Kalimantan Tengah mencatat 1.035 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence hingga Sabtu, 19 September 2026 pukul 23.59 WIB. Jumlah tersebut meningkat 869 titik dari 166 hotspot pada pemantauan sehari sebelumnya, menjadikan Kalteng sebagai wilayah dengan kenaikan paling signifikan dalam enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat secara nasional terdapat 1.323 hotspot high confidence, naik 777 titik dibandingkan 546 titik pada Jumat, 18 September 2026.
Kementerian Kehutanan kemudian memperkuat pengendalian karhutla di Kalteng melalui operasi darat dan udara. Penanganan meliputi patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan hingga pendinginan dengan melibatkan unsur pemerintah, aparat, masyarakat, dunia usaha dan relawan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan peningkatan hotspot di Kalteng menjadi perhatian dalam penentuan prioritas operasi.
“Peningkatan paling signifikan terjadi di Kalimantan Tengah, sehingga wilayah tersebut menjadi fokus utama penguatan operasi,” ujarnya.
Dukungan operasi udara di wilayah Sumatera dan Kalimantan mencapai 55 unit armada. Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat CASA untuk Operasi Modifikasi Cuaca dan helikopter water bombing. Pengerahannya disesuaikan dengan lokasi kebakaran, perkembangan hotspot, kondisi asap, jarak pandang dan aspek keselamatan penerbangan.
Ristianto mengatakan operasi pengendalian tidak hanya diarahkan pada pemadaman api, tetapi juga penanganan titik yang masih berpotensi menimbulkan kebakaran kembali, terutama pada kawasan gambut.
“Operasi darat, water bombing, patroli udara, pembasahan, dan pendinginan terus dilakukan sesuai kondisi aktual di lapangan,” sebut Ristianto.
Peningkatan jumlah hotspot tetap tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran. Kementerian Kehutanan menjelaskan satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan keberadaan api dan kondisi area yang terdampak.
Di Palangka Raya, dampak asap juga mulai mengganggu aktivitas penerbangan. Pada Sabtu, 19 September 2026, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut turun hingga 350 meter pada pukul 09.30 WIB. Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan mengalami pembatalan dan penundaan.
Jarak pandang di bandara tercatat 1.300 meter pada pukul 05.00 WIB, kemudian turun menjadi 700 meter pada pukul 06.00, 400 meter pada pukul 09.00 dan mencapai 350 meter pada pukul 09.30. Visibility kemudian sedikit membaik menjadi 450 meter pada pukul 11.30 WIB.
Kementerian Kehutanan menyatakan kondisi jarak pandang sangat dinamis karena dipengaruhi konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan serta perkembangan kebakaran. Pemantauan kualitas udara, partikulat, sebaran asap, arah angin dan jarak pandang terus dilakukan bersamaan dengan pemantauan api di lapangan.
“Pemantauan kualitas udara dan jarak pandang perlu dilakukan secara bersamaan dengan penanganan karhutla karena kondisi asap dapat langsung memengaruhi aktivitas masyarakat dan penerbangan,” ujar Sugiyono, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya.
Pemantauan kondisi atmosfer dan sebaran asap menjadi bagian penting dalam menentukan perkembangan dampak karhutla, termasuk terhadap keselamatan penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Hingga Minggu, 20 September 2026, Kementerian Kehutanan masih menyatakan pengendalian karhutla di Kalteng sebagai fokus operasi setelah lonjakan hotspot pada pemantauan sehari sebelumnya.
Sumber: Kementerian Kehutanan; data SiPongi bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20.







