Air gelap terbentang tenang di bawah dermaga kayu. Perahu bergerak perlahan, menyusuri jalur air yang dikelilingi vegetasi rawa gambut.
Ketika cahaya sore jatuh di permukaan sungai, Kereng Bangkirai memperlihatkan wajah lain dari Palangka Raya. Lebih hening, lebih liar, dan begitu dekat dengan lanskap alam Kalimantan.




Kereng Bangkirai berada di Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kawasan ini dikenal sebagai kawasan wisata sekaligus salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Sebangau, yang memiliki ekosistem hutan tropis rawa gambut dengan keanekaragaman flora dan fauna.
Keunikan yang paling mudah dikenali adalah warna airnya yang gelap. Karakter air hitam tersebut menjadi salah satu identitas utama Kereng Bangkirai sekaligus bagian dari lanskap rawa gambut Sebangau.
Dari Dermaga, Perjalanan Dimulai
Kereng Bangkirai bukan hanya tempat untuk melihat air dari tepian.
Dari dermaga, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menggunakan perahu menuju kawasan Taman Nasional Sebangau. Desa Wisata Kereng Bangkirai menawarkan atraksi susur sungai menggunakan perahu atau pondok terapung dengan fasilitas pendukung seperti tempat makan, toilet, spot foto, dan perlengkapan keselamatan.




Salah satu paket wisata yang tercatat dalam sistem resmi Kementerian Pariwisata membawa wisatawan dari Dermaga Kereng Bangkirai menuju Camp Koran di Taman Nasional Sebangau. Paket tersebut berdurasi satu hari, dengan jadwal yang tercantum mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Rute perjalanan mencakup susur sungai menggunakan perahu dan aktivitas di kawasan taman nasional.
Perjalanan itu memperlihatkan perubahan lanskap secara perlahan. Kawasan dermaga yang lebih terbuka berganti dengan jalur sungai yang semakin dekat dengan vegetasi rawa dan suasana hutan.
Air Hitam yang Menjadi Identitas
Bagi wisatawan, permukaan air yang gelap mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian.
Namun, warna tersebut juga membawa konteks ekologis yang lebih luas.
Desa Wisata Kereng Bangkirai menjelaskan kawasan ini sebagai salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Sebangau, dengan karakter hutan tropis rawa gambut, keanekaragaman hayati, serta keberadaan satwa seperti orangutan liar dan berbagai jenis burung.
Karena itu, pengalaman wisata di Kereng Bangkirai sesungguhnya lebih luas daripada menikmati pemandangan. Di balik air gelap dan jalur kayunya terdapat bentang rawa gambut yang menjadi bagian dari kawasan konservasi Sebangau.



Keberadaan satwa liar menjadi salah satu daya tarik kawasan Sebangau. Namun, pengamatan satwa di alam bersifat tidak pasti dan bergantung pada kondisi perjalanan serta keberadaan satwa di lapangan.
Menikmati Sungai dari Atas Perahu
Salah satu aktivitas yang menjadi identitas Kereng Bangkirai adalah susur sungai.
Data resmi Desa Wisata Kereng Bangkirai mencatat atraksi Pondok Terapung atau Lanting sebagai salah satu produk wisata. Pengunjung dapat menyusuri Sungai Sebangau menggunakan perahu sambil menikmati lanskap alam di sekitarnya.
Tersedia pula paket perjalanan menuju Camp Koran di Taman Nasional Sebangau. Data resmi mencatat perjalanan tersebut dimulai dari Dermaga Kereng Bangkirai dan dilanjutkan dengan perjalanan menyusuri sungai menggunakan perahu.
Bagi fotografer, perjalanan di atas air menghadirkan banyak lapisan visual: pantulan langit, siluet vegetasi, bentuk perahu, jalur kayu, dan aktivitas masyarakat.
Bagi wisatawan biasa, ritmenya justru menjadi bagian dari pengalaman. Perahu bergerak perlahan, sementara lanskap rawa semakin dominan ketika perjalanan menjauh dari kawasan dermaga.
Wisata yang Tumbuh Bersama Masyarakat





Kereng Bangkirai juga berkembang sebagai desa wisata dengan berbagai aktivitas dan produk yang melibatkan masyarakat.
Dalam data resmi Jadesta Kementerian Pariwisata, Desa Wisata Kereng Bangkirai tercatat sebagai 300 Besar ADWI 2024. Profil tersebut juga mencatat fasilitas seperti area parkir, kafetaria, jungle tracking, kamar mandi umum, kios suvenir, kuliner, musala, area swafoto, dan fasilitas wisata lainnya.
Produk wisata yang ditawarkan tidak hanya berkaitan dengan alam. Desa wisata ini juga memiliki produk kerajinan seperti anyaman purun yang dibuat menjadi tikar, topi, tas, sedotan, sandal, hingga kotak tisu.
Selain kerajinan, tercatat pula produk kesenian dan alat musik tradisional Dayak, seperti kacapi, suling bambu, serta atraksi karungut.
Dengan demikian, wisata di Kereng Bangkirai mempertemukan tiga unsur sekaligus. Lanskap alam, pengalaman perjalanan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk rujukan resmi mengenai kawasan, atraksi, fasilitas, produk wisata, dan dokumentasi Desa Wisata Kereng Bangkirai, gunakan profil Jadesta berikut:
Profil Desa Wisata Kereng Bangkirai — Jadesta Kementerian Pariwisata
Waktu Terbaik Melihat Wajah Lain Kereng Bangkirai
Kereng Bangkirai dapat dinikmati sepanjang hari, tetapi karakter visual kawasan berubah mengikuti cahaya.
Pagi menawarkan suasana yang lebih teduh. Ketika matahari mulai rendah menjelang sore, permukaan air dan struktur kayu di kawasan wisata menghasilkan pantulan yang lebih kuat. Bagi fotografer, perubahan cahaya tersebut membuat lanskap Kereng Bangkirai memiliki karakter yang berbeda dari siang hari.

Kereng Bangkirai justru berubah ketika cahaya berubah.
Bukan Sekadar Tempat Berfoto
Popularitas Kereng Bangkirai tidak terlepas dari pemandangan yang mudah dikenali: air gelap, dermaga kayu, gazebo, dan perahu.
Namun, menjadikannya sekadar latar foto berarti melewatkan cerita yang lebih besar.
Kawasan ini merupakan titik pertemuan antara Kota Palangka Raya dengan lanskap Taman Nasional Sebangau. Dari sini, wisatawan dapat bergerak dari ruang wisata yang dikelola masyarakat menuju bentang alam rawa gambut yang lebih luas.
Bagi Palangka Raya, hubungan itu penting.
Kereng Bangkirai tidak hanya menawarkan panorama, tetapi juga memperkenalkan karakter alam Kalimantan Tengah kepada pengunjung yang ingin melihat lebih dekat lanskap rawa gambut dan aktivitas wisata berbasis masyarakat.
Panduan Berkunjung ke Kereng Bangkirai
Lokasi: Kelurahan Kereng Bangkirai RT 02/RW 01, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Aktivitas: susur sungai, wisata perahu, menikmati lanskap air hitam, fotografi, kuliner, jungle tracking, serta perjalanan menuju kawasan Taman Nasional Sebangau.
Paket menuju Camp Koran: data resmi Jadesta mencantumkan perjalanan satu hari, pukul 08.00–16.00 WIB, dengan keberangkatan dari Dermaga Kereng Bangkirai. Harga yang tercantum pada profil paket adalah mulai Rp935.000, tetapi pengelola menyebut harga dapat menyesuaikan jumlah pengunjung dan hari kunjungan.
Atraksi Pondok Terapung/Lanting: data Jadesta mencantumkan harga mulai Rp500.000. Harga tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada pengelola sebelum publikasi atau keberangkatan.
Fasilitas: area parkir, kamar mandi umum, musala, kuliner, kios suvenir, homestay, jungle tracking, area swafoto, dan fasilitas pendukung lainnya tercatat dalam profil resmi desa wisata.
Kontak pengelola yang tercantum pada Jadesta: Desa Wisata Kereng Bangkirai, 0813-4915-2129, dan desawisatakerengbangkirai@gmail.com.



Catatan: tarif, jadwal, kondisi sungai, dan operasional atraksi dapat berubah. Informasi tersebut sebaiknya dikonfirmasi kembali kepada pengelola sebelum perjalanan.
Kereng Bangkirai dan Cerita yang Mengalir dari Air
Daya tarik Kereng Bangkirai bukan hanya terletak pada warna airnya. Ada cerita tentang gambut, hutan, masyarakat, perahu, kerajinan, dan perjalanan yang semuanya bertemu di satu kawasan.
Dari dermaga, perjalanan mungkin dimulai hanya dengan menyusuri air. Namun, semakin jauh perahu bergerak, semakin terlihat bahwa Kereng Bangkirai bukan sekadar destinasi wisata di pinggiran Palangka Raya.
Ia adalah salah satu pintu untuk memahami wajah Kalimantan Tengah yang hidup di antara sungai dan hutan rawa gambut.







