Saya mengenal tepian Sungai Arut jauh sebelum kawasan ini punya nama yang menjual. Saat bertugas sebagai wartawan di Pangkalan Bun hingga 2017, mess saya berada di Jalan Antasari. Jaraknya hanya sepelemparan sandal.
Jadi, turun ke tepian Arut bukan agenda wisata. Biasanya hanya pelarian kecil setelah dikejar deadline. Kadang sore, kadang menjelang malam. Saya duduk di atas titian kayu ulin, melihat perahu kelotok lewat, lalu pulang tanpa membawa apa-apa. Kecuali kepala yang sedikit lebih ringan.
Dulu kawasan Mendawai itu sederhana. Rumah-rumah kayu berdiri di atas air. Titian seadanya. Warga menjalani hidup tanpa berpikir bahwa kampung mereka suatu hari akan menjadi tempat yang dicari orang untuk berfoto.
Kini semuanya berubah. Titian diperkuat. Pagar dibangun. Rumah dicat warna-warni. Kawasan ditata melalui program penanganan permukiman kumuh dan pengembangan tepian sungai.
Lalu sebuah nama diberikan; Kampung Sega.
Sega berarti cantik atau indah dalam penggunaan bahasa setempat. Nama itu membuat sebuah ruang hidup berubah menjadi destinasi.
Bagi Pangkalan Bun, Sungai Arut bukan sekadar pemandangan. Sebelum jalan raya membelah kota, sungailah jalur utamanya. Perahu membawa manusia dan barang. Pedagang Banjar, Melayu, Bugis, hingga Tionghoa bertemu di tepian ini. Garam, tembakau, dan keramik ditukar dengan hasil bumi.
Jejak masa lalu itu masih terasa di Kampung Sega. Di antara rumah-rumah yang kini semarak, berdiri sebuah bangunan tua yang justru tidak ikut bersolek; Rumah Gedong.
Warga menyebutnya sebagai rumah tua peninggalan saudagar Tionghoa dari masa perdagangan sungai. Usianya disebut lebih dari seabad. Kayunya menua alami. Tidak dibuat terlalu baru.
Di tengah warna-warni Kampung Sega, Rumah Gedong seperti orang tua yang memilih diam ketika anak-anaknya sedang ramai bercerita. Kalau ia bisa bicara, mungkin pesannya sederhana. Manusia boleh berubah. Sungai tetap bekerja seperti biasa.
Beberapa waktu lalu saya kembali ke sana. Jembatan kini tampil lebih terang. Kawasan jauh lebih rapi. Orang datang bukan hanya membawa badan, tetapi juga kamera.
Di samping saya berdiri Budi Baskoro, kawan lama. “Dulu kita nongkrong di sini nggak pernah mikir parkir,” kata saya.
Budi tertawa.
“Sekarang beda, Bos. Orang datang bukan cuma bawa badan. Mereka bawa ekspektasi. Bawa kamera.”
Di bawah kami, Sungai Arut tetap mengalir. Sebuah kelotok melintas. Suara mesinnya memecah sore. Anak-anak tertawa di tepian. Matahari perlahan turun dan memantulkan warna keemasan di atas air. Saya teringat masa lalu.
“Dulu lebih sederhana, tapi rasanya lebih meresap,” kata saya.
Budi menjawab santai. “Sekarang lebih ramai. Tapi lebih punya nilai ekonomi buat warga. Lebih banyak cerita yang bisa dibawa pulang orang luar.”
Saya menatap sungai. “Jadi ini kemajuan?”
Budi mengangkat bahu. “Bukan soal menang atau kalah dengan masa lalu. Ini soal versi.”
Kalimat itu membuat saya diam. Barangkali memang begitu. Kota tidak selalu harus memilih antara masa lalu dan masa depan. Keduanya bisa hidup berdampingan, meski dengan wajah berbeda.
Kampung Sega kini menjadi salah satu ruang publik di tepian Sungai Arut yang menarik dikunjungi. Waktu terbaik datang adalah menjelang sore, sekitar 16.30–18.00, ketika cahaya matahari mulai rendah.
Pengunjung bisa berjalan menyusuri titian, melihat rumah panggung, menikmati warung warga, atau menyusuri sungai dengan kelotok.
Tetapi ada satu hal yang sebaiknya jangan dilakukan; terlalu sibuk memotret sampai lupa melihat. Sebab sebuah kampung bukan sekadar latar foto.
Di balik rumah warna-warni itu, ada warga yang hidup setiap hari. Di balik sungai ada sejarah panjang. Dan di balik sebuah destinasi ada ruang hidup yang tidak pernah berhenti bekerja.
Dulu saya datang ke tempat ini karena dekat dari mess. Sekarang orang datang karena nama Kampung Sega sudah dikenal.
Motif manusia berubah. Wajah kampung pun berubah. Tetapi Sungai Arut tetap sama. Ia pasang. Ia surut. Ia membawa perahu.
Dan setiap sore, senja turun perlahan di atasnya. Tanpa promosi. Tanpa kamera. Tanpa perlu dibuktikan kepada siapa pun bahwa ia memang indah.
Fahruddin Fitriya
Pangkalan Bun, 26 September 2026.








