Beranda›Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah

[VIDEO] Solusi Karhutla Kalteng: ‘Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi’

Pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran tentang karhutla memancing sindiran warganet. Data yang tersedia mencatat 5.848 kejadian, sementara Kotawaringin Timur melaporkan lebih dari 2.135 hektare lahan terbakar hingga 9 Oktober 2026.

[VIDEO] Solusi Karhutla Kalteng: ‘Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Kawin Lagi’

RINGKASAN

  • Pernyataan Agustiar mengenai faktor manusia dalam karhutla dan ungkapan “bercerai kita kawin lagi” menjadi sorotan, disertai komentar warganet yang menyindir cara penyampaiannya.
  • Rekap provinsi per 7 Oktober mencatat 5.848 kejadian karhutla, lebih dari 17.000 hektare lahan terbakar, 13.699 personel gabungan, dan 47 upaya penegakan hukum.
  • Data BPBD Kotawaringin Timur hingga 9 Oktober mencatat 1.366 kejadian dengan luas terbakar lebih dari 2.135 hektare. Rekap provinsi khusus sampai 12 Oktober belum berhasil diverifikasi.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran memberi pernyataan mengenai kebakaran hutan dan lahan yang akhirnya menjadi perbincangan di media sosial. (tangkapan layar/FB: Obie Nesta)

Pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran kembali menjadi bahan gorengan warganet. Potongan ucapannya saat membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu sindiran, terutama setelah muncul ungkapan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”

Polemik tersebut muncul ketika kebakaran lahan dan kabut asap masih menjadi persoalan di Kalimantan Tengah. Di tengah ramainya komentar media sosial, angka kejadian karhutla, luas lahan terbakar, pengerahan personel, dan dampaknya terhadap masyarakat menjadi persoalan yang tidak kalah penting.

Saat menghadiri upacara Hari Jadi ke-67 Kotawaringin Barat pada 6 Oktober 2026, Agustiar menyinggung faktor manusia dalam kebakaran lahan. Ia juga menghubungkan kondisi kering dengan takdir.

“Kalau kering itu memang takdir sudah. Sebenarnya sama saja takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97 persen itu akibat manusianya,” ujar Agustiar.

Angka 97 persen tersebut merupakan klaim yang disampaikan gubernur. Dalam penelusuran data yang tersedia, belum ditemukan rincian metodologi yang dapat digunakan untuk menguji secara independen bagaimana persentase itu dihitung.

Dalam potongan pernyataan yang kemudian menjadi sorotan, Agustiar juga melontarkan kalimat, “Cara mengatasinya dengan melawan. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.”

Dua Komentar Warganet yang Disorot

Reaksi warganet tidak hanya berkaitan dengan substansi pernyataan, tetapi juga cara penyampaiannya.

Salah satu komentar yang dikutip dalam pemberitaan berbunyi, “Chat aja pak, suaranya putus-putus.”

Komentar lainnya bernada lebih personal: “Lulus PAUD langsung jadi gubernur.”

Kedua komentar tersebut memperlihatkan bentuk sindiran yang muncul dalam perbincangan media sosial. Namun, komentar individual tidak dapat dianggap mewakili seluruh pendapat masyarakat Kalimantan Tengah.

Di luar polemik tersebut, persoalan yang dibicarakan tetap menyangkut kebakaran lahan, pencegahan, penegakan hukum, serta perlindungan warga dari dampak asap dan kekeringan.

Data Provinsi Terbaru yang Tersedia

Berdasarkan rekap Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah per 7 Oktober 2026, tercatat 5.848 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 17.000 hektare.

Dalam penanganannya, sebanyak 13.699 personel gabungan telah dikerahkan. Pemerintah juga mencatat 47 upaya penegakan hukum terkait karhutla.

Sementara itu, distribusi air bersih untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan telah mencapai lebih dari 7,02 juta liter hingga 6 Oktober 2026.

Hingga pembaruan redaksi pada 12 Oktober, rekap provinsi terbaru yang berhasil ditelusuri masih menggunakan data per 7 Oktober. Karena itu, angka 5.848 kejadian tersebut tidak dapat disebut sebagai total kejadian khusus sampai 12 Oktober.

Kotawaringin Timur Mencatat Lebih dari 2.135 Hektare Terbakar

Data di tingkat kabupaten memperlihatkan bahwa persoalan karhutla masih membutuhkan penanganan serius.

Berdasarkan data BPBD Kotawaringin Timur, sejak Januari hingga 9 Oktober 2026 tercatat 1.366 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar lebih dari 2.135 hektare.

Kecamatan Seranau mencatat luasan terbakar terbesar, mencapai 884 hektare. Berikutnya, Mentawa Baru Ketapang dengan 457 hektare dan Baamang sebanyak 419 hektare.

Pada periode yang sama, akumulasi titik panas di Kotawaringin Timur mencapai 43.579 titik. Angka titik panas merupakan indikator yang berbeda dari jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan terbakar sehingga tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

Dalam koordinasi penanganan karhutla di Kotawaringin Timur pada 9 Oktober, Agustiar menyatakan pemerintah provinsi siap membantu kebutuhan peralatan dan sarana pemadaman, termasuk sumur bor, selang, serta mesin pompa air.

“Kekurangan-kekurangan yang bisa kami bantu akan diupayakan,” ujarnya.

Agustiar juga menyebut hasil pengecekan rumah sakit menunjukkan kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) diperkirakan sekitar 30–40 persen dibandingkan hari biasa. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan kasus tersebut tidak otomatis seluruhnya disebabkan karhutla karena kondisi pancaroba juga dapat memengaruhi gangguan pernapasan.

Polemik dan Ukuran Penanganan

Pernyataan gubernur dan respons warganet merupakan bagian dari perbincangan publik. Namun, di tengah kebakaran yang masih berlangsung, ukuran penanganan yang lebih mendasar adalah perkembangan luas lahan terbakar, kecepatan pemadaman, keterbukaan data, tindak lanjut penegakan hukum, serta perlindungan kesehatan masyarakat.

Pembaruan data provinsi juga penting agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan situasi secara terukur, bukan hanya mengandalkan angka yang beredar beberapa hari sebelumnya.

Dengan demikian, perbincangan mengenai ungkapan Agustiar perlu ditempatkan berdampingan dengan persoalan yang lebih luas; seberapa efektif upaya pengendalian karhutla, bagaimana dampaknya terhadap warga, dan sejauh mana perkembangan penanganannya dapat diperiksa publik.


Sumber:

  • Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalimantan Tengah – rekap per 7 Oktober 2026.
  • BPBD Kotawaringin Timur – rekap kejadian karhutla periode 1 Januari-9 Oktober 2026.
  • Pernyataan Agustiar Sabran dalam kegiatan Hari Jadi ke-67 Kotawaringin Barat dan koordinasi penanganan karhutla di Kotawaringin Timur.
  • Dokumentasi kondisi kabut asap bertanggal 12 Oktober 2026.
  • Data dari lapangan.

Berita Terkait