Persoalan BBM di Kotawaringin Barat tidak berhenti pada antrean warga. Ketersediaan bahan bakar juga menjadi kendala bagi Satgas Karhutla Kobar yang membutuhkan mobilitas tinggi untuk menjangkau titik-titik kebakaran.
Kondisi itu terungkap saat Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah meninjau Posko Induk BPBD Kobar dan kesiapan dapur umum. Di tengah operasi penanganan karhutla, kebutuhan BBM menjadi bagian penting karena armada pemadam harus bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Pemkab Kotawaringin Barat kemudian meminta adanya kemudahan akses BBM bagi armada yang terlibat dalam penanganan kebakaran. Bupati menegaskan, kelancaran mobilitas Satgas menjadi salah satu kebutuhan yang harus segera diperhatikan.
“Yang sangat kita perlukan saat ini adalah dukungan BBM demi kelancaran mobilitas Tim Satgas menuju lokasi karhutla,” kata Nurhidayah.
Permintaan tersebut muncul dalam situasi ketika akses masyarakat terhadap BBM juga mengalami tekanan. Antrean di sejumlah titik membuat warga harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan bahan bakar.
Bagi tim di lapangan, persoalannya lebih serius. Keterlambatan mendapatkan BBM dapat memengaruhi pergerakan armada menuju lokasi kebakaran. Padahal, penanganan karhutla membutuhkan respons cepat, terutama ketika kondisi api dan asap berubah sewaktu-waktu.
Kesulitan memperoleh BBM sebelumnya juga dirasakan warga di wilayah Kobar. Ario, warga Desa Tanjung Putri, mengatakan perjalanan menuju Pangkalan Bun sempat terganggu akibat kebakaran dan kabut asap. Kondisi tersebut membuat akses menuju SPBU menjadi lebih sulit.
“Kemarin jalan menuju Pangkalan Bun sempat ditutup total imbas karhutla. Asap tebal, tidak terlihat, padahal mau ke SPBU ngisi BBM,” ujarnya.
Persoalan akses BBM juga muncul dalam keluhan warga sebelumnya. Di Pangkalan Bun, warga dilaporkan menawarkan dan mencari Pertalite melalui jalur daring untuk menghindari antrean. Salah seorang warga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penjualan BBM subsidi secara daring.
Antrean panjang di Kobar juga sebelumnya membuat warga menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Situasi itu menunjukkan bahwa persoalan BBM muncul bersamaan dengan gangguan mobilitas masyarakat akibat karhutla. Warga menghadapi antrean dan keterbatasan akses, sementara di sisi lain armada pemadam membutuhkan pasokan bahan bakar untuk terus bergerak.
Karena itu, kebutuhan BBM dalam penanganan karhutla tidak sekadar berkaitan dengan konsumsi kendaraan. Pasokan bahan bakar menjadi bagian dari kesiapan operasi pemadaman di lapangan.








