Keselamatan pekerja perkebunan menjadi pertanyaan setelah dua benda logam berukuran besar ditemukan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Agro Bukit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dalam dua hari berturut-turut.
Benda pertama ditemukan pada Senin (19/10/2026) di blok G38-39. Sehari kemudian, Selasa (20/10/2026), pekerja kembali menemukan benda logam lain di blok H27, Dusun Rongkang, Desa Natai Baru, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Temuan kedua diperkirakan berdiameter sekitar tiga hingga empat meter. Lokasinya disebut berjarak sekitar 10-13 kilometer dari titik penemuan pertama. Saat ditemukan, para pekerja sedang bersiap memulai aktivitas di kebun.
Keberadaan benda asing tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan warga dan pekerja. Seorang warga yang berada di sekitar lokasi menyatakan tidak berani menyentuh benda itu karena khawatir terhadap kemungkinan radiasi.
“Kita tidak berani menyentuh karena takut masih ada radiasi,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut menggambarkan ketidakpastian yang dirasakan warga di sekitar lokasi. Namun, pernyataan itu bukan bukti bahwa benda tersebut mengandung bahan radioaktif atau menimbulkan paparan radiasi. Kepastian mengenai sifat materialnya memerlukan pemeriksaan oleh pihak berwenang.
Laporan penemuan kedua menyebutkan bahwa petugas telah memasang garis polisi di sekitar lokasi untuk membatasi akses. Status terbaru pengamanan dan evakuasi benda tersebut masih perlu dipastikan.
BRIN Telusuri Lintasan Roket
Penemuan benda pertama mulai menemukan penjelasan setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menelusuri data orbit benda antariksa yang melintas di wilayah Kalimantan.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa lintasan bekas roket ZhuQue-2E asal China melintasi Kalimantan pada Minggu (18/10/2026), sehari sebelum benda pertama ditemukan.
“Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit,” jelas Thomas.
Waktu tersebut berdekatan dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh dari langit sekitar pukul 17.30 WIB pada hari yang sama.
Berdasarkan kecocokan waktu dan lintasan orbit, BRIN menduga kuat benda logam yang ditemukan pada 19 Oktober merupakan bagian dari sampah antariksa bekas roket ZhuQue-2E. Roket tersebut diluncurkan dari China pada 14 Oktober 2026 untuk membawa satelit ke orbit.
Meski demikian, analisis lintasan orbit merupakan dasar identifikasi awal. Pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk memastikan kecocokan bentuk, material, dan penandaan pada benda yang ditemukan dengan informasi teknis roket.
Benda Pertama Diamankan, Bagaimana dengan Temuan Kedua?
Person in Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team Bandara Haji Asan Sampit, Zachrudien, menyatakan pihaknya telah meneruskan informasi temuan pertama kepada pihak terkait.
“Kami sudah koordinasi dengan KNKT dan BRIN terkait hasil temuan kami di lokasi dan sudah kami teruskan ke pihak tersebut,” kata Zachrudien.
Benda pertama dilaporkan telah dievakuasi dan diamankan di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Penanganan temuan kedua menjadi hal yang perlu diperjelas. Selain memastikan identitas dan kondisi materialnya, publik membutuhkan informasi mengenai prosedur pengamanan di lokasi, akses pekerja ke area penemuan, serta arahan keselamatan selama pemeriksaan berlangsung.
Bagi pekerja kebun, persoalannya bukan hanya mengetahui dari mana benda itu berasal. Mereka juga perlu mendapat kepastian kapan lokasi dinyatakan aman dan siapa yang bertanggung jawab menyampaikan petunjuk keselamatan.
Pihak pengelola perkebunan dan aparat terkait perlu menjelaskan bagaimana area temuan diamankan, apakah pemeriksaan teknis telah dilakukan terhadap benda kedua, serta apa yang harus dilakukan pekerja apabila menemukan serpihan serupa di area kerja.
Sampai identitas dan kondisi benda kedua dipastikan, informasi mengenai bahaya materialnya tidak boleh didasarkan pada dugaan semata. Begitu pula sebaliknya, kekhawatiran warga tidak dapat dijawab hanya dengan perkiraan asal benda.
Dua penemuan dalam dua hari ini menempatkan keselamatan pekerja sebagai persoalan yang mendesak untuk diperjelas. Penjelasan mengenai hasil pemeriksaan, status pengamanan lokasi, dan prosedur kerja yang aman dibutuhkan agar pekerja tidak harus mengambil keputusan sendiri di tengah ketidakpastian.








