Museum Balanga bukan sekadar tempat menyimpan benda lama. Di balik kaca-kaca ruang pamer, tersimpan potongan kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah. Dari senjata, pakaian, perlengkapan ritual hingga tempayan keramik yang memberi nama museum ini.
Nama “Balanga” berasal dari koleksi guci/tempayan yang menjadi salah satu koleksi unggulan museum. Museum mulai digunakan pada 6 April 1973, sementara bangunan yang menjadi cikal bakalnya sebelumnya merupakan Gedung Monumen Dewan Nasional.
“Balanga”, Guci yang Menjadi Nama Museum
Nama Balanga tidak dipilih secara acak. Ia berasal dari tempayan keramik yang menjadi salah satu artefak penting dalam koleksi museum. Benda ini bukan sekadar wadah, tetapi bagian dari jejak pertukaran budaya dan kehidupan masyarakat di Kalimantan Tengah.
Di Balik Kaca, Kehidupan Dayak Dipamerkan
Museum tidak hanya memamerkan satu jenis benda. Koleksinya mencakup etnografika, historika, arkeologika, keramologika, numismatika/heraldika, biologika, geologika dan klasifikasi lainnya. Data resmi museum saat ini menampilkan 350 koleksi yang sudah terdigitalisasi pada laman Kementerian Kebudayaan, sementara sumber Pemprov mencatat ribuan koleksi museum secara keseluruhan.




Mandau, Duhung dan Ingatan Konflik
Dari benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, koleksi Museum Balanga membawa pengunjung ke sesuatu yang lebih serius: sejarah konflik dan perubahan sosial di Kalimantan Tengah.
Museum diketahui menyimpan sekitar 1.000 senjata sitaan yang digunakan pada konflik etnis di Sampit 2001 sebagai koleksi historika. Sumber resmi Pemprov menyebut koleksi tersebut ditempatkan secara terpisah.


Rumah Betang dalam Skala Kecil
Bukan Hanya balanga, mandau, atau duhung. Di Museum Balanga, masih banyak koleksi yang mengajak pengunjung melihat lebih dekat keseharian masyarakat Dayak. Alat menangkap ikan, perlengkapan bertani, pakaian adat, benda ritual, hingga berbagai artefak lama.
Ada pula koleksi benda alam dan sejarah yang membuat ceritanya makin beragam. Semuanya seperti potongan puzzle yang, ketika disatukan, memberi gambaran tentang kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah dari masa ke masa.
Menariknya, koleksi museum tidak sekadar dipajang. Banyak di antaranya punya cerita tentang fungsi, tradisi, kepercayaan, hingga peristiwa penting yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah.
Lokasinya juga mudah dijangkau, di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5, Palangka Raya. Jadi, saat berada di kota, Museum Balanga bisa menjadi tempat singgah untuk melihat sisi Kalimantan Tengah yang tidak selalu terlihat dari jalanan.












