Persatuan tidak cukup diucapkan dalam upacara. Ia juga perlu terlihat dalam tindakan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat yang berbeda keyakinan bekerja bersama untuk menjaga ruang publik.
Pesan itu menjadi salah satu inti rencana Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kota Palangka Raya dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu, 28 Oktober 2026. Organisasi tersebut merencanakan upacara singkat dan bakti sosial berupa pembersihan tempat pemakaman umum (TPU) Kristen dan TPU Muslim di wilayah Kota Palangka Raya.
Ketua MPC Pemuda Pancasila Kota Palangka Raya, Bush Valentino Lambung, menegaskan pesan utama di balik rencana tersebut bahwa toleransi bukan hanya soal menghormati perbedaan, melainkan juga kesediaan bekerja bersama tanpa menjadikan perbedaan sebagai penghalang.
“Kegiatan dirancang mencakup pembersihan rumput liar, pengumpulan sampah, pembersihan akses jalan dan saluran air, hingga pengangkutan sampah ke tempat pembuangan yang telah ditentukan,” terang Bush pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Rencana itu tertuang dalam surat instruksi MPC Pemuda Pancasila Kota Palangka Raya tertanggal 22 Oktober 2026. Surat yang ditujukan kepada jajaran pengurus dan kader tersebut mengarahkan persiapan personel, koordinasi dengan pengelola TPU, serta penyediaan perlengkapan kerja bakti.
“Peringatan Sumpah Pemuda jangan berhenti pada seremoni. Semangat persatuan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk menjaga lingkungan dan menghormati sesama tanpa membedakan latar belakang keyakinan,” sebutnya.
Surat instruksi itu juga menekankan pentingnya sikap beradab, toleransi, gotong royong, keselamatan, dan penghormatan terhadap kesucian tempat pemakaman.
“Untuk jam pelaksanaan secara pasti, nanti kita koordinasikan lagi. Sementara lokasi TPU akan disesuaikan dengan hasil koordinasi bersama pengelola setempat,” sebutnya.
Bagi penyelenggara, tantangannya bukan sekadar menggelar kegiatan pada tanggal peringatan nasional. Yang lebih penting ialah memastikan semangat persatuan benar-benar hadir dalam kerja yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Nilai kebangsaan akan lebih bermakna ketika tidak hanya terdengar dalam pidato, tetapi juga terlihat dalam cara masyarakat saling menghormati dan bekerja bersama,” pungkasnya.








