahan zaman, buku-buku itu menjadi semacam arsip: mencatat bahwa pernah ada seorang pendidik dari Kalimantan Tengah yang memilih tidak membiarkan bahasa dan pengetahuan lokal berhenti sebagai ingatan yang perlahan hilang.
Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; repositori institusi pendidikan; katalog karya Dunis Iper.








