Beranda›Politik
Politik

Gerindra Melejit, Ungguli PDIP dan Golkar di Survei Poltracking

Ilustrasi/diolah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

RINGKASAN

  • Partai Gerindra menempati posisi teratas dalam survei elektabilitas partai politik Poltracking Indonesia, mengungguli PDI Perjuangan dan Partai Golkar yang pada Pemilu Legislatif 2024 justru meraih suara nasional lebih
  • “Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibanding partai-partai lain,” kata Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro saat memaparkan hasil survei, Rabu, 23 September 2026.
  • Dari sisi perolehan kursi DPR RI, PDI Perjuangan memperoleh 110 kursi, Golkar 102 kursi dan Gerindra 86 kursi pada periode hasil Pemilu 2024.
Ilustrasi/diolah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). (Mahesa Raka Yudhistira/lingkarkalteng.com/CC0)

Partai Gerindra menempati posisi teratas dalam survei elektabilitas partai politik Poltracking Indonesia, mengungguli PDI Perjuangan dan Partai Golkar yang pada Pemilu Legislatif 2024 justru meraih suara nasional lebih tinggi daripada Gerindra.

Dalam survei bertajuk Membaca Peta Elektoral dan Dinamika Partai Politik itu, Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen. PDI Perjuangan berada di angka 11,6 persen, sedangkan Golkar 10,4 persen. Pengumpulan data dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka di 38 provinsi. Poltracking mencatat sampel 1.220 responden, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pengukuran dilakukan melalui simulasi bilik suara dengan pertanyaan mengenai partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih responden apabila pemilu dilaksanakan saat survei berlangsung.

“Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibanding partai-partai lain,” kata Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro saat memaparkan hasil survei, Rabu, 23 September 2026.

Hasil tersebut memperlihatkan selisih 11,6 poin persentase antara Gerindra dan PDI Perjuangan, serta 12,8 poin persentase dengan Golkar. Di bawah tiga partai tersebut, PKB memperoleh 6,2 persen dan Demokrat 6,1 persen. NasDem mencatat 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen dan PPP 1,9 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 25,3 persen.

Posisi Gerindra dalam survei ini berbeda dengan peta suara pada Pemilu Legislatif 2024. Berdasarkan penetapan hasil KPU, PDI Perjuangan menjadi partai dengan perolehan suara terbanyak, yakni 25.387.279 suara atau 16,72 persen. Golkar berada di posisi berikutnya dengan 23.208.654 suara atau 15,29 persen, sementara Gerindra memperoleh 20.071.708 suara atau 13,22 persen.

Dari sisi perolehan kursi DPR RI, PDI Perjuangan memperoleh 110 kursi, Golkar 102 kursi dan Gerindra 86 kursi pada periode hasil Pemilu 2024. Dengan demikian, angka survei Agustus 2026 merupakan potret preferensi politik pada saat pengambilan data dan tidak dapat diperlakukan sebagai hasil pemilu.

Perubahan posisi tersebut tidak hanya terlihat pada simulasi pilihan partai. Survei yang sama menemukan hubungan publik dengan partai politik masih relatif berjarak. Sebanyak 49,7 persen responden menyatakan masih percaya kepada partai politik, sedangkan 37,1 persen menyatakan tidak percaya. Hanya 12,3 persen yang merasa dekat atau menjadi bagian dari partai politik, sementara 66,8 persen menyatakan tidak dekat dan bukan bagian dari partai politik.

Temuan lain menunjukkan preferensi pemilih lebih banyak diarahkan kepada figur calon legislatif dibandingkan identitas partai. Sebanyak 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih caleg, sedangkan 24,7 persen memilih berdasarkan partai politik.

Kondisi tersebut menjadi konteks penting dalam membaca angka elektabilitas karena survei tidak hanya mengukur kekuatan merek partai, tetapi juga memperlihatkan jarak antara partai dan pemilih serta kuatnya peran figur dalam pilihan elektoral.

Pada isu ambang batas parlemen, hanya 17,7 persen responden yang mengetahui ketentuan parliamentary threshold 4 persen. Dari kelompok yang mengetahui ketentuan tersebut, 49 persen memilih agar ambang batas tetap berada pada angka 4 persen.

Poltracking menyatakan hasil survei merupakan potret kondisi elektoral pada periode pengumpulan data dan masih dapat berubah mengikuti perkembangan isu serta strategi masing-masing partai politik.


Sumber: Poltracking Indonesia; KPU RI; penetapan hasil Pemilu Legislatif 2024.

Berita Terkait