Suara dentuman keras yang terdengar di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 17.40 WIB, belum terjawab. Sejumlah warga mengaku mendengar suara menyerupai guntur, bahkan ada yang merasakan getaran pada kaca rumah. Rekaman benda bercahaya yang melintas di langit Sampit turut beredar di media sosial.
Hingga Senin (19/10/2026), belum ada kesimpulan resmi yang memastikan sumber suara tersebut. Dugaan meteor menjadi salah satu kemungkinan, tetapi hubungan antara objek yang terekam dan dentuman yang terdengar masih harus dibuktikan melalui data pengamatan dan analisis ilmiah.
Warga Mendengar Dentuman di Empat Kecamatan
Laporan warga menyebut dentuman terdengar di Kecamatan Cempaga Hulu, Telawang, Mentawa Baru Ketapang, dan Baamang. Suaranya digambarkan seperti guntur yang menggelegar selama beberapa detik.
Rudi, salah seorang warga, menggambarkan suara tersebut sebagai sesuatu yang tidak biasa. “Mirip suara guntur, mungkin hujan akan turun,” ujarnya.
Warga lain, Bidara, mengira ada benda yang mengenai atap rumahnya karena merasakan getaran singkat. Pengalaman tersebut menambah pertanyaan mengenai sumber suara yang terdengar hampir bersamaan di sejumlah lokasi.
Di media sosial, warga juga membagikan rekaman yang memperlihatkan objek bercahaya seperti meluncur dari langit.
BMKG Masih Melakukan Penelusuran
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Kotim masih melakukan penelusuran dan analisis. Prakirawan BMKG Kotim, Ibnu Hasan Ali, menyampaikan bahwa belum ada kesimpulan pasti apakah suara tersebut berasal dari meteor, sampah antariksa, atau fenomena lain.
Keterangan itu penting karena kemunculan cahaya di langit dan suara dentuman yang terdengar berdekatan tidak otomatis membuktikan keduanya berasal dari satu peristiwa.
“Untuk memastikan kaitannya, diperlukan kecocokan waktu dan lokasi, arah lintasan objek, serta data pengamatan yang dapat diuji,” terangnya.
Hingga saat ini, belum ditemukan keterangan langsung dari BRIN atau astronom yang secara khusus memastikan penyebab kejadian di Kotim. Dengan demikian, menyebut peristiwa tersebut sebagai jatuhnya meteor atau sampah antariksa masih terlalu dini.
Hujan Meteor Sedang Aktif, tetapi Bukan Bukti Penyebab
Secara astronomis, memang ada dua fenomena yang waktunya berdekatan.
International Meteor Organization mencatat hujan meteor Epsilon Geminid aktif pada 14–27 Oktober 2026, dengan perkiraan puncak pada 18 Oktober. Hujan meteor Orionid aktif sejak 2 Oktober hingga 7 November dan diperkirakan mencapai puncak pada 21 Oktober.
Namun, kesesuaian tanggal hanya menunjukkan bahwa hujan meteor sedang aktif, bukan bahwa peristiwa di Kotim pasti disebabkan olehnya. Penetapan asal objek tetap memerlukan analisis lintasan dan bukti pengamatan.
Dalam kasus berbeda di Gorontalo pada September 2026, Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan kemungkinan meteor besar sebagai penyebab cahaya dan dentuman.
“Penyebab suara dentuman dan cahaya terang adalah meteor besar,” ujarnya dalam penjelasan mengenai kejadian di Gorontalo.
Thomas menerangkan bahwa meteor yang memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi dapat menghasilkan gelombang kejut yang terdengar sebagai dentuman. Penjelasan tersebut memberi konteks ilmiah tentang bagaimana sebuah bolide atau meteor sangat terang dapat menimbulkan suara keras.
Namun, itu merupakan analisis atas kejadian di Gorontalo, bukan konfirmasi mengenai peristiwa di Kotim.
Rekaman Benda Bercahaya di Kalimantan Utara Juga Perlu Diperiksa
Pada 19 Oktober, rekaman benda bercahaya yang disebut terlihat di kawasan Apau Kayan, Long Nawang, hingga Malinau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Laporan itu turut menyinggung dentuman yang terdengar di Kotim dan mempertanyakan kemungkinan hubungan keduanya.
Sampai saat ini, belum ditemukan bukti yang memastikan rekaman di Kalimantan Utara dan dentuman di Kotim merupakan bagian dari peristiwa yang sama. Untuk menghubungkannya, peneliti perlu memeriksa waktu unggahan asli, lokasi saksi, arah gerak objek, serta kecocokan waktu pengamatan dari kedua wilayah.
Tanpa data tersebut, menggabungkan dua laporan menjadi satu kejadian berisiko menyesatkan. Keduanya sebaiknya tetap diperlakukan sebagai laporan terpisah sampai ada hasil analisis yang menghubungkannya.
Bagaimana dengan Operasi Modifikasi Cuaca?
Ada satu konteks lain yang perlu diperiksa. Pada Sabtu malam (17/10/2026), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengumumkan rencana uji coba penggunaan dry ice atau es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. Sasaran awal yang disebut pemerintah adalah membantu memulihkan akses penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
“Operasi dry ice-nya akan dimulai ke arah Palangka Raya untuk membuka dulu Bandara Tjilik Riwut,” kata Raja Juli.
Pengumuman tersebut menjadi konteks yang patut diperiksa, tetapi bukan bukti bahwa operasi itu menyebabkan dentuman di Kotim. Sasaran awal yang disebut adalah Palangka Raya, sedangkan dentuman dilaporkan di sejumlah kecamatan Kotim. Belum ditemukan catatan terbuka yang memastikan waktu pelaksanaan, jalur penerbangan, atau aktivitas operasi udara yang bertepatan dengan dentuman sekitar pukul 17.40 WIB.
Karena itu, BMKG dan instansi pelaksana operasi perlu menjelaskan apakah ada kegiatan modifikasi cuaca atau aktivitas penerbangan terkait di wilayah Kotim pada waktu tersebut. Tanpa kecocokan lokasi dan waktu, menghubungkan suara itu dengan dry ice hanya akan menjadi spekulasi.
Sumber dan data pendukung: BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Kotim; Kementerian Kehutanan RI; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); International Meteor Organization (IMO); data dari lapangan.

![[VIDEO] Dentuman Misterius di Kotim Belum Terjawab, Dugaan Meteor Perlu Bukti](https://lingkarkalteng.com/wp-content/uploads/2026/10/Tangkapan-layar-video-yang-merekam-kemunculan-objek-bercahaya-di-langit-Kabupaten-Kotawaringin-Timur-Kotim-yang-dilaporkan-warga-disertai-suara-dentuman-1600x900.jpg)






