Beranda›Ekonomi
Ekonomi

22.250 Pekerja Berkurang, Pasar Kerja Kalteng Kian Tertekan

BPS mencatat pekerja Kalimantan Tengah turun 22.250 orang. TPAK melemah, pekerja informal dominan, dan TPT naik menjadi 4,01 persen.

22.250 Pekerja Berkurang, Pasar Kerja Kalteng Kian Tertekan

RINGKASAN

  • Jumlah pekerja menyusut: Penduduk bekerja berkurang 22.250 orang menjadi sekitar 1,40 juta orang dibandingkan Agustus 2025.
  • Partisipasi kerja melemah: TPAK turun menjadi 66,45 persen. Pekerja informal mendominasi dengan proporsi 50,62 persen.
  • Lulusan SMK paling rentan: TPT lulusan SMK mencapai 6,41 persen, sedangkan Pemprov menyiapkan 8.000 lowongan melalui job fair Desember 2026.
Ilustrasi: Sejumlah pencari kerja mengunjungi stan perusahaan peserta job fair untuk memperoleh informasi lowongan dan peluang kerja.

Partisipasi Angkatan Kerja Ikut Melemah, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2026, jumlah angkatan kerja Kalteng mencapai 1,45 juta orang. Angka ini turun 22.580 orang dibandingkan Agustus 2025.

Sementara itu, jumlah penduduk usia kerja justru bertambah 29.580 orang menjadi 2,19 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 734.120 orang masuk kategori bukan angkatan kerja.

Kondisi tersebut tercermin dalam Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang turun dari sekitar 68,41 persen menjadi 66,45 persen. Artinya, proporsi penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi semakin kecil.

Penurunan partisipasi terlihat lebih besar pada perempuan. TPAK perempuan mencapai 47,84 persen, turun 2,50 poin persentase dibandingkan Agustus 2025. Sementara TPAK laki-laki sebesar 83,88 persen, turun 1,38 poin persentase.

Perdagangan Kehilangan Pekerja Terbanyak

Perubahan penyerapan tenaga kerja terjadi tidak merata antarsektor. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan sekitar 460 ribu pekerja atau 32,96 persen dari total penduduk bekerja.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Toto Haryanto Silitonga mengatakan, perdagangan justru mengalami pengurangan pekerja terbesar dibandingkan Agustus 2025, yakni 17.800 orang. Perdagangan Besar dan Eceran menempati urutan kedua dengan kontribusi 15,47 persen, disusul Pertambangan dan Penggalian sebesar 11,17 persen.

“Sebaliknya, sektor Perdagangan Besar dan Eceran mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar, yakni 17,80 ribu orang,” ujar Haryanto pada Jumat, 6 November 2026.

Penurunan juga terjadi pada kelompok Jasa Keuangan, Aktivitas Profesional, dan Real Estat sebanyak 11.060 pekerja serta Industri Pengolahan sebanyak 8.250 pekerja.

Di tengah penurunan itu, sektor Transportasi, Informasi, dan Komunikasi mencatat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni 11.830 orang. Aktivitas Jasa Lainnya bertambah 7.050 orang, sedangkan Pertambangan dan Penggalian bertambah 4.310 orang.

Pekerja Informal Lebih Banyak daripada Pekerja Formal

Persoalan lain terlihat dari status pekerjaan masyarakat. Pada Agustus 2026, pekerja informal mencapai 706.340 orang atau 50,62 persen. Sementara pekerja formal tercatat 689.090 orang atau 49,38 persen.

Dibandingkan Agustus 2025, pekerja formal berkurang 17.690 orang. Pekerja informal juga berkurang 4.560 orang. Namun, proporsi informal justru meningkat 0,47 poin persentase. Sebaliknya, porsi pekerja formal menurun dengan besaran yang sama.

Artinya, penurunan jumlah pekerja tidak hanya terjadi pada satu kelompok pekerjaan. Akan tetapi, penyusutan pada pekerjaan formal lebih besar sehingga komposisi pekerja semakin didominasi sektor informal.

Dari sisi jam kerja, terdapat sekitar 971.060 pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Jumlah pekerja tidak penuh mencapai 424.380 orang atau 30,41 persen dari penduduk bekerja.

“Kelompok pekerja tidak penuh tersebut terdiri atas setengah penganggur sebesar 6,07 persen dan pekerja paruh waktu sebesar 24,34 persen,” beber Haryanto.

Setengah penganggur merupakan orang yang sudah bekerja tetapi jam kerjanya belum mencukupi dan masih menginginkan atau tersedia untuk menambah jam kerja. Dengan demikian, persoalan ketenagakerjaan tidak berhenti pada tersedianya pekerjaan, tetapi juga menyangkut kecukupan jam kerja.

Lulusan SMK dan Perempuan Menghadapi Tantangan Lebih Besar

Data BPS juga memperlihatkan perbedaan tingkat pengangguran menurut pendidikan, jenis kelamin, dan wilayah. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 6,41 persen, tertinggi dibandingkan kelompok pendidikan lainnya. Angka ini meningkat 1,90 poin persentase dibandingkan Agustus 2025.

TPT lulusan SMA sebesar 5,65 persen, SMP 3,64 persen, Diploma IV hingga S3 sebesar 3,44 persen, Diploma I/II/III sebesar 2,88 persen, serta SD ke bawah sebesar 2,49 persen.

“Berdasarkan jenis kelamin, TPT perempuan mencapai 5,13 persen, lebih tinggi daripada laki-laki sebesar 3,41 persen,” terangnya.

Sementara berdasarkan wilayah, TPT perkotaan mencapai 4,60 persen dan perdesaan 3,40 persen. Pada tingkat kabupaten/kota, Palangka Raya mencatat TPT tertinggi sebesar 4,84 persen, sedangkan Pulang Pisau terendah sebesar 2,30 persen.

Data tersebut menjadi catatan penting bagi program pendidikan vokasi dan pelatihan kerja. Tingginya TPT lulusan SMK perlu diikuti evaluasi kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.

Job Fair 8.000 Lowongan Menjadi Ujian Berikutnya

Di tengah gambaran pasar kerja tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyiapkan Huma Betang Job Fair 2026.

Berdasarkan perkembangan yang diumumkan pada 5 November 2026, kegiatan tersebut menargetkan sekitar 8.000 lowongan pekerjaan. Sebanyak 48 perusahaan telah mendaftarkan diri untuk berpartisipasi.

Job fair dijadwalkan berlangsung pada 9-13 Desember 2026 di GOR Serbaguna Indoor, Jalan Tjilik Riwut Km 5, Palangka Raya. Perusahaan peserta berasal dari sektor perkebunan, pertambangan, jasa keuangan, kelistrikan, perdagangan, dan bidang usaha lainnya.

Ukuran keberhasilannya nanti bukan hanya jumlah perusahaan dan lowongan yang diumumkan, melainkan berapa banyak warga Kalteng yang benar-benar diterima, berapa yang memperoleh pekerjaan formal, serta bagaimana kesesuaian upah dan kompetensinya.

Dengan jumlah penduduk bekerja yang menyusut dan partisipasi angkatan kerja yang melemah, penyerapan tenaga kerja perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan dunia usaha.

Pekerjaan rumah Kalteng bukan sekadar menyediakan lowongan, tetapi memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar membuka pekerjaan yang dapat diakses dan dipertahankan oleh masyarakat lokal.

LINIMASA KETENAGAKERJAAN

Perkembangan Data dan Agenda Ketenagakerjaan Kalteng

Urutan periode pendataan, pengumuman, rilis BPS, dan agenda Huma Betang Job Fair 2026.

Tanggal atau Periode Agenda atau Peristiwa Perkembangan atau Keterangan
Agustus 2025 Periode pembanding Data ketenagakerjaan
Agustus 2026 Periode pendataan Sakernas terbaru
4 November 2026 Pengumuman Pemprov Target 8.000 lowongan dan 48 perusahaan terdaftar
5 November 2026 Rilis BPS Kalteng Kondisi ketenagakerjaan Agustus 2026
6 November 2026 Perhatian publik Data penurunan pekerja dan kenaikan TPT menjadi perhatian publik
9–13 Desember 2026 Huma Betang Job Fair 2026 Jadwal pelaksanaan
RUANG DISKUSI

Suara Pembaca 0

Pendapat pembaca menjadi bagian dari percakapan publik yang sehat dan berbasis informasi.

Belum ada tanggapan. Jadilah pembaca pertama yang memulai percakapan.

Tulis tanggapan

Tanpa akun dan tanpa alamat email. Cukup isi nama dan tanggapan Anda. Kiriman akan ditinjau redaksi sebelum tampil untuk publik.

Sampaikan pendapat dengan santun, fokus pada isi berita, dan jangan memuat fitnah, ujaran kebencian, atau data pribadi.

Berita Terkait