Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengerahkan 36 kendaraan untuk memasok air bersih ke wilayah selatan yang mengalami kekeringan sekaligus terdampak intrusi air laut. Sekitar 30.000 liter air disalurkan untuk membantu sekitar 300 kepala keluarga.
Pemkab menyebut distribusi dilakukan sejak Agustus dan akan diteruskan berdasarkan laporan desa. Dari 36 kendaraan yang dikerahkan, delapan merupakan mobil tangki, sedangkan 28 lainnya kendaraan double cabin yang membawa tangki profil untuk menjangkau permukiman di gang atau lokasi yang sulit dimasuki truk.
“Sepanjang ada laporan dari kepala desa bahwa mereka masih kekeringan dan membutuhkan, kita akan tetap salurkan,” kata Bupati Kotim Halikinnor. Jumat, (18/9/2026).
Ia menyebut air bantuan harus diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi.
Masalahnya bukan sekadar sumber air mengering. Air baku yang digunakan jaringan PDAM di sejumlah wilayah mulai tercampur air laut sehingga berubah asin dan tidak lagi layak dikonsumsi. Camat Mentaya Hilir Selatan, Wahyudah mengatakan, sejak 1 September 2026 air dari sumber Sungai Lepeh sudah tidak dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi.
Persoalan ini juga menunjukkan bahwa distribusi air darurat belum menyelesaikan masalah sumber air. Pemkab menyiapkan pembangunan jaringan pipa induk bertahap hingga Ujung Pandaran dan mempertimbangkan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih.
“Yang paling terasa hari ini adalah air bersih. Kami sangat-sangat kekurangan karena air dari Sungai Lepeh tidak memungkinkan lagi untuk dikonsumsi,” ujarnya. (SM/*)






