Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya meminta seluruh kepala sekolah negeri maupun swasta mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) setelah hasil pemantauan menunjukkan penurunan kehadiran siswa. Sekolah diminta memetakan kendala yang dihadapi peserta didik agar kegiatan belajar dari rumah tetap berjalan efektif di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, M Aswan, mengatakan evaluasi diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran terlaksana dan siswa tetap terlibat dalam kegiatan belajar.
“Tingkat kehadiran siswa dalam mengikuti PJJ mengalami penurunan,” kata Aswan pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Evaluasi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP se-Kota Palangka Raya yang berlangsung di SMP Negeri 7 Palangka Raya. Pertemuan itu membahas pelaksanaan pembelajaran selama siswa harus belajar dari rumah akibat kondisi kabut asap.
Menurut Aswan, ada sejumlah kemungkinan yang perlu ditelusuri untuk menjelaskan penurunan partisipasi siswa. Di antaranya beban tugas yang terlalu banyak, kejenuhan mengikuti pembelajaran daring, keterbatasan akses internet, serta kendala perangkat yang digunakan untuk belajar. Faktor-faktor tersebut perlu dipetakan terlebih dahulu agar sekolah dapat menentukan penanganan sesuai kebutuhan setiap peserta didik.
“Sekolah harus mengetahui apa yang menjadi kendala siswa selama mengikuti PJJ,” ujar Aswan.
Ia juga meminta guru menerapkan metode pembelajaran yang lebih bervariasi agar siswa tidak kehilangan minat belajar. Pelaksanaan PJJ, menurutnya, tidak boleh hanya berorientasi pada pemberian tugas, tetapi harus tetap memperhatikan interaksi guru dan siswa, proses penyampaian materi, serta pemahaman peserta didik.
Untuk mendukung proses tersebut, guru didorong menyajikan materi yang mudah diakses, menyusun jadwal pembelajaran secara terkoordinasi, dan memberikan umpan balik terhadap hasil belajar siswa. Sekolah juga diminta menyiapkan alternatif bagi peserta didik yang menghadapi keterbatasan perangkat, jaringan internet, kuota, kondisi kesehatan, maupun persoalan keluarga.
Komunikasi dengan orang tua turut menjadi perhatian. Sekolah perlu memantau perkembangan belajar anak dan membicarakan solusi apabila ditemukan hambatan selama pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, evaluasi tidak berhenti pada pencatatan kehadiran, tetapi juga menyentuh persoalan yang memengaruhi kemampuan siswa mengikuti pelajaran.
PJJ di Palangka Raya diterapkan sebagai langkah perlindungan kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Kebijakan sebelumnya memperpanjang pembelajaran jarak jauh untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP pada 19-21 Oktober 2026. Disdik juga telah menetapkan bahwa pembelajaran tatap muka baru dapat dipertimbangkan kembali setelah kualitas udara membaik secara konsisten selama sedikitnya tiga hari berturut-turut.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, sebelumnya menegaskan, “Pembelajaran tatap muka baru dapat dipertimbangkan kembali setelah kualitas udara membaik dan kondisi tersebut terpantau secara konsisten selama minimal tiga hari berturut-turut,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, tantangan pendidikan bukan hanya memastikan anak-anak terlindungi dari paparan kabut asap, melainkan juga menjaga agar mereka tetap memperoleh layanan belajar yang memadai.
Evaluasi partisipasi siswa menjadi salah satu langkah untuk mengidentifikasi masalah dan memperbaiki pelaksanaan PJJ. Kepala sekolah, guru, orang tua, dan pihak terkait diminta bekerja sama menjaga mutu pembelajaran selama kebijakan belajar dari rumah diterapkan. Hasil pemetaan kendala diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan, sehingga keselamatan siswa tetap terjaga tanpa mengabaikan keberlangsungan pendidikan.








