Beranda›Palangka Raya
Palangka Raya

Ribuan Ikan Keramba Mati di Pahandut Seberang

Banyak ikan keramba warga Pahandut Seberang mati ketika debit sungai turun dan kondisi air memburuk. Total kerugian belum terdata.

Ilustrasi/Musim kemarau kembali menjadi ancaman bagi pembudidaya keramba di Palangka Raya. Kematian ikan secara massal menjadi salah satu risiko yang terus membayangi usaha budidaya perairan.

RINGKASAN

  • Banyak ikan keramba warga dilaporkan mati.
  • Satu keramba dapat berisi 3.000–7.000 ekor ikan.
  • Total ikan mati dan nilai kerugian belum dihitung.
Ilustrasi/Musim kemarau kembali menjadi ancaman bagi pembudidaya keramba di Palangka Raya. Kematian ikan secara massal menjadi salah satu risiko yang terus membayangi usaha budidaya perairan. (Mitra Tama/lingkarkalteng.com/CC0)

Kemarau mulai memukul usaha warga di Kelurahan Pahandut Seberang, Kota Palangka Raya. Banyak ikan dalam keramba dilaporkan mati ketika debit sungai menyusut dan kondisi air memburuk.

Dampaknya langsung mengenai warga yang menggantungkan penghasilan dari budidaya ikan. Dalam satu keramba, jumlah ikan dapat mencapai 3.000 hingga 7.000 ekor, sementara jumlah keramba milik seorang warga bisa lebih dari satu.

Lurah Pahandut Seberang Pitriadi mengatakan laporan kematian ikan datang dari warga melalui ketua RT. Menurut dia, perubahan kondisi sungai menjadi persoalan utama yang dirasakan peternak.

“ikan ini banyak mati karena air kurang bagus dan surut,” kata Pitriadi. Kamis (1/10/2026).

Ia menjelaskan, besarnya populasi ikan dalam keramba membuat satu kejadian dapat berdampak besar terhadap usaha warga. Ada warga yang memiliki tiga sampai empat keramba dalam satu lokasi.

“Ada yang misalnya satu tempat punya tiga keramba atau empat keramba. Kalau ditotal akumulasi kematian bisa sampai puluhan ribu ikan,” ujarnya.

Jumlah ikan yang mati belum terdata secara keseluruhan. Pemerintah kelurahan juga belum dapat menghitung nilai kerugian yang dialami seluruh peternak karena data populasi ikan dan harga jual masing-masing belum dikumpulkan.

“kerugian kami belum bisa mentotalkan,” ujar Pitriadi.

Keterangan pemerintah kelurahan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang terjadi bukan sekadar berkurangnya hasil panen. Ketika ikan mati sebelum dijual, warga kehilangan stok sekaligus modal yang sudah dikeluarkan untuk pemeliharaan.

Di sisi warga, persoalan itu memiliki arti yang lebih langsung. Budidaya keramba bergantung pada kondisi sungai sehingga perubahan kualitas maupun debit air tidak mudah dihindari oleh peternak.

“Kalau ikan mati sebelum dipanen, modal yang sudah dikeluarkan ikut hilang karena hasil usaha tidak bisa lagi dijual,” ujar Hairul, salah satu peternak keramba Pahandut Seberang.

Ia mengaku, membutuhkan solusi agar usaha keramba tetap bisa berjalan ketika kondisi air kembali memburuk. “Kami berharap tidak hanya bantuan langsung berupa bansos atau bantuan pangan,” tandasnya.


Sumber: Kelurahan Pahandut Seberang; laporan warga; data kondisi lapangan; data dari lapangan.

Berita Terkait