Peta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan sebaran dampak yang tidak merata. Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat luas lahan terbakar terbesar, Kabupaten Pulang Pisau memiliki titik panas terbanyak, sedangkan Kota Palangka Raya mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tertinggi.
Data Kalteng Dalam Angka (KDA) Lingkar Kalteng memperlihatkan tiga indikator tersebut tidak terkonsentrasi pada satu wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak cukup dibaca hanya melalui jumlah hotspot atau luas lahan yang terbakar.
Secara kumulatif, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 20.699 hektare lahan terbakar dan 371.692 titik panas sejak 1 Januari hingga 28 Oktober 2026. Data tersebut dihimpun berdasarkan laporan satuan tugas kabupaten dan kota.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng, Ahmad Toyib, juga melaporkan 7.634 kejadian karhutla dalam periode tersebut.
Kotim mencatat luas terbakar terbesar
Dalam rekapitulasi regional per 21 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB, Kotawaringin Timur (Kotim) menempati urutan pertama luas lahan terbakar dengan 3.397 hektare.
Pulang Pisau berada di urutan kedua dengan 3.084 hektare, disusul Kotawaringin Barat 2.626 hektare, Seruyan 2.051 hektare, dan Kapuas 1.923 hektare.
Sementara itu, Pulang Pisau justru menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 62.289 titik. Kotim berada di urutan berikutnya dengan 49.906 titik, kemudian Kapuas 48.347 titik dan Seruyan 40.415 titik.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa jumlah hotspot tidak otomatis menggambarkan luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang memerlukan pemeriksaan lapangan, bukan hitungan langsung jumlah kebakaran.
Dalam keterangan BPB-PK pada Oktober, Ahmad Toyib mengatakan, “Kami terus mengoptimalkan pengerahan seluruh personel gabungan dan armada pemadam.”
Ia juga menekankan, “Sinergi antara Satgas, instansi terkait, dan masyarakat sangat krusial.”
Pemerintah provinsi mencatat 16.478 personel dari berbagai unsur terlibat dalam penanganan karhutla hingga 28 Oktober. Mereka berasal dari BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan unsur masyarakat lainnya.
Palangka Raya tertinggi dalam catatan ISPA
Persoalan lain terlihat pada indikator kesehatan.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah untuk periode Januari–Agustus 2026 mencatat 77.760 kasus ISPA di 14 kabupaten/kota. Palangka Raya menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 17.061 kasus.
Kotawaringin Barat berada di urutan kedua dengan 13.125 kasus. Berikutnya Kapuas 8.578 kasus dan Kotawaringin Timur 8.462 kasus.
Pada tingkat provinsi, akumulasi kasus ISPA kemudian mencapai 121.220 kasus hingga minggu ketiga Oktober 2026. Dalam pekan tersebut saja tercatat 5.916 kasus baru.
Angka ini menunjukkan beban kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian, meskipun kasus ISPA yang tercatat tidak dapat otomatis seluruhnya dikategorikan sebagai akibat paparan asap karhutla.
Pelaksana Harian Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kalteng, Yaesarwawan, sebelumnya menjelaskan hubungan antara kualitas udara dan peningkatan kasus ISPA.
“Ada korelasi kuat penyakit ISPA dengan kualitas udara yang buruk,” ujarnya ketika menjelaskan lonjakan kasus pada September.
Ia juga mengingatkan kebiasaan masyarakat menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala gangguan pernapasan.
“Batuk, sesak tiga hari dibiarkan,” kata Yaesarwawan.
Data BPB-PK pada minggu ketiga Oktober juga mencatat 223 sekolah di kabupaten/kota menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pemerintah turut menyediakan 169 lokasi Rumah Oksigen untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan awal gangguan pernapasan.
Hotspot turun, pemadaman belum selesai
Perkembangan terbaru menunjukkan penurunan deteksi hotspot satelit tidak serta-merta mengakhiri ancaman kebakaran.
Kementerian Kehutanan melaporkan Kalimantan Tengah nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) dalam pemantauan SiPongi hingga 6 November 2026 pukul 21.00 WIB.
Namun, laporan operasi pada 6 November masih menemukan kepulan asap di Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau. Kebakaran di Jabiren juga belum sepenuhnya padam, termasuk pada lahan gambut dengan tipe kebakaran permukaan dan bawah.
Pemadaman masih dilanjutkan di Jalan Tabengan, Kelurahan Kalampangan, serta Jalan Trans Harawung, Kelurahan Habaring Hurung, Kota Palangka Raya.
Kondisi tersebut menegaskan bahwa angka hotspot harus dibaca bersama laporan penanganan lapangan. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun tidak lagi terdeteksi satelit.
BMKG Kalteng sebelumnya juga mengingatkan bahwa awal musim hujan berlangsung bertahap dan tidak merata. Peningkatan curah hujan pada November belum berarti seluruh wilayah terbebas dari risiko kebakaran.
Data menunjukkan persoalan yang berbeda di setiap wilayah
Pemetaan tiga indikator dalam Kalteng Dalam Angka memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak memiliki satu pusat dampak.
Kotim menjadi wilayah dengan luas terbakar terbesar, Pulang Pisau memiliki konsentrasi hotspot tertinggi, sementara Palangka Raya mencatat kasus ISPA terbanyak dalam data regional Januari–Agustus.
Karena itu, keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari penurunan hotspot. Pemerintah juga perlu memastikan api dan bara benar-benar padam, luas kebakaran tidak bertambah, serta perlindungan kesehatan masyarakat berjalan.
Data tersebut menjadi dasar untuk membaca perkembangan karhutla sekaligus mengevaluasi penanganannya di seluruh kabupaten dan kota Kalimantan Tengah.
Sebaran Luas Kebakaran, Hotspot, dan Kasus ISPA di Kalimantan Tengah
| Kabupaten/Kota | Luas Terbakar (ha) / Hotspot | Kasus ISPA |
|---|---|---|
| Kotawaringin Timur | 3.397 ha / 49.906 | 8.462 |
| Pulang Pisau | 3.084 ha / 62.289 | 1.286 |
| Kotawaringin Barat | 2.626 ha / 29.563 | 13.125 |
| Seruyan | 2.051 ha / 40.415 | 1.410 |
| Kapuas | 1.923 ha / 48.347 | 8.578 |
| Barito Selatan | 1.440 ha / 10.012 | 5.751 |
| Palangka Raya | 1.274 ha / 30.868 | 17.061 |
| Barito Timur | 1.249 ha / 1.730 | 5.636 |
| Sukamara | 763,2 ha / 11.150 | 641 |
| Gunung Mas | 515,3 ha / 6.767 | 2.539 |
| Katingan | 478,9 ha / 31.810 | 1.845 |
| Lamandau | 408,6 ha / 8.819 | 2.378 |
| Barito Utara | 354,7 ha / 1.192 | 5.335 |
| Murung Raya | 217,3 ha / 1.385 | 3.713 |
Keterangan periode:
- Luas terbakar dan hotspot: kumulatif 1 Januari–21 Oktober 2026, pukul 18.00 WIB.
- Kasus ISPA kabupaten/kota: kumulatif Januari–Agustus 2026.
- Total provinsi terbaru: luas terbakar 20.699 hektare dan 371.692 hotspot hingga 28 Oktober 2026.
- Total ISPA provinsi: 121.220 kasus hingga minggu ketiga Oktober 2026.
Sumber: BPBD Provinsi Kalimantan Tengah; Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah; Kementerian Kehutanan; data dari lapangan.








Suara Pembaca 0
Pendapat pembaca menjadi bagian dari percakapan publik yang sehat dan berbasis informasi.